Home Hukum Kuota BBM Subsidi di Bengkulu Cukup Tapi Langka Terus, Ulah Mafia ?

Kuota BBM Subsidi di Bengkulu Cukup Tapi Langka Terus, Ulah Mafia ?

Antrean BBM di salah satu SPBU Bengkulu.

BencoolenTimes.com, – Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah merespon serius ihwal kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi di Bengkulu yang terjadi setiap tahunnya.

Oleh sebab itu, Gubernur meminta agar penyebab kelangkaan BBM Subsidi yang terjadi diinverstigas secara serius, mengingat PT Pertamina menyatakan bahwa kuota BBM Solar Bersubsidi untuk Bengkulu mencukupi sesuai jumlah kendaraan sasaran subsidi dan tingkat aktivitas ekonomi Bengkulu.

Gubernur menyebut, dengan cukupnya kuota BBM Subsidi, seharusnya kelangkaan dan antran panjang tidak terjadi. Namun faktanya, antrean kendaraan kerap terjadi. Hal itu bisa dipantau di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) baik dalam Kota Bengkulu maupun luar kota.

“Pertamina menyatakan bahwa kuota itu sudah disetujui, sesuai jumlah kendaraan dan tingkat aktivitas ekonomi Bengkulu. Tetapi kenapa ini antrian panjang sekali dan sangat mengganggu. Sangat sulit menertibkan,” ungkap Gubernur pada 2 Januari 2024.

Kuat dugaan, kelangkaan tersebut dikarenakan pendistribusian BBM Solar bersubsidi tidak tepat sasaran, bahkan dinikmati pihak yang tidak berhak.  Terlebih lagi, selisih harga BBM Solar bersubsidi dengan BBM Solar Industri cukup tinggi. Tak menutup kemungkinan, kelangkaan BBM akibat ulah mafia atau
oknum-oknum yang melakukan kecurangan demi mendapatkan keuntungan.

“Sesuai analisa, BBM solar bersubsidi harganya Rp 6.000-an sedangkan yang industri Rp 23.000-an. Jadi memang jauh sekali, nah ini yang membuat sangat rentan. Jadi perlu untuk ditelusuri dan diinvestigasi sebenarnya berapa kuota yang disetujui dan berapa yang disalurkan,” jelas Gubernur.

Gubernur menyatakan, terkait dengan ketersediaan BBM bersubsidi khususnya solar perlu mendapat perhatian sangat serius.

“Dilakukan pengawasan untuk memastikan bahwa kuota BBM yang diusulkan dan disetujui, dipasok Pertamina untuk kepentingan masyarakat Bengkulu betul-betul sampai kepada masyarakat yang berhak menerimanya. Dipastikan dari seluruh POM bensin yang ada,” jelas Gubernur.

Gubernur menilai dengan langkah investigatif diharapkan dapat menemukan solusi yang tepat untuk meningkatkan distribusi BBM bersubsidi yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Kita berharap seluruh elemen, termasuk media dapat bersinergi dan membantu untuk keadilan dalam distribusi BBM bersubsidi ini,” demikian Gubernur.

Sementara, Sales Area Manager Retail PT. Pertamina Bengkulu, Mochammad Farid Akbar membenarkan bahwa terdapat selisih harga cukup besar untuk harga jual Solar bersubsidi dan Solar Industri.

Mengacu pada harga tahun 2023 lalu, harga solar bersubsidi masih di angka Rp 6.800/liter sementara untuk solar Industri berfluktuasi per periode sesuai harga pasar yang berlaku dengan rentang harga Rp 18.000/liter – Rp 22.000/liter.

Sementara menjawab pembelian solar Industri menurut Farid yang rutin melakukan pembelian ke PT. Pertamina adalah PLN, beberapa konsumen tambang dan beberapa konsumen perusahaan perkebunan dengan total penjualan BBM Solar Industri per hari kisaran 80 – 100 Kilo Liter (KL) sementara untuk BBM Solar Bersubsidi per hari terdistribusi kisaran 240 – 260 KL. (BAY)

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!
Exit mobile version