17.4 C
New York
Monday, September 21, 2026

Buy now

spot_img

Tiga Sampel MBG SDN 59 Tak Lolos Uji BPOM, SPPG Dinonaktifkan 10 Hari

spot_img

BencoolenTimes.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 59 Kota Bengkulu.

Penghentian operasional dilakukan selama 10 hari untuk memberikan waktu kepada SPPG melakukan perbaikan sekaligus menjadi bagian dari pengawasan dan pemantauan keamanan pangan.

Kebijakan tersebut diambil setelah hasil pemeriksaan laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu menemukan tiga dari enam sampel makanan MBG di SDN 59 tidak memenuhi syarat (TMS) mikrobiologi.

Hasil pemeriksaan tersebut tertuang dalam surat BPOM Bengkulu tertanggal 14 September 2026. Pemeriksaan dilakukan setelah tujuh siswa SDN 59 mengalami keluhan pusing, mual, muntah, dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG pada 4 September 2026.

Kepala Dinkes Kota Bengkulu, Nelli Hartati, membenarkan hasil pemeriksaan tersebut. Menurut dia, hasil laboratorium BPOM menjadi dasar bagi Dinkes untuk mengambil tindakan terhadap SPPG yang menyuplai makanan MBG.

”Surat sudah kita terima, beberapa sampel makanan ada yang tidak memenuhi syarat, namun ada juga yang memenuhi syarat,” ujar Nelli, Senin, 21 September 2026.

Dari enam sampel makanan yang diperiksa, tiga dinyatakan tidak memenuhi persyaratan mikrobiologi.

Sampel sayur tumis buncis dan wortel ditemukan mengandung bakteri Staphylococcus aureus sebanyak 1,8 x 10⁵ koloni per gram. Jumlah tersebut melampaui batas yang dipersyaratkan, yakni kurang dari 100 koloni per gram.

Bakteri juga ditemukan pada dua sampel ayam kaki naga atau sempol. Salah satu sampel mengandung Bacillus cereus sebanyak 1,4 x 10³ koloni per gram dan Staphylococcus aureus sebanyak 1,5 x 10³ koloni per gram.

Sementara satu sampel ayam kaki naga lainnya ditemukan mengandung Staphylococcus aureus sebanyak 4,4 x 10² koloni per gram.

”Sampel seperti sayur tumis buncis dan wortel, sampel ayam kaki naga tidak memenuhi syarat karena jumlah bakteri dalam kandungan melebihi ambang batas,” jelas Nelli.

Atas temuan tersebut, Dinkes Kota Bengkulu memberikan sanksi penghentian sementara operasional SPPG selama 10 hari.

Selama masa penghentian, SPPG diwajibkan melakukan perbaikan. Dinkes juga akan memperketat pengawasan dan pemantauan sebelum pelayanan kembali berjalan.

Perbaikan tidak hanya menyangkut makanan yang telah diperiksa, tetapi juga proses penyediaannya, mulai dari pengolahan, kebersihan, penyimpanan hingga distribusi makanan ke sekolah.

Dari enam sampel yang diperiksa, tiga sampel dinyatakan memenuhi syarat. Sampel tersebut yakni tahu goreng dan dua sampel kentang kukus.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kandungan nitrit pada tahu goreng dan kedua sampel kentang kukus negatif. Sementara jumlah bakteri yang diperiksa masih berada di bawah ambang batas yang dipersyaratkan.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan BPOM menunjukkan tiga sampel memenuhi syarat dan tiga lainnya tidak memenuhi syarat berdasarkan parameter mikrobiologi yang diperiksa.

Nelli mengatakan temuan Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus menjadi perhatian dalam pemeriksaan keamanan pangan.

Dalam konteks penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan, kedua bakteri tersebut dapat menjadi indikator apabila jumlahnya melebihi batas yang dipersyaratkan.

Sementara itu, tujuh siswa SDN 59 yang sebelumnya mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG kini dinyatakan dalam kondisi sehat.

Ke tujuh siswa sebelumnya mendapat penanganan medis di Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu setelah mengalami pusing, mual, muntah, dan sakit perut.

Hasil pemeriksaan terakhir menyatakan kondisi ketujuh siswa membaik dan tidak mengalami gangguan kesehatan serius.

Temuan laboratorium BPOM menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya terkait keamanan pangan.

Evaluasi tidak hanya diperlukan terhadap makanan yang telah dibagikan, tetapi juga seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, kebersihan peralatan, proses pemasakan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi ke sekolah.

Penghentian sementara selama 10 hari diharapkan menjadi kesempatan bagi SPPG untuk melakukan pembenahan. Setelah operasional kembali berjalan, pengawasan Dinkes diperlukan untuk memastikan makanan MBG yang disalurkan kepada siswa memenuhi persyaratan keamanan pangan. (JUL)

spot_img

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!