BencoolenTimes.com – Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan (Zulhas), menargetkan partainya masuk tiga besar nasional pada Pemilu 2029.
Target itu disampaikan saat melantik pengurus DPW dan DPD PAN se-Provinsi Bengkulu di Hotel Mercure Bengkulu, Jumat, 1 Mei 2026.
Zulhas menyampaikan optimisme meski PAN selama ini berada di papan tengah peta politik nasional.
”Kami dari partai nomor lima, tapi tidak usah khawatir, 2029 insya Allah kita akan jadi tiga besar,” ujar Zulhas.
Zulhas menilai konsistensi PAN dalam mendukung pemerintahan Prabowo Subianto menjadi salah satu modal politik penting untuk memperkuat posisi partai.
”Kita setia kepada cita-cita dan perjuangan. Kesepakatan kita ingin meneruskan cita-cita Indonesia merdeka,” katanya.
Pelantikan pengurus PAN Bengkulu ini dinilai menjadi bagian dari konsolidasi organisasi di daerah untuk menghadapi agenda politik mendatang.
Struktur baru DPW PAN Bengkulu dipimpin Helmi Hasan sebagai ketua wilayah. PAN Bengkulu diharapkan memperkuat basis dukungan sekaligus berkontribusi pada target nasional partai.
Dikesempatan itu, Zulhas juga menyoroti arah kebijakan ekonomi nasional yang menurutnya perlu kembali pada prinsip dasar Pancasila dan UUD 1945, khususnya Pasal 33 yang menekankan asas kekeluargaan.
Menurut dia, praktik ekonomi selama puluhan tahun reformasi cenderung bergeser ke arah pasar bebas yang dinilai lebih menguntungkan kelompok bermodal besar.
”Pasar bebas artinya yang mengatur adalah yang kuat uangnya. Padahal kita negara dengan asas gotong royong,” ujarnya.
Ia mencontohkan sektor pertanian dan perkebunan yang disebutnya mengalami ketimpangan, ketika peran rakyat semakin terpinggirkan oleh dominasi pelaku usaha besar. Zulhas juga menyinggung sektor peternakan dan distribusi pangan yang dinilainya kini banyak dikuasai perusahaan besar sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat kecil.
Dalam konteks pangan, ia mengklaim kebijakan pemerintah mulai menunjukkan hasil, termasuk capaian tidak adanya impor beras pada 2025 serta peningkatan produksi nasional.
”Kalau kita tidak impor beras, yang untung petani Indonesia. Produksi kita juga naik,” tutupnya. (JUL)






