
BencoolenTimes.com – Merawat kembali satu persatu sumber penghidupan Perempuan Petani Kopi, adalah yang dilakukan Siti Hermi, salah seorang penggerak Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu saat ini.
Diungkapkan Siti Hermi, dirinya sama sekali tak pernah menduga, keputusan bersama suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal.
Satu per satu sumber penghidupan di kebun kopi yang menjadi penopang hidup keluarganya perlahan hancur. ‘’Khususnya cabai rawit, yang menjadi penopang utama keluarga saya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, saat sebelum musim panen kopi,’’ ungkap Siti, saat diwawancarai di rumah Ketua Koppi Sakti Bengkulu, Supartina Paksi.
Perubahan cara memperlakukan kebun kopi tersebut, kata Siti, yaitu menyemprot rerumputan yang tumbuh di lantai kebun kopi dengan herbisida kimiawi.
‘’Biasanya hanya dirigas (ditebas) dan dirumput (disiangi). Setelah mendapat saran dari penyuluh, supaya lebih cepat dan mudah, saya dan suami pun mulai meracun rumput,’’ kata Siti.
Tidak disangka, kenang Siti, beberapa waktu setelah penyemprotan herbisida kimia, masalah mulai muncul. Daun cabai rawit mengeriting, warnanya menguning, bahkan muncul bercak-bercak putih, lalu satu per satu daunnya berguguran.
‘’Meranting, kalau kami menyebutnya, karena tidak ada lagi daunnya, hanya tinggal ranting. Buahnya juga keriting, bantut (mengering) dan menghitam,’’ kenang Siti.
Awalnya, sambung Siti, mereka menganggap hal tersebut lumrah karena kematian terjadi pada beberapa pohon. Kematian tersebut disikapi dengan menyulam atau mengganti pohon cabai rawit yang mati dengan bibit baru.
Namun ternyata dan tidak disangka, masalah juga muncul pada pohon kopi berumur muda, yang mengalami kematian lebih cepat. Dimana hari ini segar, besoknya tiba-tiba sudah mati alias mati gadis.
‘’Kalaupun ada yang tetap hidup, paling tinggi batangnya hanya sebatas pinggang, daunnya kecil-kecil dan buahnya juga tidak banyak. Umurnya juga paling lama hanya tiga tahun,’’ sambung Siti.
Dilanjutkan Siti, terhadap masalah tersebut, mereka menceritakannya kepada penyuluh. Solusi yang disarankan penyuluh adalah menyemprot cabai rawit dengan pestisida kimia.
Mereka disarankan untuk menyemprot dengan obat (pestisida kimia), namun lama kelamaan, penyemprotan obat juga tidak memberikan hasil maksimal. Bahkan, bibit yang baru tumbuh di persemaian pun mengalami masalah yang sama, yaitu mati di persemaian.
Akhirnya, sekitar 2016 atau 2017, Siti dan suaminya memutuskan berhenti menanam cabai rawit di sela-sela pohon kopi. Karena semakin lama, semakin tidak memberikan hasil atau sudah tidak bisa diharapkan lagi.
‘’Bahkan, secara ekonomi, kami terus mengalami kerugian. Walau berat untuk berhenti menanam cabai rawit, hal tersebut terpaksa harus dilakukan,’’ lanjut Siti.
Menurut Siti, kondisi cabai rawit sebelum mereka meracun rumput sangat jauh berbeda, karena jelas tidak ada masalah serius. Batangnya bisa sebesar pergelangan tangan orang dewasa, daunnya rimbun, ukurannya lebar-lebar, dan berwarna hijau mengkilap.
Bahkan buahnya sangat lebat, tinggi batangnya bisa lebih tinggi dari orang dewasa dan umurnya bisa mencapai lima tahun. Hal tersebut merupakan berdasarkan pengalamannya bersama suami menanam cabai rawit sejak 2003 hingga 2007, serta pengalamannya membantu orang tua saat masih remaja atau sejak 1996.
‘’Dulu, diajarkan Mak, kalau cabai rawit sudah kurang produktif atau berumur sekitar dua tahun, pohonnya dirobohkan agar menyentuh tanah, lalu batangnya diberi penahan kayu bercabang,’’ cerita Siti.
Kemudian, batang cabai rawit yang roboh di tanah ditimbun dengan serasah dan nantinya akan muncul tunas-tunas baru. Setelah tinggi tunas sekitar sedepo (dari ujung jari hingga siku tangan) atau berumur 3 bulan, semua ranting beserta daun yang tua diseping (dipotong).
‘’Biasanya, satu atau dua bulan kemudian, sudah bisa panen lagi. Dulu, di sekitar pohon cabai rawit dibiarkan serut (banyak rumput), dan sesekali dirigas,’’ sampai Siti menceritakan pengalamannya terhadap Cabai Rawit.
Hanya saja, Siri kembali menjelaskan, pola tanam cabai rawit yang dilakukan Siti setelah menikah tidak persis sama dengan yang dipelajarinya dari orang tua.
Dimana kalau dulu, menanam hanya di sebelah kiri dan kanan pohon kopi atau dua pohon di setiap pohon kopi. Tapi yang dilakukannya saat ini, mulai di kiri, kanan, depan dan belakang atau empat pohon di setiap pohon kopi.
Selain itu, dirinya juga mengubah pola panennya, yang dulu memanen sekaligus, dua minggu sekali. Namun sekarang dirinya mengubah pola panen menjadi seminggu sekali.
Minggu ini, panen di bagian ini dan minggu depan panen di bagian lainnya. Sehingga setiap minggu bisa memanen dan menjualnya, serta selalu memperoleh pendapatan.
Menurut Siti, Ibunya pernah berpesan agar dia menanam cabai rawit di sela-sela pohon kopi jika berkebun kopi setelah menikah. Karena dengan menanam rawit, mereka tidak akan menjual tenaga ke kebun orang lain, asal rajin menanam dan merawat, cabai rawit bisa membantu menghidupi keluarga.
Lebih jauh, Siti mengutarakan, tidak hanya pada rawit, masalah juga terjadi pada kopi. Secara perlahan, satu per satu pohon kopi mulai bermasalah.
Mulai meranting, dahan mengecil, daun menguning, pohon mudah tumbang, Batang mulai ditumbuhi jamur, Ranting dan batang pecah-pecah. ‘’Serta Buah Kopi mulai berkurang, Pohon Kopi juga mulai banyak mati dan pernah kami menyulam hingga 500 batang,’’ kata Siti.
Lebih jauh Siti menceritakan kembali, sejak pertengahan tahun 2024, bersama perempuan petani kopi lainnya, mereka mulai menerapkan kembali sejumlah kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi untuk membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim.
Secara bertahap, Siti dibantu suaminya membuat lubang angin (mini rorak), menanam pepohonan multi tujuan, tidak lagi menggunakan herbisida kimia dan memanfaatkan hasil penyiangan rumput. Serta pemangkasan daun dan ranting kopi sebagai mulsa organik, lalu mengolah mulsa organik menjadi pupuk organik di lubang angin.
Meski masih berproses, Siti telah menyaksikan berbagai dampak positif pada kopi mereka secara langsung. Seperti batang lebih kokoh, dahan lebih panjang, daun lebih rimbun dan hijau, bunga lebih lebat, bunga dan putik lebih lengket.
Kemudian, buah lebih lebat, buah busuk sebelah dan berlubang mulai berkurang, kulit buah lebih mengilap dan buah lebih padat atau terasa lebih berat. ‘’Khusus kopi, hasil tahun ini (2025) mencapai 1,7 ton dan tahun lalu (2024) hanya 700 kilogram,’’ ungkap Siti lagi.
Siti juga mengakui mulai mencoba menanam cabai rawit di sela-sela pohon kopi. Bahkan tahun ini, dengan bantuan dari Nusantara Fund, mereka menyemai bibit cabai rawit untuk dibagikan kepada perempuan petani kopi yang membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim.
Meskipun memang, Siti juga mengaku trauma menanam Cabai Rawit, dirinya tetap mencoba dengan menanaman sembarangan. ‘’Itupun hanya sekitar 50 batang yang saya tanam dekat lubang angin, tetapi tidak pernah saya rawat seperti yang lainnya,’’ aku Siti lagi.
Tak disangka, pohon cabai rawit yang ditanam di dekat lubang angin tumbuh subur dan berbuah lebat. Tingginya bahkan lebih tinggi dari orang dewasa, daunnya besar-besar, berwarna hijau mengilap dan buahnya banyak.
‘’Setelah dipanen, ternyata hasilnya lumayan, dimana panen pertama sekitar dua kilogram dan panen kedua sekitar sembilan kilogram,’’ sampai Siti lagi.
Melihat hasil tersebut, keberanian Siti dan suaminya untuk kembali merawat cabai rawit di sela-sela pohon kopi pun tumbuh perlahan. Lalu mereka mulai menyusun langkah ke depan.
‘’Ukuran lubang angin akan diperbesar dan lubang angin juga akan dimaksimalkan pemanfaatannya untuk membuat pupuk organic. Termasuk kemungkinan memperbanyak jumlah lubang angin di kebun kopi,’’ imbuh Siti.
Ditambahkan Siti, dari berbagai dampak positif pada kopi dan cabai rawit, dia menilai langkah membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim telah berkontribusi pada pemulihan kesuburan tanah, kecukupan air dan makanan.
Sekaligus, penciptaan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan kopi, cabai rawit dan tanaman lainnya. ‘’Dengan demikian, tidak hanya memperbaiki sumber penghidupan yang ada, tetapi juga bisa merawat kembali sumber-sumber penghidupan yang dilupakan,’’ pungkas Siri.(OIL)





