Home Info Daerah Seluma Suasana Haru Iringi Jenazah Korban Dugaan Kekerasan ke Peristirahatan Terakhir

Suasana Haru Iringi Jenazah Korban Dugaan Kekerasan ke Peristirahatan Terakhir

Suasana Haru Iringi Jenazah
Keterangan: Prosesi pemakaman korban dugaan kekerasan di TPU Desa Riak Siabun

BencoolenTimes.com – Suasana haru dan duka mengiringi pengantaran jenazah relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Padang Serai, Indo Melvi Yunadatia (24) ke peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Riak Siabun, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, Selasa, 15 September 2026.

Ratusan warga, keluarga, kerabat dan handai tolan beramai-ramai mengantarkan peristirahatan terakhir jenazah Indo Melvi Yunadatia.

Sebelumnya, jenazah almarhumah telah menjalani proses otopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu. Setelah itu, jenazah langsung dibawa menggunakan ambulans menuju rumah duka di Desa Riak Siabun.

Saat tiba di rumah duka, warga langsung mempersiapkan proses pemakaman. Sekitar pukul 06.00 WIB, warga mulai menggali liang lahat di TPU Riak Siabun. Dua jam kemudian, setelah dimandikan, dikafani dan disalatkan, jenazah putri kedua pasangan Junaidi dan Atik tersebut langsung dimakamkan.

Isak tangis keluarga pecah ketika jenazah Indo Melvi dimasukkan ke liang lahat. Keluarga dari pihak ibu dan ayah korban tampak tidak kuasa menahan kesedihan. Kerabat dekat korban juga ikut menangisi kepergian perempuan keturunan Bugis-Makassar tersebut secara tragis.

Kepala Desa Riak Siabun, Mustan, yang juga merupakan kakek korban, mengaku masih belum percaya dengan kejadian yang menimpa cucunya. Ia mengaku banyak pertanyaan yang muncul di tengah keluarga atas kematian tragis tersebut. Dengan mengejek seperti itu, bisa tega menghabisi nyawa cucunya.

”Biasanya kalau ada masalah, dia pasti bercerita dengan kami keluarga. Bahkan masalah kecil pun tetap dia ceritakan,” ujar Mustan.

Menurut Mustan, semasa hidup, Indo Melvi dikenal sebagai sosok yang rajin dan pekerja keras. Dalam kesehariannya, korban juga dikenal lincah dan aktif dalam bekerja.

Bahkan, kata Mustan, pihak keluarga beberapa kali menawarkan kepada korban untuk menyewa rumah yang lokasinya berdekatan dengan dapur SPPG tempatnya bekerja. Namun, tawaran tersebut ditolak dan korban memilih tetap pulang-pergi dari rumah meski harus bekerja hingga tengah malam.

”Kami dari pihak keluarga sebenarnya sudah ada rasa waswas karena cucu kami bekerja malam hari. Namun, tawaran keluarga untuk menyewa rumah dekat tempat kerja ditolaknya dengan berbagai alasan,” ungkapnya.

Meski telah mengikhlaskan kepergian korban, keluarga, kata Mustan, tidak dapat menerima cara pelaku menghabisi nyawa Indo Melvi yang dinilai sangat keji.

Pihak keluarga berharap kepolisian dapat mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. Keluarga menduga aksi pembunuhan tersebut tidak dilakukan seorang diri dan telah direncanakan sebelumnya.

”Kami sepenuhnya menyerahkan pengusutan kepada pihak kepolisian. Namun, kami tetap menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya,” pungkas Mustan. (RSL)

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!
Exit mobile version