
BencoolenTimes.com – Hujan deras yang melanda wilayah Kecamatan Amen dan sekitarnya, sejak siang hingga sore, pada Minggu (21/4), kembali menimbulkan dampak. Pelapis tebing di aliran Sungai (Air) Kotok di wilayah Desa Nangai Tayau Kecamatan Amen roboh atau ambruk sepanjang 50 meter.
Kejadian tersebut diduga akibat pondasi pelapis tebing tergerus aliran sungai yang beberapa hari belakangan semakin deras dan tinggi karena curah hujan yang tinggi. Kejadian tersebut, bahkan sempat terekam kamera handphone milik warga yang tinggal tidak jauh dari bantaran Sungai Kotok Desa Ngai Tayau tersebut.

Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPRP) Kabupaten Lebong, Arman Yunizar menyebut, kejadian ambruknya bangunan pelapis tebing terjadi, saat hujan masih mengguyur. Kondisi tersebut diduga diakibatkan adanya gerusan aliran sungai yang semakin deras karena cuaca ekstrim beberapa hari belakangan.
‘’Saat kejadian, kita sedang melakukan inventarisir kerusakan infrastruktur pasca banjir bandang yang melanda Kabupaten Lebong Selasa (16/4) lalu. Kemudian kita mendapatkan laporan dan kiriman video robohnya pelapis tebing tersebut, sehingga kita langsung menuju lokasi,’’ sampai Arman yang mengaku sudah mengecek lokasi pelapis tebing yang ambruk.

Dilanjutkan Arman, dampak bencana alam tersebut sudah langsung mereka sampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebong. ‘’Ini bencana alam dan sudah kita sampaikan data serta faktanya ke BPBD Kabupaten Lebong,’’ lanjut Arman.
Ditambahkan Arman, mereka juga sudah melakukan peninjauan dan pengecekan berbagai infrastruktur yang rusak karena terdampak banjir bandang Selasa (16/4) lalu. Peninjauan dilakukan untuk mencocokan data yang didapatkan dengan kondisi dilapangan.
Agar, tambah Arman, mereka bisa melakukan penghitungan pasti berapa kerugian yang timbul dari dampak banjir, khususnya untuk berbagai jenis infrastruktur dan fasilitas umum yang rusak. Karena dibutuhkan hitungan anggaran perbaikan yang pasti, mengingat memang kondisi anggaran yang dimiliki Pemkab Lebong terbatas.
‘’Jadi ini kita lakukan guna menghitung dan mengsingkronkan data yang masuk dengan kondisi dilapangan. Baru nanti kita hitungan secara teknis kerugian maupun bagaimana nanti penanganannya serta berapa anggaran yang dibutuhkan secara keseluruhan untuk penanggulangan kerusakan,’’ demikian Arman.(OIL)





