Home Hukum Perkara Telur, Dewan Kota Minta Hotel Mercure Penuhi Hak Karyawan

Perkara Telur, Dewan Kota Minta Hotel Mercure Penuhi Hak Karyawan

BencoolenTimes.com, – Belum lama ini, Hotel Mercure Kota Bengkulu diketahui melaporkan salah satu karyawannya yakni Meri ke Polisi atas tuduhan penggelapan, yang awalnya dipicu masalah telur dimana karyawan beberapa waktu lalu salah memesan telur yang seharusnya 30 butir tetapi dipesan 30 kilo. Namun karyawan telah bertanggungjawab dengan kesalahan pemesanan itu, dan ternyata persoalan ini menjadi sorotan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bengkulu.

Anggota Komisi I DPRD Kota Bengkulu, Roni Tobing saat diwawancarai di Kantor DPRD Kota Bengkulu, Selasa (23/6/2020) mengatakan, pihaknya telah mendapatkan informasi terkait karyawan yang sedang ada permasalahan dengan Hotel Mercure tersebut.  Menyikapi ini, pihaknya meminta kepada pihak Hotel Mercure agar memberikan kejelasan tentang apa yang diharapkan karyawan dan hak-hak karyawan jangan di gantung.

“Maka harus segera diberi kejelasan apa-apa permasalahannya, dan hak-haknya apa saja dan itu kewajiban dari perusahaan segera untuk memenuhinya atau menyelesaikannya,” jelas Roni Tobing.

Roni Tobing menegaskan, jika permasalahan tersrbut juga tidak ada kejelasan, pihaknya akan berkoordinasi dengan lintas Komisi di DPRD Kota Bengkulu dan kemungkinan besar akan melakukan Sidak.

“Kami harapkan untuk pihak perusahaan Hotel Mercure untuk segera menyelesaikan permasalahan ini dengan karyawan yang bersangkutan,” terang Roni Tobing.

Seperti diberitakan sebelumnya, karyawan Karyawan Hotel Marcure Bengkulu, Meri didampingi kuasa hukumnya, Ana Tasia Pase mendatangi Polsek Ratu Samban Kota Bengkulu, Rabu (17/6/2020) menanggapi soal surat panggilan terkait laporan yang disampaikan Hotel Mercure terhadap kliennya, yang dianggap merugikan Mercure.

Waktu itu Kuasa Hukum Meri yakni Ana Tasia Pase menjelaskan permasalah ini berawal ketika kliennya beberapa waktu lalu salah memesah telur asin, yang seharusnya 30 butir, tetapi karena salah ketik dalam pesanan itu menjadi 30 kilogram.

Vendor atau pihak penyedia, saat itu juga tidak klarifikasi soal pemesana telur yang salah tersebut, sehingga dikirim 30 kilogram telur asin. Setelah itu, kliennya Meri mengklarifikasi soal pemesanan yang salah itu, 30 butir telur masuk ke nota hotel.

Sisa telur yang dipesan, yang semula 30 kilogram, Meri yang bertanggungjawab membayar kesalahan pemesanan itu, dengan setengah kerugian lainnya ditanggung oleh vendor.

“Jadi nota itu tetap 30 butir yang masuk nota hotel bukan 30 kilogram. Jadi dari mana pihak hotel dirugikan? Maka dari sinilah yang akan kita proses hukum, jangan sampai hak-hak pekerja tidak diperoleh dan pihak perusahaan melakukan tindakan-tindakan yang seperti ini,” kata Ana Tasia Pase.

Ana Tasia Pase menuturkan, memang pihaknya menunggu laporan resmi yang disampaikan pihak hotel karena kliennya posisinya digantung.

Managemen hotel sudah membuat surat panggilan, yang menyatakan kliennya melakukan kesalahan pelaporan, bukan tentang pemesanan telur asin. Namun panggilan kedua kliennya datang ke hotel, alasan dari Managemen Mercure memanggil kliennya tersebut untuk klarifikasi terkait kesalahan yang dibuat.

Tetapi ketika itu saat kliennya datang, tidak ada klarifikasi dari Mercure, cuma di berita acara yang pihaknya simpan, saat itu managemen hotel menyatakan saudara Meri sudah bekerja dengan baik, pekerjaannya sudah selesai, tidak ada yang berkaitan dengan salah pemesanan telur.

“Sedangkan klien kita ini sudah keluar juga surat rekomendasi dari Dinas Ketenagakerjaan, bahwa ada haknya yang harus dibayarkan managemen hotel sebesar 32 juta rupiah, sisa kontrak kerja selama setahun. Kami merasa pihak hotel seakan-akan tidak mau membayar, jadi mencari-cari alasan. Tadi kita juga sudah ke Mercure menyampaikan somasi, apabila klien kami melakukan kesalahan, silahkan tempuh jalur hukum sehingga prosesnya lebih jelas. Ini tadi habis dari hotel tiba-tiba klien kami mendapat panggilan dari Polsek,” beber Ana Tasia Pase.

Ana Tasia Pase menyayangkan pihak hotel. Menyikapi laporan resmi itu, pihaknya akan melaporkan balik Hotel Mercure atas tuduhan terhadap kliennya.

“Tapi tidak apa-apa, atas laporan dari pihak Mercure, kita akan melaporkan balik,” jelas Ana Tasia Pase.

Meri sendiri menjelaskan, selama ia bekerja di Hotel Mercure Bengkulu, tidak pernah mendapat peringatan baik SP1, SP2 maupun SP3. Mendadak ia diminta mundur, karena ada perselisihan dengan oknum di managemen Marcure.

“Masalah telur asin itu sudah lama. Sekarang saya malah dilaporkan ke polisi. Pada masalah itu sudah selesai antara saya dan vendor. Sisa telur itu juga kami bagikan ke anak yatim. Ini kesannya laporan soal telur ke Polsek dipaksakan agar saya dibuang dari Mercure,” jelas Meri.

Ketika itu Wartawan sempat mendatangi Hotel Mercure Bengkulu untuk klarifikasi. Namun sayang, pimpinan dan managemen saat itu sedang rapat. Wartawan diminta meninggalkan nomor handphone untuk kemudian dikontak kembali jika managemen sudah siap memberi konfirmasi.

“Kami malah belum tahu soal laporan telur di Polsek. Silakan tinggalkan nomor HP, nanti managemen akan hubungi untuk konfirmasinya,” ujar resepsionis yang sedang berjaga, usai menghubungi managemen Mercure.

Saksikan videonya di Channel BDTV Cacam Nian.(Bay)