Home Info Daerah Pemkab RL Diminta Jeli Mengambil Peluang Ekonomi Saat Harga Kopi Melambung Tinggi

Pemkab RL Diminta Jeli Mengambil Peluang Ekonomi Saat Harga Kopi Melambung Tinggi

Owner Bermani Coffee sekaligus petani kopi di Kabupaten RL, Haris Gunawan.

BencoolenTimes.com – Kenaikan harga kopi, salah satunya jenis robusta mencapai level tertinggi, salah satunya karena ancaman musim kering terhadap tanaman. Gelombang panas yang mengancam produksi di Vietnam, salah satu negara eksportir utama, menimbulkan kekhawatiran atas kelangkaan biji kopi yang digunakan dalam minuman instan.

Kenaikan harga kopi juga terjadi di Provinsi Bengkulu, termasuk di wilayah Kabupaten Rejang Lebong (RL). Bahkan pihak kepolisian sampai mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi pencurian biji kopi sebagai dampak semakin melonjaknya harga kopi.

Owner Bermani Coffee sekaligus petani kopi di Kabupaten RL, Haris Gunawan menyebut, tingginya harga kopi dunia saat ini semestinya harus disambut baik pemerintah, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) RL sebagai peluang ekonomi. Pemerintah harus dapat mengambil peran dalam membuat kebijakan, serta regulasi yang tidak merugikan petani.

‘’Jangan sampai kondisi seperti ini justru menguntungkan para spekulan dan merugikan petani. Karena tidak ada campur tangan pemerintah untuk membuat regulasi,’’ kata Haris.

Memasuki musim panen, pemerintah juga dapat mengambil peran melakukan mitigasi resiko. Sehingga dapat meminimalisir kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Salah satu resiko yang marak terjadi saat ini, sambung Haris, adalah maraknya pencurian kopi, baik itu kopi tua atau pun muda. Kemudian biasanya, di musim panen para spekulan akan memainkan harga pasar menurut kemauannya sendiri, dengan tujuan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Haris menambahkan, tingginya harga kopi tahun ini akan sangat berdampak terhadap perekonomian Rejang Lebong. ‘’Artinya, sektor ekonomi saat ini bergeraknya dari desa,’’ imbuh Haris.

Dihimpun dari data Refinitiv, harga kontrak berjangka kopi robusta bulan Juli di London mencapai titik tertinggi pada penutupan perdagangan minggu lalu, mencapai US$4.304 per ton atau sekitar Rp 70 juta. Ini menandai kenaikan sebesar 47% sepanjang tahun ini, mencapai US$4.164 per ton.

‘’Kondisi cuaca tidak mendukung, masih ada kekhawatiran mengenai kemungkinan kekurangan air untuk irigasi, yang dapat mengganggu hasil panen pada musim berikutnya,’’ kata pedagang dari DRWakefield di London.

Ketatnya pasar robusta juga mempengaruhi harga kopi arabika premium, yang naik 3% di New York, melampaui US$2 per pon untuk pertama kalinya sejak Desember 2023. Broker di Brasil melaporkan tingginya permintaan akan biji arabika berkualitas rendah sebagai pengganti biji kopi robusta dalam campuran.

Meskipun prospek panen arabika Brasil mendatang baik, ketersediaannya rendah karena panen baru dimulai pada Mei 2024. Pembelian panik oleh para roaster juga turut memengaruhi reli harga kopi.

‘’Mereka membiarkan cakupan mereka semakin rendah karena tingginya harga dengan harapan harga akan turun,’’ kata seorang analis di Sucafina.

Kenaikan harga kopi memberikan keuntungan bagi produsen kopi terbesar, termasuk Indonesia. Data FAO mencatat Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terkemuka, dengan kopi Robusta menjadi kontributor terbesar ekspor kopi.

Ekspor kopi Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan dominasi kopi Robusta, yang mencapai 86,13% dari total ekspor. Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar, diikuti oleh India dan Mesir.

Secara keseluruhan, ekspor kopi Indonesia mencapai 433,78 ribu ton dengan nilai US$1,14 miliar atau sekitar Rp 18,46 triliun. Dengan kenaikan harga saat ini, Indonesia berpotensi mendapatkan manfaat yang lebih besar.(OIL/**)

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!
Exit mobile version