
BencoolenTimes.com – Anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Bengkulu, Apt. Destita Khairilisani, S.Farm, MSM, meminta Kementerian Kebudayaan RI untuk memberikan perhatian lebih kepada para seniman di daerah, khususnya di Provinsi Bengkulu.
Permintaan itu disampaikannya dalam Rapat Kerja Komite III DPD RI bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Gedung DPD RI, Jakarta, Rabu kemarin, 7 Mei 2025.
”Kami di Bengkulu memiliki banyak seniman dan budayawan yang aktif, tetapi mereka masih minim dukungan. Yang mereka butuhkan adalah ruang dan fasilitasi agar bisa terus berkarya dan mempertahankan budaya lokal,” sampai Destita.
Destita mengapresiasi sejumlah program kementerian seperti dana abadi kebudayaan, revitalisasi taman budaya, dan kegiatan seni nasional. Namun, ia menekankan pentingnya memastikan bahwa komunitas seni dari daerah juga mendapat akses yang adil terhadap program-program tersebut.
”Kami memiliki Taman Budaya yang cukup terjaga oleh pemerintah daerah, namun perlu dukungan lebih dari pusat agar bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku seni. Kami harap ada perhatian lebih dari kementerian,” kata Desita.
Destita juga mengusulkan agar seniman Bengkulu dapat berpartisipasi dalam Pekan Kebudayaan Nasional serta berbagai agenda di Galeri Nasional Indonesia. Menurutnya, pelibatan aktif seniman daerah penting agar kekayaan budaya Indonesia tidak hanya tersentralisasi di ibu kota.
”Seniman kami siap tampil. Kalau diberikan kesempatan dan dukungan, saya yakin karya mereka bisa dikenal secara nasional, bahkan internasional,” usul Destita.
Aspirasi tersebut dipertegas seniman Bengkulu yang memantau dan menanggapi melalui kolom komentar dalam live rapat kerja DPD RI. Doni Oktavianto misalnya, yang meminta dukungannya atas keterbatasan anggaran pelaku seni di daerah untuk mengadakan Festival.
”Kami mohon dukungannya agar anak-anak seniman ini hidup bakatnya bisa tersalurkan melalui lomba musik dan Tari. Bakat anak-anak nyo padek tapi keterbatasan biaya,” tulis Doni.
Rendy Kurniawan pun juga ikut berkomentar. ”Yang kami terkendala Bu ketika kami, mendapat undangan dari festival internasional kami selalu terkendala dengan biaya perjalanan untuk memperkenalkan karya dan musik dhol ethnic Bengkulu,” tulis Rendy. (JUL/RLS)





