Home Pemprov Bengkulu Bengkulu di Ambang Pusaran Krisis Iklim, Hutan Tersisa Jadi Benteng Terakhir

Bengkulu di Ambang Pusaran Krisis Iklim, Hutan Tersisa Jadi Benteng Terakhir

Bengkulu di Tengah
Gambar: KKI Warsi

BencoolenTimes.com – Awal tahun 2026, sejumlah wilayah di Provinsi Bengkulu dilanda banjir diantaranya, Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kepahiang mengalami banjir secara bergantian sepanjang Januari hingga Februari.

Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut, disertai angin kencang yang menumbangkan pohon hingga baliho di sejumlah ruas jalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di masyarakat mengenai penyebab banjir yang semakin sering terjadi.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dipicu oleh aktivitas tiga bibit siklon tropis di Samudra Hindia. Salah satunya adalah bibit siklon 90S yang membawa angin kencang hingga 35 knot dan hujan lebat.

Fenomena tersebut menyebabkan gangguan pada berbagai aktivitas masyarakat di sejumlah daerah.

Di sisi lain, BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih cepat. Sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki kemarau pada April 2026, termasuk Bengkulu, Riau, dan Sumatera Barat yang diprediksi mengalami kemarau lebih kering.

Perubahan pola musim yang cepat ini, ditambah fenomena siklon tropis Senyar pada akhir 2025 hingga awal 2026 serta potensi kemarau panjang, menjadi indikasi adanya anomali iklim yang berkaitan dengan perubahan iklim global.

Perubahan iklim kini menjadi kenyataan yang semakin terasa dampaknya. Meski fenomena alam seperti siklon tropis tidak dapat dikendalikan, dampak kerusakan yang ditimbulkannya masih dapat diminimalkan.

Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, menegaskan bahwa hutan memiliki peran penting dalam menghadapi dampak krisis iklim.

”Hutan merupakan tameng alami yang melindungi masyarakat dari berbagai risiko bencana ekologis. Namun tameng tersebut kini semakin rapuh akibat perambahan dan alih fungsi lahan. Karena itu, menjaga hutan harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Adi Junedi, Rabu, 11 Maret 2026.

Namun, keberadaan hutan di Bengkulu juga menghadapi berbagai ancaman. Di antaranya pembukaan lahan, perambahan, kebakaran hutan, serta alih fungsi kawasan menjadi perkebunan sawit.

Menjelang musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan juga meningkat. Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan KKI Warsi, pada awal 2026 terdeteksi sebaran titik api di berbagai kabupaten dan kota di Bengkulu.

Tercatat terdapat 67 titik api, dengan tiga di antaranya berkategori confidence high. Data tersebut menjadi peringatan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau 2026 perlu diantisipasi secara serius.

Untuk memperkuat perlindungan hutan sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat, KKI Warsi bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan menjalankan sejumlah program.

Upaya tersebut meliputi penguatan mitigasi kebakaran hutan melalui pembentukan kelompok masyarakat patroli hutan, fasilitasi pengusulan perhutanan sosial di enam desa pada tiga kabupaten di Bengkulu, serta penguatan tata kelola hutan berkelanjutan.

Program ini juga diperkuat melalui forum dan kelompok kerja perhutanan sosial di tingkat daerah, serta pemberdayaan pemuda dan perempuan desa dalam pengelolaan sumber daya alam.

Selain itu, pendekatan ekonomi konservasi juga didorong dengan memberikan insentif bagi masyarakat yang menjaga hutan. Upaya adaptasi perubahan iklim juga dilakukan melalui penanaman mangrove serta pendampingan desa dalam implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim).

Momentum Ramadan 2026 yang berlangsung di tengah situasi ini menjadi pengingat penting tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga bumi. Dalam ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah yang memiliki amanah untuk merawat keseimbangan alam.

Karena itu, menjaga hutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Langkah sederhana seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar, menjaga kawasan hutan dari perambahan, serta mendukung praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan dapat menjadi kontribusi nyata dalam melindungi lingkungan.

”Dengan kolaborasi berbagai pihak, Bengkulu diharapkan tidak hanya mampu menghadapi ancaman bencana, tetapi juga membangun ketahanan ekologis melalui pengelolaan hutan yang lestari,” kata Adi.

Menjaga hutan berarti menjaga sumber air, menjaga pangan, serta menjaga masa depan generasi yang akan datang. (JUL)

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!
Exit mobile version