Perkara Telur, Hotel Mercure Kalah Gugatan

Kuasa Hukum Meri

BencoolenTimes.com, – Hotel Mercure Kota Bengkulu beberapa waktu lalu melaporkan salah satu karyawannya yakni Meri ke Polisi atas tuduhan penggelapan, yang awalnya dipicu masalah telur dimana karyawan beberapa waktu lalu salah memesan telur yang seharusnya 30 butir tetapi dipesan 30 kilo. Namun saat itu karyawan telah bertanggungjawab dengan kesalahannya itu.

Perkara ini sempat menjadi sorotan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bengkulu, setelah menjalani proses demi proses perkara ini tiba di meja majelis hakim Pengadilan hubungan industrial Bengkulu dan Hotel Mercure kalah dalam gugatan dan majelis hakim mengabulkan permohonan karyawan untuk membayar gajinya selama kontrak kerja yang belum berakhir.

Berdasarkan surat pengajuan permohonan penyelesaian Kepada Dinas Tenaga Kerja Kota Bengkulu dan telah mediasi dan tidak pernah dihadiri tergugat (Hotel Mercure) maupun kuasanya.

Maka Dinas Tenaga Kerja Kota Bengkulu mengeluarkan anjuran dengan nomor 560/115/567/D.NAKER/202 tanggal 20 April 2020 yang menyebutkan agar pihak perusahaan membayar sisa kontrak pekerja sesuai dengan ketentuan undang undang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai berikut: 8 (Delapan) bulan upah x Rp. 4.000.000,- = Rp. 32.000.000. Terbilang: Tiga Puluh Dua Juta Rupiah.

Bahwa Penggugat diberhentikan secara sepihak oleh PT. Graha Bengkulu Makmur (Hotel Mercure Bengkulu) pada tanggal 29 Februari 2020 tanpa alasan yang jelas dan tanpa surat peringatan sebelumnya dan mekanisme yang diatur dalam Pasal 61 Undang Undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang isinya pasal 61 ayat 1 perjanjian kerja berakhir apabila: pekerja meninggal dunia, berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.

“Dari putusan majelis hakim pengadilan hubungan industrial Bengkulu mengabulkan sebagian dari gugatan klien kami. Seperti hotel Mercure harus membayar sisa gaji sebesar 4 juta rupiah selama 8 bulan,” jelas Anna Tasya pase SH MH kuasa hukum pemohon, Sabtu (21/11/2020)

Perkara ini berawal permasalah ketika Meri beberapa waktu lalu salah memesah telur asin, yang seharusnya 30 butir, tetapi karena salah ketik dalam pesanan itu menjadi 30 kilogram.

Vendor atau pihak penyedia, saat itu juga tidak klarifikasi soal pemesana telur yang salah tersebut, sehingga dikirim 30 kilogram telur asin. Setelah itu, kliennya Meri mengklarifikasi soal pemesanan yang salah itu, 30 butir telur masuk ke nota hotel.

Sisa telur yang dipesan, yang semula 30 kilogram, Meri yang bertanggungjawab membayar kesalahan pemesanan itu, dengan setengah kerugian lainnya ditanggung oleh vendor.

Ketika itu Wartawan sempat mendatangi Hotel Mercure Bengkulu untuk klarifikasi. Namun sayang, pimpinan dan managemen saat itu sedang rapat. Wartawan diminta meninggalkan nomor handphone untuk kemudian dikontak kembali jika managemen sudah siap memberi konfirmasi.

“Kami malah belum tahu soal laporan telur di Polsek. Silakan tinggalkan nomor HP, nanti managemen akan hubungi untuk konfirmasinya,” ujar resepsionis yang sedang berjaga, usai menghubungi managemen Mercure.(Bay)