Bencoolentimes.com, – Beberapa bulan ini, Provinsi Bengkulu menjadi provinsi dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) termahal di Indonesia.
Meski tercatat sebagai provinsi miskin dengan perkapita rendah di Indonesia, namun harga BBM di Bengkulu menyamai Provinsi Kepulauan Riau yang punya perkapita tinggi.
Di Indonesia, hanya Provinsi Bengkulu dan Kepulauan Riau yang menjual harga Pertalite Rp 8.000. Satu daerah lagi, Kodya Batam juga menerapkan harga Rp 8.000.
Namun berbeda dari Provinsi Bengkulu, Kepulauan Riau dan Kodya Batam merupakan daerah kaya dengan perkapita tinggi.
Sementara Provinsi Bengkulu, merupakan provinsi nomor 7 termiskin di Indonesia. Di Sumatera, Provinsi Bengkulu masuk daerah termiskin nomor 2, setelah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Mahalnya harga BBM ini, banyak dikeluhkan masyarakat yang diantaranya para sopir Angkutan Kota (Angkot) Bengkulu dan sopir Travel.
Sopir Angkot Bengkulu Muhammad, Sabtu (24/4/2021) lalu mengungkapkan, bukan hanya sopir angkot saja yang mengeluh semua masyarakat pasti akan mengeluh, karena naiknya harga BBM turut berdampak pada harga bahan pokok yang ikut naik.
“Kami minta naikkan tarif ongkos kendaraan, jika harga BBM tidak diturunkan harganya,” kata Muhammad.
Muhammad mengaku, akibat dari harga BBM mahal, sekarang ini banyak minyak oplosan beredar yang dijual oleh pedagang.
Kenaikkan harga BBM ini sebelumnya juga medapat kritik sejumlah para mahasiswa dan aktivis di Provinsi Bengkulu, karena disaat Pademi Covid- 19 dan perekonomian melemah malah Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Bengkulu naikkan harga BBM.
Seperti yang disampaikan Sekretaris Alumni Keluarga KAMMI, Yusliadi, bahwa BBM merupakan keperluan hajat strategis orang banyak dan soal ketergantungan kepada energi.
Sebenarnya domain kenaikkan harga BBM itu di pusat dan jangan dilimpahkan ke daerah. Sehingga itu akan menimbulkan ketidakseragaman harga BBM.
“Kebijakkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu menaikkan harga BBM itu menyakitkan. Karena tidak ada rasionalisasi atas kenaikkan BBM di Bengkulu,” kritik Yusliadi beberapa waktu lalu.
Bahkan, merespon banyaknya jeritan rakyat soal mahalnya harga BBM tersebut, sejumlah perwakilan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) mendatangi Kantor Gubernur Bengkulu, Jumat (29/4/2021).
Mereka datang untuk mempertanyakan kebijakan Pemerintah Provinsi menaikkan harga BBM yang terjadi hanya di Provinsi Bengkulu.
Namun sayang mereka tidak bisa bertemu pejabat Pemerintah Provinsi lantaran mereka sedang sibuk Dinas Luar (DL) ke Kabupaten Kaur.
Perwakilan mahasiswa Muhammadiyah Bengkulu, Elkusman mengatakan, bahwa kenaikkan BBM dinilai secara sepihak tanpa mempertimbangkan ekonomi masyarakat dan masukkan dari stacholder yang lain.
“Niatan kami ingin bertemu langsung ke Guburnur untuk mempertanyakan kejelasan atas kenaikkan harga BBM di Provinsi Bengkulu,” kata Elkusman.
Terpisah, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah saat dikonfirmasi wartawan media ini, Sabtu (1/4/2021) mengenai hal tersebut terkesan cuek.
Pasalnya, hingga berita ini diturunkan, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah belum memberikan jawaban. (JRS)





