BencoolenTimes.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu menggelar Bencoolen Regional Investment and Economic Forum (BRIEF) 2026 di salah satu hotel di Kota Bengkulu, Senin, 12 Oktober 2026.
Forum ini menjadi upaya memperkuat promosi investasi, memperluas pasar ekspor, dan menarik investor asing untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Mengusung tema “Connecting Opportunities, Driving Economic Transformation”, kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), akademisi, pelaku usaha, serta delegasi dan calon investor dari sejumlah negara.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan, forum tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi ajang memperkenalkan potensi dan keindahan Bengkulu, tetapi juga menghasilkan kerja sama bisnis yang konkret dan saling menguntungkan.
Dalam paparannya, Wahyu menyebutkan realisasi investasi Provinsi Bengkulu mencapai Rp 2,285 triliun hingga semester I 2026. Angka tersebut setara 49,77 persen dari target investasi tahunan sebesar Rp 5,70 triliun.
Menurut dia, penguatan promosi investasi dan perdagangan perlu terus dilakukan untuk menarik investor sekaligus memperluas akses pasar ekspor bagi komoditas unggulan Bengkulu.
”Kinerja perekonomian daerah juga menunjukkan tren positif. Pada triwulan II 2026, ekonomi Bengkulu tumbuh 5,11 persen secara tahunan (year on year), didukung konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi,” kata Wahyu.
Selain itu, kredit investasi tumbuh 25,87 persen secara tahunan pada periode yang sama. Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan usaha dan kapasitas produksi di daerah.
BI menilai Bengkulu memiliki peluang investasi yang besar, terutama pada sektor komoditas berorientasi ekspor, seperti kopi, kelapa sawit, karet, batu bara, dan gaharu.
”Salah satu capaian yang menjadi perhatian adalah ekspor perdana 19,2 ton kopi robusta Bengkulu ke Italia. Ekspor tersebut diharapkan membuka akses ke pasar internasional yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi kopi Bengkulu di pasar global,” ungkapnya.
Upaya menarik investasi juga dilakukan melalui penguatan jejaring investor, peningkatan kesiapan proyek yang ditawarkan, serta dukungan terhadap kepastian perizinan.
Di sektor pariwisata, BI bersama pemerintah daerah mendorong penyusunan peta jalan pariwisata dan buku paket wisata untuk meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus membuka peluang kemitraan bisnis. Promosi pariwisata juga diperluas dengan melibatkan lebih dari 110 kreator konten.
Sementara itu, Wakil Gubernur Bengkulu Mian menegaskan pentingnya hilirisasi komoditas unggulan daerah, terutama kopi dan crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah.
Menurut Mian, hilirisasi menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah, memperkuat daya saing produk, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Bengkulu.
Upaya tersebut, kata dia, sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8 persen.
”Forum investasi Bengkulu tahun 2026 ini tentunya menjadi momentum yang strategis bagi pemerintah daerah untuk benar-benar menyampaikan, memarket potensi-potensi daerah kita,” kata Mian.
Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi Bengkulu berkomitmen mendorong hilirisasi kopi, CPO, dan berbagai produk unggulan lainnya untuk meningkatkan investasi di daerah.
”Komitmen Bapak Gubernur sudah jelas bahwa hilirisasi menjadi satu kehadiran, baik itu hilirisasi kopi maupun CPO serta produk-produk unggulan lainnya. Semua adalah untuk mengakselerasikan agar program Asta Cita Bapak Presiden Prabowo juga bisa dijemput di Provinsi Bengkulu melalui peningkatan investasi,” ujarnya.
Selain hilirisasi, Pemprov Bengkulu mendorong percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk kelanjutan jalan tol dan pengembangan jalur kereta api untuk logistik.
Konektivitas tersebut dinilai penting untuk memperlancar distribusi barang, meningkatkan efisiensi biaya logistik, dan mendukung aktivitas perdagangan serta industri.
BRIEF 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda, mulai dari Investment Talks, Investment Project Pitching, dan Business Matching, hingga pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta komoditas ekspor unggulan Bengkulu.
Melalui forum tersebut, pemerintah daerah dan BI berharap penjajakan dengan investor internasional dapat berlanjut menjadi kemitraan bisnis dan realisasi investasi.
Dengan demikian, potensi sumber daya alam Bengkulu tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (JUL)





