
BencoolenTimes.com – Harga TBS (Tandan Buah Segar) anjlok, membuat para pengusaha RAM (Penegpul) buah Kelapa Sawit mulai mengeluh di Kabupaten Seluma.
Harga TBS anjlok, diketahui sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir, termasuk di wilayah Kabupaten Seluma. Dimana dari harga sebelumnya Rp 2.650/kg, saat ini sudah turun hingga Rp 1.950/kg.
Kondisi tersebut sekaligus membuat Pengusaha RAM mulai mengalami kerugian, lantaran stok sawit yang dibeli dari petani sudah menumpuk dan harus di jual ke pabrik dengan harga yang lebih rendah.
Diketahui, penurunan drastis Harga TBS Kelapa Sawit yang mencapai Rp 700 per kilogram tersebut terjadi hanya dalam waktu singkat dan membuat para pelaku usaha sawit kelimpungan.
Salah seorang pemilik RAM di Kecamatan Sukaraja, Win, mengaku kondisi saat ini sangat merugikan pihaknya. Sebab, sawit yang sebelumnya dibeli dari petani dengan harga tinggi kini harus dijual dengan harga jauh di bawah modal pembelian.
‘’Per hari ini pukul Setengah Tiga (14.30 WIB), Kamis (21/50, harga TBS kembali turun Rp 500 per kilogram. Jadi kondisi ini sangat merugikan kami sebagai pemilik RAM,’’ ujar Win kepada wartawan.
Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 200 ton TBS yang sudah terlanjur dikirim ke pabrik dan dipastikan mengalami kerugian besar akibat turunnya harga secara mendadak. Jika dihitung secara keseluruhan, kerugian yang dialami pengusaha RAM diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Win menjelaskan, anjloknya harga TBS membuat para pemilik RAM kini tidak berani lagi menetapkan harga pembelian tetap kepada petani. Mereka memilih menunggu kepastian harga dari perusahaan Crude Palm Oil (CPO) sebelum melakukan transaksi pembelian.
‘’Kami sekarang serba salah, karena kalau beli mahal, takut harga turun lagi. Tapi kalau beli murah, petani juga keberatan. Jadi kami terpaksa menunggu informasi harga dari pabrik terlebih dahulu,’’ sebut Win.
Win mengatakan, kondisi serupa bukan hanya terjadi di Kabupaten Seluma, namun juga dialami hampir di seluruh daerah sentra sawit lainnya. Fluktuasi harga yang terlalu cepat membuat pengusaha RAM kesulitan menjaga kestabilan usaha mereka.
Di sisi lain, para petani sawit juga mulai mengeluhkan penurunan harga tersebut. Sebab, hasil panen yang sebelumnya diharapkan mampu meningkatkan pendapatan keluarga kini justru menurun drastis.
Bahkan, sebagian petani memilih menunda panen karena khawatir harga akan semakin jatuh. Para pelaku usaha berharap pemerintah daerah maupun pihak perusahaan dapat memberikan kepastian harga agar tidak terjadi gejolak yang terlalu tajam di lapangan.
Selain merugikan pengusaha RAM, kondisi ini juga dinilai berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perkebunan sawit.
‘’Harapan kami tentu ada kestabilan harga. Jangan sampai turun drastis seperti sekarang, karena yang paling terdampak itu petani dan pengusaha kecil,’’ tutup Win.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial mengungkapkan, jika dua hari ini harga TBS mengalami penurunan drastis. ‘’Ini merupakan dinamika dan situasional dari harga ekspor CPO yang sewaktu waktu mengalami naik dan turun,’’ ungkap Arian.
Ketika ditanya lebih lanjut, soal anjloknya harga TBS Kelapa Sawit di Kabupaten Seluma, mereka akan bersurat ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu. ‘’Yang jelas ini sebuah dinamika, namun tetap akan kita tindaklanjuti dengan bersurat ke Pemprov,’’ imbuh Arian singkat. (RSL)





