
BencoolenTimes.com – Dosen Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, Dr. Zico Junius Fernando, SH, MH kembali menegaskan eksistensinya dalam peta akademik nasional melalui capaian prestisius yang diraihnya.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, Dr.Zico Junius Fernando, dalam kurun tiga tahun berturut-turut, yakni 2024, 2025, dan 2026, ia berhasil meraih Juara I tingkat nasional pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam rangka HUT Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI).
Dosen Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, Dr.Zico Junius Fernando, dalam hal pencapaian ini, bukan sekadar kemenangan berulang dalam kompetisi ilmiah, melainkan sebuah hattrick akademik nasional yang mencerminkan konsistensi intelektual, kedalaman keilmuan, dan komitmen kuat terhadap pembaruan hukum di Indonesia.
Pada tahun 2024, Zico Junius Fernando meraih Juara I melalui karya berjudul ‘AI Hakim: Merevolusi Peradilan yang Berintegritas, Bermartabat, dan Meningkatkan Kesejahteraan Hakim’. Karya tersebut memperlihatkan keberanian akademik dalam membaca masa depan peradilan Indonesia di tengah percepatan perkembangan teknologi.
Dengan mengangkat gagasan tentang kecerdasan buatan dalam dunia peradilan, tulisan itu tidak semata menyoroti aspek inovasi, tetapi juga menempatkan integritas, martabat lembaga peradilan, dan kesejahteraan hakim sebagai fondasi etik yang tidak boleh ditinggalkan dalam proses modernisasi hukum.

Prestasi itu berlanjut pada tahun 2025, ketika ia kembali meraih Juara I melalui karya ilmiah berjudul ‘Forensic Neuroimaging: Revolusi Pembuktian Ilmiah dalam Reformasi Peradilan Pidana Indonesia’.
Melalui tema tersebut, Zico memperluas horizon kajian hukum dengan memasukkan dimensi interdisipliner antara hukum, neurosains, dan pembuktian pidana.
Karya ini menunjukkan bahwa hukum tidak dapat terus bergerak dalam pola lama yang tertutup terhadap perkembangan sains, terutama ketika sistem peradilan pidana dituntut untuk semakin akurat, rasional, dan responsif terhadap kemajuan teknologi pembuktian.
Keberhasilan tersebut kemudian mencapai puncak konsistensinya pada tahun 2026, ketika Zico Junius Fernando untuk ketiga kalinya secara berturut-turut kembali dinobatkan sebagai Juara I nasional melalui artikel berjudul ‘Neurolaw, Nemo Tenetur, dan Basis Konstitusional Pembacaan Aktivitas Neural dalam Proses Pidana’.
Tema ini memperlihatkan kematangan akademik yang lebih mendalam karena tidak hanya berbicara soal kemungkinan penggunaan teknologi pembacaan aktivitas neural dalam proses pidana, tetapi juga mengujinya dari sudut hak konstitusional, prinsip perlindungan terhadap tersangka atau terdakwa, dan doktrin nemo tenetur sebagai salah satu prinsip mendasar dalam hukum acara pidana modern.
Melalui karya ini, persoalan teknologi tidak dipandang sekadar sebagai alat bantu penegakan hukum, melainkan juga sebagai medan penting untuk menjaga keseimbangan antara efektivitas penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia.
Rangkaian kemenangan pada tahun 2024, 2025, dan 2026 tersebut menunjukkan satu benang merah yang kuat, seluruh karya yang dihasilkan tidak berdiri pada isu-isu permukaan, melainkan bergerak pada simpul-simpul paling strategis dalam pembaruan hukum nasional, khususnya pada persinggungan antara teknologi, etika, konstitusi, dan sistem peradilan.
Capaian ini tidak hanya merepresentasikan prestasi personal seorang dosen, tetapi juga memperlihatkan kapasitas keilmuan Fakultas Hukum Universitas Bengkulu dalam melahirkan gagasan-gagasan hukum yang progresif, relevan, dan bernilai kontribusi tinggi bagi perkembangan hukum Indonesia.
Bagi Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, prestasi ini memiliki makna yang sangat penting. Di tengah tuntutan agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga pusat produksi gagasan dan inovasi ilmiah, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa dosen FH UNIB mampu hadir dalam forum nasional dengan menawarkan pemikiran yang bernas, visioner, dan kompetitif.
Lebih dari itu, capaian ini menegaskan bahwa tradisi akademik di FH UNIB tumbuh di atas fondasi riset yang serius, keberanian intelektual, dan orientasi kuat pada kemanfaatan ilmu hukum bagi bangsa dan negara.
Hattrick Juara I Nasional ini juga patut dibaca sebagai simbol dari konsistensi akademik yang langka. Memenangi kompetisi ilmiah sekali dapat dipandang sebagai prestasi besar, namun mempertahankannya selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan kualitas yang jauh lebih mendalam, disiplin intelektual, ketajaman membaca problem hukum kontemporer, kemampuan merumuskan argumentasi ilmiah yang kuat, serta kecakapan menghubungkan isu-isu teoritik dengan kebutuhan reformasi hukum nasional.
Dalam konteks itulah, keberhasilan ini layak diapresiasi sebagai pencapaian institusional yang membanggakan bagi Universitas Bengkulu secara keseluruhan.
Prestasi Zico Junius Fernando di ajang LKTI HUT IKAHI sekaligus memperlihatkan bahwa dunia akademik hukum di daerah memiliki daya saing nasional yang sangat kuat.
Fakultas Hukum Universitas Bengkulu tidak hanya mampu hadir sebagai peserta dalam percaturan gagasan hukum nasional, tetapi juga tampil sebagai pemenang dengan karya-karya yang substansial, progresif, dan berorientasi pada masa depan.
Hal ini menjadi pesan penting bahwa kualitas akademik tidak ditentukan oleh letak geografis, melainkan oleh kesungguhan berpikir, ketekunan meneliti, dan keberanian menawarkan terobosan ilmiah.
Ke depan, capaian ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi seluruh sivitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa, untuk terus menumbuhkan budaya akademik yang unggul, produktif, dan berdaya saing.
Prestasi ini membuktikan bahwa karya ilmiah yang disusun dengan ketekunan, keberanian metodologis, dan kepekaan terhadap persoalan hukum aktual dapat menjadi sarana nyata untuk berkontribusi dalam pembaruan hukum nasional.
Fakultas Hukum Universitas Bengkulu pun semakin meneguhkan posisinya sebagai institusi yang tidak hanya mendidik sarjana hukum, tetapi juga melahirkan pemikir hukum yang mampu memberi arah bagi perkembangan sistem hukum Indonesia.
Dengan torehan Juara I Nasional LKTI HUT IKAHI selama tiga tahun berturut-turut pada 2024, 2025, dan 2026, Zico Junius Fernando telah menuliskan prestasi yang membanggakan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, Universitas Bengkulu, dan dunia akademik hukum Indonesia.
Capaian ini adalah penanda bahwa dari kampus merah Bengkulu, lahir gagasan-gagasan hukum yang sanggup berbicara di tingkat nasional dan memberi makna bagi masa depan peradilan Indonesia.(OIL/RLS)





