Kolom

Jarimu, Harimaumu

Oleh:

Zacky Antony

Dulu ada istilah. Mulutmu, harimaumu. Ucapanmu, bisa mengantarkanmu ke penjara. Lisanmu bisa menerkam dirimu. Ungkapan tersebut mengajarkan kepada kita agar berhati-hati berbicara. Jangan sampai menyakiti orang lain. Sebab, sakit karena lidah lebih berbekas ketimbang sakit karena pisau. Sakit karena luka berdarah bisa sembuh. Tapi sakit hati karena kata-kata sembuhnya bisa sangat lama. Ibarat paku yang tertancap di papan. Meski bisa dicabut, tapi meninggalkan lubang yang terus membekas.

Zaman berubah. Peradaban semakin maju. Sadar atau tidak, kehadiran handphone telah mengubah banyak hal dalam hidup ini. Teknologi satu ini telah menjelma menjadi temuan paling berpengaruh awal abad XXI. Berkat handphone, pekerjaan sulit menjadi mudah. Termasuk mempermudah orang melakukan kejahatan. Jarak jauh terasa dekat. Orang boleh tinggal di desa, tapi dia bisa mengakses dunia.

Pelan tapi pasti. Perilaku manusia juga berubah. Budaya gotong royong mulai tergerus oleh watak individualistis. Kepedulian semakin berkurang.  Etika dan sopan-santun makin ditinggalkan. Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua tak seperti dulu lagi. Guru dipanggil Bro. Ilmu makin tinggi, tapi adab semakin merosot. Materialisme merasuk ke mana-mana. Menerobos ke relung siapa saja yang jiwanya “terjajah” oleh teknologi. Generasi muda yang lahir tahun 2000 ke atas paling rentan dengan penyakit ini. Bila tak kuat pondasi agama dalam keluarga, habislah sudah etika.

Gaya hidup individualisme dan materialisme juga membuat yang dekat bisa menjadi jauh. Di zaman sekarang, acap kali ditemukan pemandangan, orang tersenyum sendirian sambil memandang handphone di tangan. Dia berkomunikasi entah dengan siapa. Yang pasti bukan dengan orang yang ada di dekatnya. Lima orang duduk dalam satu meja, bisa saja tertawa atau tersenyum sendiri-sendiri dengan lawan komunikasi di handphone masing-masing.

Kehadiran handphone dan internet membuat yang tersembunyi muncul ke ruang publik. Yang tertutup menjadi terbuka. Boleh dibilang, di tengah keberlimpahan informasi seperti saat ini, hampir tak ada yang bisa disembunyikan. Aib dengan mudah terumbar ke mana-mana.  Media sosial menjadi ruang ekspresi paling favorit bagi publik menumpahkan uneg-uneg. Facebook, twitter, whatssapp, youtube, instagram menjadi teman setia. Istilahnya, tiada hari tanpa bermedsos. Sebelum tidur buka WA. Bangun tidur, pertama kali yang dibuka juga WA.

Di zaman sekarang, orang seperti tak bisa hidup tanpa handphone. Di kantong boleh tak ada uang, tapi handphone harus ada kuota he he. Jadilah handphone menjadi barang super istimewa. Dibuka, ditutup, dibuka lagi. Baru saja ditutup, belum dua menit dibuka lagi. Tak hanya menggerogoti waktu sang empunya handphone, tapi juga menguras rupiah. Belum enam bulan, sudah muncul lagi seri terbaru. Kalau tak pintar memenej diri, bisa jadi budak teknologi.

Penyesalan mendalam Alfred B Nobel setelah menemukan dinamit, karena benda temuannya tersebut bisa membunuh banyak orang.  Temuan dinamit telah merevolusi industri pertambangan, dipakai meledakkan bukit dan bebatuan untuk tambang, membuat terowongan dll. Tapi dinamit juga digunakan dalam perang. Banyak nyawa melayang karenanya. Tak mau dikenang sebagai penyebab kematian dalam jumlah massal, Nobel kemudian memberi penghargaan kepada orang-orang yang berjasa bagi kemanusiaan, perdamaian dan ilmu pengetahuan.

Kalau dinamit membunuh orang secara fisik, handphone justru membunuh orang secara nonfisik. Handphone bisa “membunuh” pemakainya lewat virus bernama kecanduan. Lewat handphone, orang mengenal narkoba. Lewat handphone orang mengenal sek bebas. Lewat handhone, orang mengenal paham radikal. Dll. Virus ini rentan  menyerang anak-anak dan remaja. Pelajar dan mahasiswa. Betapa banyak anak-anak terkena virus “kecanduan” handphone. Jangankan anak SMA, anak-anak TK saja sekarang pergaulannya sudah internet. Mainnya bukan lagi petak umpet, tapi youtube dan instagram. Control dari keluarga menjadi sangat penting.

Kerusuhan massal di Wamena yang berubah menjadi tragedy memilukan —-33 orang tewas— juga dipicu hoax terkait isu rasis dari handphone ke handphone. Hoax juga punya andil dalam kerusuhan sebelumnya di Jayapura dan Manokwari.  Faktor tersebut melatarbelakangi Menkominfo membatasi akses media sosial saat itu.  Ini bukti bahwa handphone tak hanya benda yang mengasyikkan, tapi juga bisa berubah menjadi benda yang bisa membangkitkan rasa marah dan emosi, menyebar kebencian, fitnah, dan bahkan lebih jauh bisa berujung pada kematian.

Kemudahan menggali informasi melalui handphone juga berdampak pada dunia pendidikan. Semua bisa dicopy paste. Tugas kuliah, makalah, skripsi dan tesis, sangat mudah dicari di dunia maya dengan berbagai tema dan disiplin ilmu. Dulu —sebelum kehadiran internet— mahasiswa bisa tahan berjam-jam dalam perpustakaan mencari referensi buku untuk penulisan skripsi atau tesis. Sekarang? Boleh cek sendiri, berapa banyak yang mengunjungi perpustakaan. Berselancar di dunia maya lebih mudah dan lebih asyik. Ketemu. Tinggal download.

Kalau ditelusuri lebih jauh, masih banyak lagi peristiwa negatif yang dipicu hoax.  Sepasang suami istri bisa bercerai karena SMS di handphone. Persahabatan bisa rusak karena info di media sosial. Rumah bisa kemalingan karena semua penghuni rumah mengosongkan rumah. Celakanya, info mengosongkan rumah disebar di media sosial hanya dengan memposting “foto sedang liburan.”

Terbaru, kasus Dandim 147 Kendari Kolonel Hendi Suhendi yang dicopot gegara postingan istrinya Irman Zulkifli Nasution di media sosial membuktikan bahwa handphone juga bisa mengakibatkan orang copot jabatan. Dandim Kendari dicopot gara-gara postingan nyinyir sang istri atas peristiwa penyerangan terhadap Menkopolhukam Wiranto. Postingan itu berbunyi “Jangan cemen pak…kejadianmu tak sebanding dengan jutaan nyawa yang melayang.” Postingan nyinyir istri Dandim tersebut dianggap tidak pantas. Sampai-sampai Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa langsung turun mengumumkan pencopotan Dandim Kendari tersebut. Rasanya belum pernah terjadi, pencopotan Dandim diumumkan Kasad.

 

Tak hanya Dandim Kendari, dua anggota TNI lainnya juga dicopot karena kasus serupa, gegara postingan istri di media sosial. Jadi berhati-hatilah. Karena sekarang, tak hanya mulutmu yang menjadi harimaumu. Tapi jarimu juga harimaumu. (*)

 

Penulis adalah wartawan senior yang juga Ketua PWI Provinsi Bengkulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here