
BencoolenTimes.com – Pelindo dan Pertamina punya urusan, tapi mengapa Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan yang dicaci maki. Seolah-olah semuanya yang salah Gubernur Bengkulu yang baru dilantik Februari 2025 lalu.
Jika dianalisa secara baik, kondisi Bengkulu yang disebut tidak baik-baik saja dimulai sejak beberapa bulan belakangan, ketika persoalan kondisi Pendangkalan Alur Pelabuhan Pulau Baai semakin parah.
Persoalan pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Baai ini adalah urusan PT. Pelindo Regional 2 Bengkulu. Sehingga Pemerinta Provinsi (Pemprov) Bengkulu, bahkan Gubernur Helmi Hasan yang langsung mendatangi Pelindo Bengkulu.
Saat pertama bertemu, disebutkan oleh Pelindo mereka akan segera dan secepatnya menyelesaikan pendangkalan alur, namun nyatanya tidak sesuai ekspektasi atau harapan, meskipun sudah beberapa kali Gubernur Helmi Hasan mendesak dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan.
Hingga akhirnya, Gubernur Helmi Hasan bertemu dengan Direktur Utama Pelindo di Jakarta dan kembali mendapatkan janji segera ada solusi, yaitu mendatangkan Kapal Keruk Besar.
Ternyata itu juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar, hingga pendangkalan masih terus menjadi pergunjingan, hingga akhirnya dua kapal keruk sampai beberapa hari yang lalu.
Namun dibalik itu semua, akibat dari pendangkalan yang belum teratasi oleh Pelindo, efek domino terus bermunculan, persoalan keluhan masyarakat Pulau Enggano, hingga Kapal Pendistribusian BBM ke Pertamina tidak bisa masuk ke pelabuhan yang sekaligus membuat Stock BBM tidak bisa terdistribusi.
Kondisi persoalan BBM yang menjadi urusan Pertamina tersebut, disebut mengancam Bengkulu bisa langka BBM. Hal ini juga tidak luput dari perhatian Gubernur Helmi Hasan dan langsung menemui Pertamina Bengkulu untuk mendesak adanya solusi.
Dalam perjalannya, Pertamina Bengkulu mengambil solusi dengan melakukan distribusi jalur darat dari Pertamina beberapa Provinsi Tetangga, terakhir Sumsel dan Jambi. Meskipun ini dikeluhkan Pertamina karena mereka mengaku rugi hingga Rp 500 juta sehari.
Disaat yang hampir bersamaan, saat Kapal Keruk sampai di Perairan Bengkulu, kelangkaan BBM semakin menjadi. Semakin hari semakin menjadi isu seksi dan terkesan menjadi alat atau peluru baru menyerang Gubernur Helmi Hasan.
Padahal, Gubernur Helmi Hasan menanggapi persoalan tersebut langsung memanggil pihak Pertamina Bengkulu. Salah satu alasan yang disampaikan pihak Pertamina Bengkulu kepada Pemprov Bengkulu, karena distribusi menggunakan jalur kereta ke Kota Lubuklinggau mengalami kendala.
Sehingga kondisi tersebut membuat keterlambatan pengiriman pasokan ke Provinsi Bengkulu, khususnya untuk SPBU di wilayah Kota Bengkulu. Saat mendengar kendala tersebut, Gubernur Helmi Hasan juga langsung mendesak pihak Pertamina Bengkulu mencari solusi.
Gubernur Helmi Hasan meminta Pertamina Bengkulu meminta Pertamina agar mencari pola distribusi dan pengaturan penjualan dalam kondisi mendesak seperti saat ini, agar tidak terjadi atrean.
Salah satunya bisa dengan membatasi pembelian dan antisipasi oknum-oknum yang sering memanfaatkan situasi seperti saat ini. Karena sudah terbukti, meskipun di SPBU Antre, namun masih saja ada yang jual eceran dengan harga yang melangit.
Dari penjelasan diatas, dimana korelasinya sehingga banyak yang mengatakan, bahkan dengan bahasa caci maki, kalau persoalan Pendangkalan Alur Pelabuhan Pulau Baai, hingga kelangkaan BBM karena Gubernur Helmi Hasan.
Pada beberapa kesempatan, Gubernur Helmi Hasan sudah mencoba menjelaskan kepada masyarakat melalui media sosial maupun wawancara dan pemberitaan wartawan. Bahwa Pemprov Bengkulu bukan hanya diam saja alias tidak melakukan apa-apa.
‘’Harusnyakan selama ini ada kapal yang bisa merapar ke pelabuhan, namun sudah tidak bisa lagi. Kemudian alur juga kita sudah berjuang, menteri perhubungan sudah ditemui, menteri lingkungan hidup sudah kita temui, dirut pelindo sudah kita temui dan sekarang sudah ada kapal besar untuk pengerukan,’’ sampai Gubernur Helmi Hasan beberapa waktu lalu.
Untuk persoalan pertamina sendiri, lanjut Gubernur Helmi, dirinya sudah mendatangi Pertamina dan didapatkan solusi dalam mengantisipasi kelangkaan, dengan melakukan pendistribusian jalur darat.
Mulai pendistribusian dari Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Selatan (Sumsel) hingga dari Lampung. Bahkan dengan upaya jalur darat ini, Pertamina mengaku mengalami kerugian hingga Rp 500 juta sehari.
‘’Makanya kita berharap kepada seluruh masyarakat Provinsi Bengkulu, beginilah kondisi Bengkulu saat ini. Alur kita belum normal, belum baik baik saja dan ketika ada keterlambatan, maupun sebagainya, pertamina terus Pemprov dorong agar tidak ada lagi kelangkaan,’’ demikian Gubernur Helmi Hasan.(OIL)





