Home Pemprov Bengkulu Petani Dulu dan Sekarang

Petani Dulu dan Sekarang

Petani Dulu dan Sekarang
Dr. Syaiful Anwar AB

BencoolenTimes.com – Petani dulu dan sekarang, kita ini hampir 90 persen dari desa dan kehidupan petani sangat akrab dengan kita.

Petani dulu dan sekarang, Saya saja yang sudah berumur 68  tahun ini sangat kental memori dengan kehidupan petani.

Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB ita masih cukup tinggi yaitu sebesar 13,57  persen. Sedangkan untuk Propinsi Bengkulu masih pada angka 29,91 persen.

Jadi, sektor pertanian tidak boleh dianggap sebelah mata oleh pemerintah pada berbagai tingkatan. Sektor pertanian berperan penting dalam kehidupan, pembangunan, dan perekonomian Indonesia.

Sebagai negara agraris, sektor pertanian mampu melestarikan sumber daya alam, memberi hidup dan penghidupan, serta menciptakan lapangan pekerjaan. Bila dilihat keadaan di Propinsi Bengkulu, dengan angka kontribusi terhadap PDRB paling tinggi adalah sektor pertanian ini.

Baca Juga : haruskah-pemimpin-baru-lakukan-ice-breaking

Nah, bila kita lihat lebih dalam, kontribusi sektor pertanian ini maka sub sektor perkebunan memberi kontribusi sebesar 3.07 persen dan angka ini paling besar. Artinya, dominasi sub sektor perkebunan cukup besar.

Lalu, pertanyaan adalah apa peran pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dan apa yang harus dikerjakan, selain tetap mempertahankan sub sektor tanaman pangan, seperti padi, ubi, jagung serta holtikultura.

Maka sektor perkebunan harus mendapat perhatian juga dan apa bentuk perhatiannya. Pertama ketersediaan sarana dan prasarana produksi bagi sektor pertanian dan perkebunan.

Baca Juga : kewirausahaan-sektor-publik-tugas-siapa

Pemerintah daerah, dalam hal ini dinas pertanian dan perkebunan memastikan kualitas bibit bagi petani atau perkebunan rakyat. Ketersediaan pupuk dan obat obatan serta transportasi dari lahan masyarakat menuju jalan kabupaten/desa ke jalan provinsi.

Semuanya, harus terjamin kelancarannya, kalau tidak petani rakyat tidak menikmati harga sawit katakanlah begitu. Lalu, agar tidak terjadi monopoli atau monopsoni perdagangan buah sawit, pemerintah harus mendorong rakyat secara gotong royong membangun pabrik mini CPO dan pabrik minyak goreng terintegrasi dan modelnya sudah ada pada kementerian pertanian.

Oleh karena itu, para pemimpin baru Gubernur dan Bupati walikota harus berjejaring dengan jajaran kementerian dan asosiasi perkebunan sawit nasional. Agar supaya terjadi kolaborasi antara pabrik dan perkebunan  besar petani sawit rakyat.

Tujuannya adalah untuk menstabil harga buah sawit rakyat dan bila harga sawit rakyat stabil, pendapatan petani stabil. Bila kestabilan pendapatan petani dan buruh kebun terjadi, maka akan hidup perekonomian di pedesaan.

Dengan demikian, UMKM pun bisa hidup dan putaran ekonomi berjalan. Bila kondisi ini tercipta, maka lapangan pekerjaan ada, pendapatan ada, seterusnya kemiskinan dapat ditekan.

Pada triwulan ketiga tahun 2023, sektor pertanian mencatat pertumbuhan sebesar 1,46% (yoy) dan memberikan kontribusi sebesar 13,57% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran petani yang bekerja keras untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Harapannya, kejadian ini mengalir ke daerah-daerah yang notabenenya daerah pertanian dan perkebunan, terutama komoditi sawit.

Kita tau bahwa kalimantan dan sumatera adalah sentra perkebunan sawit, termasuk rakyat secara swadaya ikut bertanam sawit. Jadi, ketahanan pangan dan perkebunan ini merupakan tulang punggung perekonomian daerah, terutama daerah yang tidak punya sumberdaya alam.

Oleh karena itu, sektor pertanian tetap harus menjadi perhatian pemerintah daerah. Kalaupun ada pergeseran kontribusi sub sektor lain, kontribusinya masih di bawah 5 persen saja.

Jadi, kunci keberhasilan menggenjot sektor pertanian adalah, memperbaiki sarana dan prasarana produksi. Memperbaiki tata niaga komoditi pertanian dan jasa pertanian harus mendapat perhatian serius.

Bila ditarik pada kondisi Provinsi Bengkulu, daerah Kabupaten Mukomuko, Bengkulu Utara, Kabupaten Benteng, Seluma, Bengkulu selatan serta Kaur. Maka daerah ini yang kita sebut kawasan pesisir adalah daerah pertanian dan perkebunan.

Pemerintah daerah provinsi dan kabupaten harus berkolaborasi untuk memperhatikan sektor ini. Kita tidak boleh lengah soal pertanian dan perkebunan dan dukungan pemerintah harus nyata, baik regulasi maupun program pembangunan fisiknya.(**)

Penulis : Syaiful Anwar AB (Purna Tugas Dosen FEB Unib)

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!
Exit mobile version