5.7 C
New York
Wednesday, January 14, 2026

Buy now

spot_img

Enggan Menjadi Korban Sunyi di Tengah Bencana Kecil Krisis Iklim yang Berkepanjangan

Baca Dalam 5.54 mintues

BencoolenTimes.com – Desmi Yati tertegun sejenak di bawah dedaunan hijau salah satu pohon kopi. ‘Di sini lebih banyak’, katanya pelan, seolah enggan memberitahukan.

Buah-buah kopi hijau muda dan hijau tua yang mulai mengusam, berukuran kecil hingga sedang, berserakan di antara buah kopi yang sudah hitam membusuk dan dedaunan cokelat tua kehitaman yang menggulung kering di lantai kebun yang agak padat. Daun-daun itu berderak saat kaki Desmi melangkah perlahan menjauh dari pohon kopi.

Kami pun perlahan mendekat, merunduk ke bawah dedaunan kopi, lalu memungut satu per satu buah kopi hijau tersebut. Jumlahnya mungkin mencapai ratusan.

Ketika kami kumpulkan di kedua telapak tangan Supartina Paksi, buah-buah kopi itu membentuk gundukan yang meluap hingga ke ujung jari-jari dan pangkal tangannya.

Mata Supartina enggan menatap lama tumpukan buah kopi itu. Ia menunduk ke arah lantai kebun, lalu perlahan meletakkannya di dekat pangkal pohon.

‘’Jangan-jangan ini gugur akibat hujan deras selama beberapa hari belakangan ini?,’’ tanya Supartina pada dirinya sendiri.

‘’Musim hujan belum berakhir. Semoga ya Allah,’’ sambungnya.

Kami pun membatalkan rencana untuk melihat lantai kebun di bawah pohon kopi lainnya dan bergerak meninggalkan kebun kopi tersebut.

Panjang Pikiran

Sabtu (10/1/26) siang itu, penggerak Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kepahiang yang terdiri dari Supartina Paksi, Siti Hermi, Desmi Yati dan Hariyanti mempersilakan saya mengikuti mereka menyusuri 15 kebun kopi di Desa Batu Ampar yang mulai berubah.

Mereka ingin melihat bibit-bibit durian, alpukat, nangka, jengkol, dan kabau yang belum lama ini ditanam oleh para pemilik kebun, sekaligus melihat kondisi lubang angin yang telah dibuat sebelumnya.

Penanaman bibit pepohonan penghasil buah itu merupakan bagian dari gerakan bersama untuk membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim. Sesuai dengan kesepakatan, pemilik kebun menanam 50 batang bibit untuk setiap hektare kebun kopi. Pepohonan itu diharapkan tumbuh bersama kopi, merawat tanah, menjaga air, serta menyehatkan ekosistem kebun kopi.

Selain itu, tajuk pepohonan tersebut diharapkan bisa memayungi bunga dan buah kopi dari tetesan air hujan yang kini kerap membesar dan menderas, terpaan angin yang semakin sering mengencang, dan sengatan matahari yang terasa semakin mendekat.

‘’Kalau melihat banyak buah kopi berguguran seperti tadi, otomatis kami jadi sedih dan cemas. Mulai panjang pikiran,’’ kata Siti saat beristirahat di beranda samping kiri rumah Hariyanti, tak lama setelah meninggalkan kebun kopi yang banyak pohonnya mengalami gugur buah.

‘’Palingan ngoceh dengan pohon kopi itulah lagi. Mengapa? Karena bagi kami perempuan petani kopi, pohon kopi adalah tempat berharap dan berkeluh kesah,’’ tambah Siti dengan suara memelan.

Kesehatan Kebun dan Pohon Kopi

‘’Merutuk itulah lagi, aiiii… gara-gara hujan, banyak buah kopi gugur,’’ sambung Desmi.

‘’Tapi sebenarnya, musim hujan bisa menjadi waktu yang tepat untuk melihat kebun dan pohon kopi itu sehat atau tidak. Kalau banyak buah kopi gugur, itu menandakan kebun dan pohon kopi kita kurang sehat,’’ kata Desmi.

Sambil melepaskan topi kain biru dari kepalanya, Desmi menambahkan, ‘’Begitu juga dengan musim panas, kalau banyak bunga kopi mutung kehitaman dan buah kopi hitam mengering, itu menandakan kebun dan pohon kopi kurang sehat,’’ tambahnya.

Melupakan Warisan

Menanam beragam pepohonan penghasil buah di kebun kopi merupakan salah satu langkah mereka untuk menerapkan kembali cara berkebun yang diwariskan oleh datuk, nenek, serta orang tua. Mereka tidak mengetahui secara pasti sejak kapan cara berkebun tersebut mulai ditinggalkan dan beralih dengan hanya menanam pohon res di antara pohon kopi.

Namun, yang Supartina ingat, suaminya mulai memangkas pohon res agar tidak melebar ke samping, bahkan menebang sebagian pohon res setelah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan instansi pemerintah pada tahun 2018.

‘’Katanya, supaya pohon kopi bisa mendapatkan banyak sinar matahari. Selain itu, akar pepohonan lain dianggap merusak pohon kopi. Pohon kopi juga dianggap kalah rebutan makanan dengan pepohonan lainnya,’’ kata Supartina sembari menggeser gelas berisi kopi panas dari nampan plastik merah yang dibawa Hariyanti dari dalam rumah.

‘’Tapi, yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Tanah perlahan mengering, daun-daun kopi menguning dan gugur. Bunga kopi banyak yang mutung saat musim panas, dan buah kopi mulai banyak yang gugur ketika musim hujan,’’ kata Supartina.

Pada tahun 2020, mereka mulai membibitkan durian, alpukat, nangka, jengkol, kabau dan aren untuk ditanam di kebun kopi. Setelah bibit siap untuk ditanam, mereka membagikannya kepada perempuan petani kopi lainnya.

‘’Pembagian bibit dilaksanakan pada pertengahan tahun 2021. Namun, tidak banyak yang mau menanamnya. Diambil, tapi tidak ditanam,’’ kata Supartina.

Suaminya pun termasuk yang kurang setuju. ‘’Dipindahkan oleh Bapak ke pinggir kebun. Hanya beberapa batang yang dibiarkan tumbuh di antara pohon kopi,’’ sebut Supartina.

Mengumpulkan Cara Lain

Tak menyerah, menjelang akhir tahun 2023, mereka mengumpulkan cara-cara lain yang diwariskan pendahulu dalam berkebun kopi yang telah dilupakan untuk diterapkan kembali.

Setelah saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, mereka bersepakat untuk juga menanam rempah dan sayuran di sela-sela pohon kopi, selain pepohonan penghasil buah.

Mereka juga bersepakat untuk mengendalikan rerumputan secara manual, memanfaatkan hasil tebasan rumput dan pangkasan dedaunan dan ranting pohon kopi menjadi mulsa organik, lalu memanfaatkan mulsa organik dan bahan organik lainnya menjadi pupuk organik, membuat lubang angin (mini rorak), menggunakan pestisida alami, serta membuat tempat penampungan air hujan.

‘’Untuk memulihkan sekaligus merawat kesehatan kebun dan pohon kopi, tidak cukup hanya dengan menanam pepohonan penghasil buah,’’ kata Desmi.

Menegosiasikan Kesepakatan

Mereka juga menegosiasikan kesepakatan untuk menerapkan kembali cara-cara yang diwariskan pendahulu dalam berkebun kopi untuk menjadikan kebun kopi yang mereka namakan Kebun Kopi Tangguh Iklim itu kepada keluarga, tokoh masyarakat dan pemerintah desa.

Tak lupa, mereka juga mengajak perempuan petani kopi lainnya. Tak disangka, jumlah perempuan petani kopi yang berminat ikut membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim mencapai 58 orang, baik yang berkebun di dalam maupun luar kawasan hutan.

‘’Kami tidak membedakan lokasi kebun,’’ kata Supartina.

Selanjutnya, 15 orang perempuan petani kopi lainnya juga bergabung untuk membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim sehingga menjadi 73 orang.

Pulihnya Kesehatan Kebun Kopi

Dengan berhenti menggunakan racun rumput, membuat 150 unit lubang angin dan menanam 50 batang bibit beragam pepohonan penghasil buah per hektare, menerapkan mulsa organik serta menggunakan pupuk organik mulai pada pertengahan hingga akhir 2024, secara perlahan kesehatan kebun kopi mulai pulih pada awal 2025.

‘’Tanah sudah tidak subur bisa dilihat dari rumput yang tumbuh. Kalau rumput yang tumbuh berdaun keras, berbatang keras, dan pendek, seperti rumput ekor tikus, itu tandanya tanah sudah tidak subur. Kalau dicabut, agak susah, rumput seakan lengket di tanah,’’ kata Siti.

Sebaliknya, pada tanah yang subur, rerumputan yang tumbuh berdaun lunak, berbatang tidak keras, tinggi, serta mudah dicabut.

‘’Tidak lengket di tanah. Jenis rumput yang tumbuh biasanya seperti rumput seso besak, seso pipit dan jabung. Tanah yang subur, kalau diinjak, kaki kita seperti tercelup karena lembab. Beda dengan tanah yang tidak subur atau gersang, tanahnya keras dan padat. Dengan kembalinya kesuburan tanah, pohon kopi pun berangsur sehat kembali,’’ ujar Hariyanti sembari memindahkan nampan plastik merah ke sebelah kaki kanannya.

Pulihnya Kesehatan Pohon Kopi

Pulihnya kesehatan pohon kopi ditandai dengan batang yang menjadi lebih kokoh, bagian pangkal pohon tidak ikut bergoyang ketika batang digoyang-goyang, dan daun yang menguning mulai berkurang. Selain itu, daun lebih lebat, warna daun lebih tua dan mengkilap.

Buah pun lebih lebat dengan warna cerah dan mengkilap, serta tidak mudah gugur. ‘’Lebih lengket. Buah yang gugur berkurang jauh. Mudah-mudahan nanti ketika pepohonan penghasil buah yang kami tanam sudah besar, tidak ada lagi bunga yang mutung dan tidak ada lagi buah yang gugur,’’ kata Hariyanti.(**)

 

Penulis: Dedek Hendry (Jurnalis Senior sekaligus Aktivis Lingkungan)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!