14.5 C
New York
Sunday, September 27, 2026

Buy now

spot_img

Dari Tatami ke Pimpinan Polda Bengkulu

spot_img

BencoolenTimes.com – Ada perjalanan yang tidak berhenti ketika seorang atlet meninggalkan arena. Nilai-nilai yang dibangun di atas tatami, yakni disiplin, keberanian, ketekunan, dan kemampuan bangkit setelah jatuh dapat menjadi bekal panjang dalam perjalanan pengabdian.

Kisah itu tercermin dalam perjalanan Irjen Pol Yudhi Sulistianto Wahid, S.I.K., Kapolda Bengkulu yang memiliki latar belakang sebagai atlet judo Indonesia dan pernah membawa nama Merah Putih di pentas internasional.

Lahir pada 22 Agustus 1972, Yudhi merupakan alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1996. Namun, jauh sebelum memasuki perjalanan panjang sebagai perwira Polri, namanya telah lebih dahulu dikenal di arena judo.

Salah satu catatan penting dalam perjalanan tersebut adalah keikutsertaannya dalam Olimpiade Barcelona 1992. Database International Judo Federation (IJF) mencatat nama Sulistianto Wahid Yudhi sebagai judoka Indonesia pada Olimpiade Barcelona 1992 kelas lightweight putra. Data Olympedia juga mencatat keikutsertaannya dalam ajang tersebut.

Catatan itu menempatkan Yudhi dalam bagian sejarah olahraga Indonesia yang tidak setiap atlet dapat mencapainya: menjadi Olympian.

Baca Juga  Diduga Palsukan Surat Klaim Kepemilikan Tanah, Ahli Waris Laporkan ZP alias BN ke Polda Bengkulu

Perjalanan di arena internasionalnya tidak berhenti di Olimpiade. Yudhi juga tercatat memperkuat Indonesia dalam empat edisi SEA Games, yakni Filipina 1991, Singapura 1993, Chiang Mai 1995, dan Jakarta 1997.

Yang menarik, perjalanan Yudhi di atas tatami ternyata belum benar-benar berakhir ketika ia memasuki dunia kepolisian.

Pada 2025, ketika telah menjadi perwira tinggi Polri, Yudhi kembali turun dalam kompetisi judo internasional. Dalam World Police and Fire Games (WPFG) 2025 di Birmingham, Alabama, Amerika Serikat, ia meraih medali emas nomor Men’s 73 kg Masters.

Di titik ini, kisahnya menjadi lebih dari sekadar catatan prestasi olahraga.

Seorang atlet yang pernah tampil di Olimpiade kembali bertanding dalam usia senior, bukan lagi sebagai bagian dari kontingen olahraga nasional, melainkan sebagai anggota kepolisian. Ia menunjukkan bahwa kompetisi dapat berhenti, tetapi semangat berlatih dan bertanding tidak harus ikut berhenti.

Baca Juga  Penyidikan Dugaan Pencurian TBS Belum Dibuka Kembali, Kuasa Hukum Minta Gelar Perkara Khusus Diulang

Perjalanan berikutnya membawa Yudhi semakin jauh dari tatami, tetapi tetap berada dalam semangat yang sama: disiplin dan pengabdian.

Kariernya di kepolisian antara lain mencatat jabatan Kapolres Majalengka, Kapolres Subang, Wadirresnarkoba Polda Banten, Kayanma Polri, hingga Karorenmin Bareskrim Polri.

Pada 2026, ia dipercaya menjadi Kapolda Bengkulu. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Inspektur Jenderal Polisi.

Dari sudut pandang perjalanan manusia, perpindahan dari arena olahraga ke institusi kepolisian memperlihatkan satu hal penting: prestasi tidak selalu berbentuk medali.

Ada prestasi yang berupa kemenangan di arena. Ada pula prestasi yang hadir dalam bentuk tanggung jawab ketika seseorang dipercaya memimpin dan melayani masyarakat.

Latar belakang sebagai atlet juga dapat menjadi modal pengalaman dalam memahami pentingnya pembinaan generasi muda. Dalam olahraga, seorang atlet tidak dibentuk hanya dengan bakat. Ia membutuhkan latihan, pendampingan, disiplin, kompetisi, dan lingkungan yang mendukung.

Baca Juga  Diduga Palsukan Surat Klaim Kepemilikan Tanah, Ahli Waris Laporkan ZP alias BN ke Polda Bengkulu

Nilai-nilai itulah yang relevan untuk terus dibawa dalam pembinaan olahraga, termasuk judo di Bengkulu.

Karena itu, perjalanan Yudhi Sulistianto Wahid menarik bukan semata-mata karena pernah tampil di Olimpiade atau kembali meraih emas dalam kompetisi kepolisian internasional. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menunjukkan kesinambungan antara olahraga dan pengabdian.

Dari tatami, ia belajar bertanding.

Dari perjalanan sebagai atlet, ia belajar disiplin.

Dari kepolisian, ia menjalani pengabdian.

Dan kini, sebagai Kapolda Bengkulu, pengalaman panjang tersebut menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinannya.

Bagi generasi muda judo Indonesia, kisah semacam ini menyampaikan pesan sederhana: karier seorang atlet tidak harus berakhir ketika kompetisi selesai. Nilai-nilai yang diperoleh dari olahraga dapat menjadi bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.

Tatami mungkin memiliki batas arena. Namun, pelajaran yang diperoleh di atasnya dapat dibawa ke mana saja. (OIL)

spot_img

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!