COME ON LIVERPOOL

Oleh:

Zacky Antony

 

PENANTIAN panjang 30 tahun segera berakhir. Tahun ini. Kesebelasan yang menanti adalah Liverpool. Klub yang berdiri tahun 1892. Dilihat dari sejarah, usia klub ini 53 tahun lebih tua dari Negara Indonesia. Patut dicatat pula, saat Indonesia masih dijajah Belanda dan Bung Karno baru lahir tahun 1901, Liverpool sudah meraih gelar juara Liga Inggris pertama kali. Musim pertama Liga Inggris dimulai tahun 1888.

Cerita Liverpool adalah cerita kebesaran dan kejayaan. Liverpool adalah klub Inggris paling cemerlang di Eropa. Besar bukan hanya dari segi sejarah, tapi juga prestasi. Liverpool adalah salah satu klub tertua dalam jajaran sepakbola Inggris. Sekarang usianya sudah 128 tahun. Lebih tua dari AC Milan dan Barcelona (sama-sama berdiri 1899) atau Real Madrid (berdiri 1902). Liverpool hanya kalah tua dari MU (1878), Arsenal (1886) dan Manchester City (1880).

Dari segi prestasi, Liverpool adalah salah satu raja Eropa. Tujuh kali meraih trophy si kuping besar Liga Champion. Hanya kalah dari Real Madrid (13 kali) dan AC Milan (7 kali). Serta 18 kali juara Liga Inggris. Hanya kalah 2 trophy dari MU yang 20 kali juara Liga Inggris. Namun gap tersebut bakal tinggal 1 trophy saja jika Liverpool menjadi juara musim ini. Hanya soal waktu saja.

Kalkulasinya sederhana. Pertandingan memang masih menyisakan 14 laga lagi. Namun keunggulan 19 poin di klasemen sementara Liga Premier Inggris membuat Liverpool semakin sulit dikejar. Menyusul kemenangan atas West Ham United, Kamis (30/1) dinihari kemarin, Liverpool mengumpulkan 70 poin dari 24 laga. Pesaing terdekat yang juga juara musim lalu Manchester City baru mengumpulkan 51 poin. Disusul Leicester City di peringkat ketiga dengan 48 poin. Jumlah laga yang dimainkan sama; 24.

Para penggemar Liverpool di seluruh dunia yang angkanya mencapai ratusan juta bisa berpesta di akhir musim. Pesta juara bahkan bisa lebih cepat di akhir Maret andai Liverpool memetik 8 kemenangan lagi. Dengan tambahan 8 kemenangan, poin Liverpool menjadi 94. Jumlah itu sudah tidak mungkin lagi terkejar oleh City. Katakanlah City menyapu habis kemenangan 14 laga sisa, poin maksimal yang bisa diraup City hanya 93. Pelatih City, Pep Guardiola sudah lempar handuk. Mantan pelatih Barca itu bahkan memprediksi Liverpool akan memecahkan rekor baru tembus di atas 100 poin.

Capaian memuncaki klasemen hingga akhir Januari 2020, dilengkapi Salah dkk dengan produktifitas gol. Liverpool tercatat surplus 41 gol (56 memasukkan berbanding 15 kebobolan), paling banyak dibanding tim lain. Manchester City surplus 38 gol (65-27). Leicerster City surplus 28 gol (52-24). Tim-tim lain yang biasa masuk big-four jauh ketinggalan. Sebut saja Manchester United misalnya, cuma surplus 7 gol (36-29). Ini mengantarkan Iblis Merah terpuruk di peringkat 5 klasemen sementara dengan 34 poin.

Arsenal lebih memprihatinkan lagi. Tim yang bermarkas di Kota London ini cuma mencetak 32 gol dan kebobolan 34 gol alias minus 2 gol. The Gunners terlempar ke peringkat 10 dengan hanya meraup 30 poin. Ini musim yang paling pahit bagi Arsenal sejak ditinggalkan Arsene Wenger. Penampilan buruk Arsenal sejak awal musim telah berujung pemecatan Unai Emery sebagai manager. Mikel Arteta yang ditunjuk sebagai pengganti masih perlu waktu untuk membawa Ozil dan kawan-kawan ke jalur juara atau setidaknya masuk zona empat besar sebagai syarat tampil di Liga Champion musim berikutnya.

Bila juara musim ini, Liverpool akan menyudahi puasa gelar Liga Inggris selama tiga dasawarsa. Terakhir kali Liverpool juara Liga Inggris musim 1989/1990. Kehadiran Jurgen Klopp membawa aura positif bagi Liverpool. Musim lalu Klopp membawa Liverpool juara Liga Champion setelah menghempaskan Tottenham Hotspur 2-0 di babak final. Itu gelar Liga Champion ke-6 bagi Liverpool.

Tigapuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang waktu tersebut, fans Liverpool dengan gundah hati menyaksikan para rival silih berganti mengangkat trophy Liga Inggris. Mulai MU, Arsenal, Chelsea, Manchester City hingga tim medioker Leicester City.

Puluhan tahun hampa gelar liga tak membuat fans Liverpool berpaling. Mereka seolah ingin mengajarkan arti sebuah kesetiaan. Mengusung slogan The Red; You’ll Never Walk Alone. Saat klub terpuruk, supporter menjadi kawan setia memberi dukungan. Stadion Anfield tetap penuh dengan gemuruh suara supporter. Bagi penggemar Liverpool, klub adalah rumah kedua yang harus tetap hidup. Bagi yang biasa nonton Liga Inggris, mungkin pernah menyaksikan bagaimana supporter sampai meneteskan air mata manakala timnya kalah. Menangis dan tertawa adalah bagian dari fans Liverpool.

Saat Liverpool kalah atau gagal juara mereka terluka. Sedih dan pedih. Gundah gulana sampai tak bisa tidur. Itu terjadi ketika musim lalu Liverpool harus puas menjadi runner up Liga Inggris. Kalah hanya selisih 1 poin saja dengan Manchester City yang menjadi juara back to back. City meraup 98 poin. Liverpool 97 poin.

Bagi fans Liverpool. Kalah 1 poin tentu sangat menyesakkan untuk sebuah kompetisi yang begitu panjang. Hanya saja, kesedihan itu mampu tertutupi dengan raihan trophy Liga Champion. Seandainya gagal di Liga Champion, predikat spesialis runner up akan melekat di pundak Liverpool. Selama masa penantian panjang itu, Liverpool sempat 4 kali menjadi runner up masing-masing musim 2001/2002 (juara Liga Arsenal), 2008/2009 (juara MU), 2013/2014 (juara Manchester City) dan musim 2018/2019 (juara Manchester City).

Sebaliknya, saat Liverpool meraih kemenangan dan menjadi juara. Kota pelabuhan itu akan memerah. Pesta sepanjang malam. Gegap gempita sangat terasa saat pawai keliling kota. Pemandangan itu terlihat  saat Liverpool menjadi juara Liga Champion tahun 2005. Setelah 21 tahun puasa gelar Eropa. Gelar juara Liverpool saat itu terasa sangat spesial. Bukan saja karena yang dikalahkan adalah AC Milan sang juara Eropa 7 kali. Tapi karena kejutan demi kejutan dalam pertandingan.

Pada pertandingan final yang berlangsung di Ataturk Olimpic Stadium, Istanbul Turki itu, Liverpool sudah tertinggal 0-3 usai babak pertama. Semua sudah mengira kemenangan tinggal menunggu waktu bagi AC Milan yang masih diperkuat Andriy Shevchenko, Kaka, Maldini, Nesta dan Cafu. Di tribun stadion, sebagian pendukung Liverpool sudah ada yang menyeka air mata. Wajah Rafael Benitez, pelatih Liverpool kala itu, terlihat kusut. Sejumlah foto wartawan mengabadikan telapak tangan Benitez menepuk kening saat Crespo mencetak gol ketiga Milan di menit 44.

Babak kedua dimulai. Pemain Liverpool masuk lapangan dengan semangat baru. Tapi sampai menit 53. Kedudukan tetap 3-0 untuk keunggulan Milan. Pepatah bola itu bundar terbukti. Satu menit kemudian tepatnya menit 54, Steven Gerrard memperkecil ketinggalan menjadi 1-3 lewat gol sundulan. Dua menit kemudian, jala gawang Dida kembali bergetar oleh tendangan keras Vladimir Smicer.

Belum selesai. Empat menit berselang, Xabi Alonso membuat seisi stadion gempar. Xabi menyambut bola muntahan dari penalti yang bisa diblok Dida. Gol. Penalti diberikan wasit usai Steven Gerrard dijegal Genaro Gattuso. Hanya dalam tempo 15 menit skor berubah. Milan 3, Liverpool 3. Lagu You’ll Never Walk Alone bergema dari atas tribun. Skor tak berubah sampai 90 menit hingga tambahan waktu 2 X 15 menit.

Pada babak adu penalti, Liverpool tampil sebagai pemenang. Tiga penendang Milan, Serginho, Andrea Pirlo dan Andriy Shevchenko gagal menunaikan tugas. Liverpool akhirnya benar-benar membuat mata dunia terbelalak. Keajaiban besar terjadi malam itu. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan The Miracle of Istanbul.

Puasa juara Liga Champion sudah terbayar. Kini saatnya puasa Juara Liga Inggris diakhiri. Musim ini. Kendati secara matematis City dan Leicester masih bisa mengejar, tapi gap 19 poin atau setara 6 kemenangan, sangat sulit. Dasarnya adalah konsistensi. Lima laga terakhir, Liverpool menyapu habis dengan kemenangan. Dalam periode yang sama City 4 menang 1 imbang, Leicester 3 menang, 2 kali kalah. Diperkuat lagi, sampai saat liga menuntaskan 24 laga, Liverpool menjadi satu-satunya tim belum terkalahkan. Bukan hanya di Inggris, tapi di semua liga top Eropa. Catatannya; 23 menang, 1 kali seri. Sedangkan City sudah 5 kali kalah. Leicester 6 kali kalah. Karena itu,  Siap-siaplah berpesta pendukung Liverpool. Cahaya di ujung lorong begitu terang untuk mengulang kembali kejayaan seperti era tahun 1970-1980an.

Come on Liverpool. You’ll never walk alone.

 

Penulis adalah wartawan senior yang juga Ketua PWI Provinsi Bengkulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here