Woi Sanak! Nanti Aja Berita Itu, Sudah Azan Kita ke Masjid Dulu

KENANGAN: Bripka Ramadan Juliansyah (kiri)

In Memoriam BRIPKA RAMADAN JULIANSYAH

Si Buser Berpeci

Catatan BENNI HIDAYAT

KETIKA mengetik berita ini, jari terus bergetar. Ada keraguan, antara ketik atau gak usah diketik. Tapi kenangan Buser Berpeci itu, membuat jari ini tetap memainkan perannya sebagai pers.

Komunikasi dengan sosok Ramadan, bukan sekadar saya wartawan dan dia polisi. Bukan juga sekadar mitra, tapi sahabat.

Banyak kenangan yang terekam di memori kepala ini, tentang sosok polisi berpeci. Ya, dia Bripka Ramadan yang dikenal baik hati.

Setiap saya meliput di lapangan, antara tahun 2008 hingga 2011, bisa dibilang sering ketemu sosok ini.

Kenapa? Karena memang saya wartawan yang berkecimpung di liputan dunia kriminal. Sementara dia, seorang buser yang kerjaannya menangkap pelaku kejahatan.

Ketika saya meliput ke TKP, terutama di kawasan Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu, selalu ketemu Madok, sapaan akrab Ramadan.

Dulu dia bertugas di Polsek Gading Cempaka (terakhir bertugas di Polsek Muara Bangkahulu,red). Di Polsek Gading Cempaka kami kenal, di sana kami sering bertemu. Dia ramah, gaul dan enak diajak ngobrol.

Awal kami kenal, Madok polisi yang sering berpakaian preman. Karena dia buser, jadi penampilan menyesuaikan sikon.

Badannya tegap, berisi. Posturnya mirip postur saya, gempal. Dia dikenal cekatan, pintar menangkap penjahat.

“Bro (sapaan akrab saya di lapangan, red), kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku,” kata Madok kepada saya.

Ya, dia sosok pelindung bagi saya. “Pekerjaan kita ini banyak risiko,” ucap dia lagi.

“Siap komandan, 813 (kode terimakasih, red),” jawab saya.

Ketika ke TKP, tak jarang kami berbarengan kendaraan. Kadang dia yang bonceng, saya yang bawa motor. Yang paling rutin, ngopi dan sarapan pagi bareng di kantin Polsek Gading Cempaka.

Suatu hari, sekitar tahun 2012, Madok sendirian datang ke kantor saya dulu, di KM 6,5 Graha Pena RB (dulu saya kerja di RB, red). Waktu itu malam habis Isya, orang dekatnya lagi ada masalah.

“Bro, tolong bantu. Orang dekat aku difitnah. Kalau harus aku bayar untuk menjawab fitnah itu di media, aku bawa uang untuk kamu,” kata Madok.

Mendengar itu, saya naik pitam. “Kalau kamu anggap persahabatan kita ini karena uang, akan aku buang uang itu. Kita bukan sekadar aku wartawan dan kamu polisi. Simpan saja uangmu,” ucapku.

“Apa yang terjadi dengan orang dekatmu itu, ada hak jawab yang wajib dipenuhi media. Itu wajib, tidak usah bayar,” tegasku.

Saya jelaskan, bahwa pers punya kewajiban menerbitkan hak jawab bagi orang yang merasa dirugikan dalam pemberitaan, dan itu diatur Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Sejak saat itu, persahabatan kami makin dekat. Bahkan tidak sekadar mitra Polri dan wartawan, tapi seperti saudara.

Tapi bukan cerita itu yang membuat saya begitu mengenang Madok, buser yang baik hati. Saya biasanya bertemu polisi satu ini, dia berpakaian preman.

Sempat lama tak bertemu, tiba-tiba dia berubah menjadi sosok Buser Berpeci. Ternyata dia sudah hijrah, menjadi sosok yang taat beribadah.

Seingat saya, antara tahun 2014 atau 2015. Ketika saya datang menanyakan berita ke Polsek Gading Cempaka, Madok betul-betul berubah.

“Woi sanak, nanti saja beritanya. Sudah azan, kita ke masjid dulu,” ajak Madok kepada saya.

Terus terang, mendengar kabar Madok meninggal dunia Rabu (13/11/2019), hati saya tersayat. Di dalam mobil mata saya berkaca, teringat pesan sang Buser Berpeci.

“Berita itu nanti habis sholat, kan masih bisa dapat berita. Ayo ke masjid,” kata dia lagi sambil menarik tanganku mengajak ke masjid dekat Polsek Gading Cempaka.

Sejak saat itu, saya kenal Madok dengan ciri khas buser yang selalu menggunakan peci, menutup kepalanya.

Jelas dari tulisan ini, pesan seorang polisi baik hati. Walau dalam tugas, dia masih ingat dan mengingatkan akan panggilan Allah, untuk beribadah. Itu kenapa saya merasa perlu menulis memori ini.

“Dia (Ramadan, red) polisi yang rajin 5 waktu ke masjid. Sering saya bertemu dia di masjid,” kenang Wakil Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi.

Semoga amal kebaikan Ramadan Juliansyah, diterima Allah. Semoga dosa-dosanya dihapus. Selamat jalan sahabat, semoga Allah tempatkan engkau di sisi yang terbaik, Amiiin.(**)