Empat Korban Bentrok Nelayan Saling Lapor

BencoolenTimes.com, – Empat orang korban  peristiwa bentrok antara nelayan trawl dengan nelayan tradisional di Bengkulu Utara, Jumat (25/12/2020) saling lapor.

Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Sudarno saat diwawancarai, Senin (28/12/2020) mengatakan, keempat korban bentrok saling lapor, tiga orang korban dari nelayan trawl melapor ke Polda Bengkulu sedangkan satu korban dari nelayan tradisional melapor ke Polres Bengkulu Utara.

“Kita juga menangani terkait alat tangkap yang ditangani Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polda. Jadi ada tiga kasus yang kita tangani sekarang prosesnya penyelidikan karena pemeriksaan-pemeriksaan belum selesai,” kata Sudarno.

Sudarno mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan jumlah orang yang diperiksa dalam dalam bentrok nelayan yang menyebabkan empat orang korban tersebut.

Polda Bengkulu bersama pihak terkait lainnya telah melakukan mediasi mencari untuk mencari solusi mengenai masalah ini. Sudarno berharap, permasalah ini segera mendapatkan titik terang dalam penyelesaian konflik antara nelayan trawl dan tradisional.

“Rapat yang sudah di lakukan di Polres Bengkulu Utara semoga menemukan solusi terbaik agar antara nelayan tradisional dan nelayan pengguna alat tangkap trawl kedepannya dapat berjalan seiring dan mematuhi aturan yang ada dengan mencari ikan sesuai dengan wilayah masing-masing,” tutup Sudarno.

Untuk diketahui, sampai saat ini personel gabungan dari Polda Bengkulu, Polres Bengkulu Utara, dan Kodim Bengkulu Utara masih disiagakan di lokasi kejadian untuk memastikan tidak kembali terjadi bentrok susulan antar kedua kelompok nelayan.

Sedangkan arus lalulintas di Jalan Lintas Provinsi yang mengubungkan Bengkulu dengan Sumatera Barat dan Jambi yang sempat ditutup massa sudah bisa dilalui kembali dari kedua arah.

Seperti diketahui sebelumnya, bentrokan antara nelayan tradisional dengan trawl di Kabupaten Bengkulu Utara terjad akibat masyarakat Kabupaten Bengkulu Utara yang diduga geram dengan aksi penangkapan ikan menggunakan alat tangkap trawl atau pukat harimau yang telah dilarang.

Dalam bentrokan antar kedua kelompok nelayan sempat terjadi aksi kejar-kejaran di tengah laut yang berakhir dengan bentrok fisik hingga menyebabkan empat orang nelayan dari dua kelompok nelayan tersebut menjadi korban.

Saat ini keempat korban yang mengalami luka bacok pada bagian kepala dan luka tembak senjata api rakitan masih menjalani perawatan di dua Rumah Sakit berbeda di Kota Bengkulu yakni tiga korban dari nelayan trawl di Rumah Sakit Bhayangkara dan satu nelayan dari kelompok tradisional di Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu. (CW2)