Home Kota Bengkulu Dakwah di Era AI, Menjembatani Kemajuan atau Menanggalkan Kearifan

Dakwah di Era AI, Menjembatani Kemajuan atau Menanggalkan Kearifan

Dakwah di Era AI
DAKWAH: Dakwah di era Artificial Intelligence (AI), menjembatani atau menghilangkan kearifan.(Foto Ilustrasi)

BencoolenTimes.com – Dakwah di Era Artificial Intelligence (AI), menjembatani atau menanggalkan kearifan. Jika pada masa lalu kita harus berjalan kaki ke masjid untuk mendengarkan ceramah, hari ini cukup dengan membuka gawai, tausiyah hadir di telapak tangan.

Teknologi telah merombak cara umat berinteraksi dengan ilmu keagamaan dan tidak hanya melalui media sosial, seperti YouTube dan TikTok, kini kita juga berhadapan dengan era baru, dakwah yang dibantu, bahkan dijalankan oleh kecerdasan buatan, yaitu AI.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan luar biasa. Ustadz virtual, chatbot keislaman, hingga generator konten dakwah otomatis berbasis AI menjelma sebagai ‘mubalig digital’ baru.

Mereka bisa menjawab pertanyaan agama secara instan, menyampaikan nasihat harian, hingga memproduksi konten visual dengan wajah dan suara yang menyerupai ulama asli.

Bayangkan AI bisa membuat ceramah Bahasa Sunda untuk warga Bandung atau dalam Slang Jaksel untuk anak muda perkotaan. Personalisasi pesan kini menjadi kekuatan baru dalam menyampaikan nilai-nilai Islam.

Namun di sisi lain, kita perlu bertanya lebih dalam, apakah ini bentuk kemajuan atau justru sebuah kompromi terhadap esensi dakwah itu sendiri.

Teknologi sebagai Alat, Bukan Penentu Makna

Menurut laporan We Are Social 2024, lebih dari 212 juta orang Indonesia adalah pengguna internet aktif, dengan mayoritas mengakses media sosial setiap hari.

Ini menjadikan dunia digital sebagai ladang dakwah yang sangat potensial. Sayangnya, sebagian besar masih dijejali konten ringan, hiburan semu, bahkan hoaks yang justru menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan.

Di sinilah teknologi—termasuk AI—seharusnya dioptimalkan. AI bisa membantu menciptakan konten dakwah yang menarik, edukatif, dan mudah dipahami oleh generasi muda yang cenderung visual dan cepat bosan.

Tapi ingat, AI adalah alat, bukan guru. Ia tidak memahami makna spiritual, tidak punya empati, dan tidak bisa merasakan kekuatan batin dari doa atau air mata seorang ustadz yang berdakwah dengan sepenuh hati.

Oleh karena itu, penggunaan AI dalam dakwah membutuhkan pengawasan manusia. Ustadz dan cendekiawan Muslim harus hadir sebagai kurator, memastikan bahwa pesan yang disampaikan tetap sesuai dengan nilai-nilai Islam yang otentik.

AI hanya mengolah data yang diberi, bukan menafsirkan dengan kebijaksanaan.

Ancaman Reduksi Nilai dan Relasi

Kekhawatiran lain muncul dari kemungkinan terjadinya reduksi nilai dalam dakwah berbasis AI. Kita berisiko mengubah dakwah menjadi sekadar ‘konten’, bukan lagi proses transformatif yang menyentuh jiwa.

Dakwah bukan cuma soal menyampaikan dalil, tapi juga soal adab, empati, dan relasi antar manusia. Relasi ini tidak dapat digantikan oleh chatbot, secerdas apa pun sistemnya.

Ketika seseorang datang dengan beban hidup, kadang yang ia butuhkan bukan jawaban instan, melainkan pelukan, sapaan tulus, atau pandangan mata penuh kasih dari seorang guru spiritual. Di sinilah teknologi menemukan batasnya.

Lebih jauh, dominasi algoritma bisa menciptakan ‘filter bubble’ dalam dakwah digital. AI akan menyajikan konten yang dianggap relevan berdasarkan preferensi pengguna, bukan berdasarkan kebutuhan spiritualnya yang sejati.

Akibatnya, seseorang bisa terus terpapar pemahaman agama yang sempit, tanpa disadari. Ini adalah tantangan baru bagi dunia dakwah yang tidak bisa diabaikan.

Mencari Jalan Tengah: Sinergi Manusia dan Mesin

Lantas, apakah kita harus menolak AI dalam dakwah? Tentu tidak. Justru kita harus masuk, mengambil peran, dan menjadikannya sebagai jembatan.

Peran ulama bukan hanya berdiri di mimbar, tetapi juga masuk ke ruang digital—membimbing AI agar bisa menyampaikan nilai dengan benar, bukan sekadar cepat.

Di sinilah pentingnya literasi digital keagamaan. Umat harus dibekali kemampuan untuk membedakan mana konten dakwah yang sahih dan mana yang manipulatif.

Begitu juga para dai perlu memahami logika media, agar dakwah tidak hanya ‘viral, tapi juga bernilai. AI tidak akan pernah menggantikan hati manusia, tapi ia bisa menjadi tangan panjang dakwah yang lebih inklusif, adaptif, dan menjangkau generasi digital.

Penutup: Jangan Takut Teknologi, Takutlah Jika Kita Tidak Siap

Kita tidak sedang dihadapkan pada pilihan antara tradisional atau digital, antara manusia atau mesin. Kita dihadapkan pada tantangan bagaimana meramu semuanya menjadi sinergi dakwah yang utuh—berakar pada kearifan, menjulang ke masa depan.

Teknologi, termasuk AI, adalah alat netral. Ia bisa menjadi jalan dakwah yang mencerahkan atau justru jebakan yang menyesatkan—semua tergantung siapa yang mengendalikannya.

Maka tugas kita sebagai generasi muda Muslim adalah menjaga agar teknologi tidak menggantikan nilai, tapi memperkuatnya.

Karena pada akhirnya, dakwah yang sejati tidak hanya menembus layar, tapi juga menembus hati. Dan itu adalah sesuatu yang tak pernah bisa dilakukan oleh mesin, secerdas apa pun ia dirancang.(**)

Penulis : Aisyah Primadanti (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno Bengkulu)

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!
Exit mobile version