BencoolenTimes.com – Pelabuhan Pulau Baai harus diselamatkan, karena menjadi salah satu objek vital di Provinsi Bengkulu, bahkan disebut sebagai salah satu objek vital Nasional.
Pelabuhan Pulau Baai harus diselamatkan, karena saat ini kondisi pendangkalannya semakin memprihatinkan. Bahkan kondisi pendangkalan ini sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan dan semakin parah.
Syaiful Anwar AB, salah satu Pengamat Ekonomi Bengkulu, Syaiful Anwar AB yang merupakan Purna Tugas Dosen FEB Unib menyampaikan pandangannya terkait Pelabuhan Pulau Baai harus diselamatkan.
Diungkapkan Syaiful, pembangunan infrastruktur sangat penting, namun harus difahami dulu apa itu infrastruktur. Umumnya, infrastruktur merujuk pada pembangunan secara fisik untuk fasilitas umum, misalnya jalan raya, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, pengolahan limbah, air bersih, bandar udara dan masih banyak lagi.
Selanjutnya, muncul pertanyaan apa manfaat kehadiran infrastruktur bagi Masyarakat. Kehadiran infrastruktur ini tidak hanya memperlancar mobilitas penduduk, tetapi juga mengurangi biaya logistik, membuka peluang investasi baru dan memperkuat konektivitas antar wilayah.
Bagi Propinsi Bengkulu, kata Syaiful, kebutuhan infrastruktur ini sangat diperlukan dan sepertinya mendesak. Infrastruktur Pelabuhan dan jalan raya sangat memegang peranan penting dalam perekonomian Propinsi Bengkulu.
‘’Keberadaan Pelabuhan Pulai Baai sejak dibangun tahun 1982 sangat besar perannya dalam menunjang percepatan arus barang dan jasa. Seperti pengangkutan bahan bakar minyak, semen dan kegiatan ekspor batu bara dan sebagainya,’’ jelas Syaiful.
Oleh karena itu, terang Syaiful, pemerintah memiliki kepentingan untuk membangun infrastruktur yang penting bagi masyarakat. Kasus, untuk pelabuhan Pulau Baai Pemerintah Pusat dan BUMN sangat bertanggung jawab sebagi regulator pelabuhan tersebut.
Sekarang, Riwayat Pelabuhan Pulau Baai tidak maksimal pelayanannya, karena adanya pendangkalan alur dan kerusakan pelabuhan. Bahkan diketahui pendangkalan alur ini sudah berlangsung lama, sehingga mengganggu kelancaran bongkar muat barang, terutama Bahan Bakar Minyak, Semen dan Kegiatann ekspor Batu bara.
Jadi, Syaiful melanjutkan, masyarakat bertanya apakah Pelabuhan Pulau Baai masih bisa diselamatkan atau tidak. Bila masih bisa diselamatkan, butuh berapa lama pengerjaannya, agar Pelabuhan Pulau Baai bisa beroperasi optimal.
Bila jawabannya tidak bisa diselamatkan, sambung Syaiful, harusnya ada langkah-langkah strategis lainnya, misal mengaktifkan Pelabuhan Linau yang ada di Kabupaten Kaur. Bila alternatif ini diambil tentu harus sejalan dengan kegiatan di darat, yaitu memperbaiki akssibilitas jalan darat berupa perbaikan dan peningkatan jalan negara.
‘’Contoh, meningkatkan kapasitas jalan Negara menuju perbatasan Provinsi Sumatera Selatan menuju Pagar Alam dan Lahat. Kemudian, jalan dari Pelabuhan Linau ke Bengkulu harus ditingkatkan, apakah dilebarkan atau menaikkan sumbu tekan gandarnya,’’ terang Syaiful.
Lebih lanjut, berita diberbagai media akibat tidak maksimalnya pelayanan Pelabuhan Pulau Baai, Propinsi Bengkulu disebutkan mengalami banyak kerugian yang nilainya miliaran rupiah bahkan bisa Triliunan Rupiah.
‘’Apa kerugiannya? Yang jelas bahan bakar minyak menjadi langka, biaya ekspor batu bara menjadi tinggi, semen harus melalui jalan darat dan berapa kenaikan transportasi ini harus ditanggung pengusaha dan berakibat pada kenaikan harga komoditi tersebut,’’ sambung Syaiful.
Syaiful menambahkan, situasi Pelabuhan Pulau Baai harus ditanggapi serius oleh Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN. Kalau tidak Provinsi Bengkulu akan menderita kerugian jangka Panjang.
‘’Memperhatikan Pelabuhan Pulau Baai atau menghidupkan Pelabuhan Linau, hingga peningkatan jalan menuju batas sumsel adalah urgen dan menjadi salah satu pilihan. Hal ini harus menjadi agenda pemerintahan baru baik kabupaten/kota, provinsi hingga pemerintah pusat dan ini sudah terbilang emergency,’’ imbuh Syaiful.(OIL)






