14.8 C
New York
Saturday, May 23, 2026

Buy now

spot_img

Cetak Sawah Baru Versus Mengolah Sawah Lama

BencoolenTimes.com – Cetak Sawah baru versus mengolah Sawah lama, akan menjadi tantangan tersendiri bagi kepemimpinan Helmi Hasan sebagai Gubernur Bengkulu periode 2025-2030.

Cetak Sawah baru bersus mengolah Sawah lama, kalimat ini muncul dengan adanya angina segar bahwa Gubernur Bengkulu Terpilih, Helmi Hasan bertemu Menteri pertanian RI Andi Amran Sulaiman beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan tersebut, diinformasikan bahwa Provinsi Bengkulu akan mendapatkan kuncuran danauntuk mencetak Sawah baru mencapai 2.000 hektare. Semoga menjadi kenyataan dan merupakan modal untuk menuju swasembada pangan di Provinsi Bengkulu.

‘’Soal sawah ini, mengingatkan saya dan banyak orang pada suasana sawah masa lalu. Sawah di Propinsi Bengkulu sudah ada sejak dahulu kala,’’ sebut Syaiful Anwar AB, pengamat Bidang Ekonomi Provinsi Bengkulu.

Sawah tadah hujan adalah bagian terbesar, kata Syaiful dan Sawah irigasi hanya ada di beberapa tempat. Sebut saja di wilayah Kemumu Bengkulu Utara ada sejak zaman pra kemerdekaan.

Selebihnya adalah sawah tadah hujan, serta diolah hanya sekali dalam setahun. Tapi, cukup untuk makan penduduk kala itu, karena manusia memang masih sedikit.

Belakangan tahun 1980 an, sampai Syaiful, baru muncul dan dibuat irigasi baru seperti Air Seluma, Air Lais, Air Manjuto dan Air Nipis Bengkulu Selatan.

Baca Juga  Terobosan Helmi Hasan: Bayar Pajak Kendaraan di Bengkulu Tanpa KTP Pemilik Awal

Namun demikian, belakangan karena (mungkin) kelalaian saluran irigasi banyak tak berfungsi dan banyak yang rusak, akibatnya, banyak terjadi alih fungsi lahan sawah menjadi kebun sawit, sampai terjadi krisis padi.

‘’Padi sudah berkurang banyak dan hal ini, jika tidak disadari serta dikelola dengan baik, akan berakibat krisis pangan. Semoga saat ini pemerintah menyadari hal tersebut,’’ sambung Syaiful.

Sekarang, lanjut Syaiful, mulai tahun 2025 ini akan dicetak sawah baru, cetak sawah itu harus ada beberapa persyaratan dan ciri-cirinya.

Mulai dari keberadaan Air, dimana salah satu ciri utama sawah adalah adanya sumber air yang tersedia untuk pertumbuhan tanaman padi.

‘’Kemudian syarat dan ciri lain, Topografi yang datar atau sedikit miring, sistem Tanggul dan Parit, Tanah yang lembab dan berair, serta budidaya Padi sebagai tanaman utama,’’ lanjut Syaiful.

Jadi, jelas Syaiful, pembukaan lahan merupakan kegiatan membuka atau membersihkan lahan yang awalnya hutan atau ditanami pepohonan menjadi lahan yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan, terutama untuk cetak sawah.

Baca Juga  Gubernur Bengkulu Adopsi 5 Pohon Asuh di Hutan Lindung, WARSI: Komitmen Nyata Jaga Kelestarian Alam

Sawah baru adalah sawah yang baru dicetak atau dikonstruksi dan belum mengalami pembentukan lapisan tapak bajak (plow layer) yang terpenuhi kebutuhan airnya dari sumber air setempat. Sawah yang dicetak, apakah sawah tadah hujan atau lahan irigasi.

Jika sawah yang mau dicetak pada saluran irigasi yang ada, menurut Syaiful, maka ada persoalan apakah lahannya tersdedia atau lahan yang pernah dicetak sudah beralih fungsi. ‘’Ini harus diselesaikan terlebih dahulu, atau di difinisikan secara jelas terlebih dahulu, karena kalau tidak akan bermasalah di kemudian hari,’’ jelas Syaiful.

Bagaimana kalau irigasi tidak ada, tambah Syaiful, lahan terhampar luas juga tidak tersedia, maka disarankan mencari lahan yang luasnya mungkin 50 hektare sampai 200 hektare yang ada aliran sungai kecil, maka bisa dibuat irigasi kecil atau embung sederhana sebagai sumber air.

‘’Bila ide ini dapat dilaksanakan, maka lahan yang diminta 2.000 hektare bisa didapat dan mungkin bisa dilaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu lama,’’ tambah Syaiful.

Sawah dimaknai masyarakat, ungkap Syaiful lebih jauh, bukan sematamata tanaman ekonomis, yang hasilnya menjadi patokan ekonomi keluarga. Tapi Sawah lebih identik sebagai bentuk ketahanan pangan masyarakat. Masyarakat tradisional, bila bahan pangan (padi) ada, kekhawatiran hidup susah berkurang, bila padi tidak tersedia itulah masalah. Persoalan sekarang adalah, sarana dan prasarana sawah itu yang sulit, sehingga Sawah dianggap susah dan sulit.

Baca Juga  Seluma Juara Umum MTQ XXXVII Tingkat Provinsi Bengkulu 2026

Akhirnya timbul pikiran lain, bertanam sawit sajalah, ada uang beli saja beras, selesai. Pemikiran seperti inilah yang menjadikan lahan sawah beralih fungsi dan ini tidak boleh dibiarkan.

Fungsi lain dari sawah ditinjau dari segi lingkungan, adalah sebagai ekosistem untuk mengurangi dampak kerusakan akibat banjir, erosi dan menjaga kualitas air sungai, tempat menyimpan karbon, penyeimbang kondisi iklim dan pengendalian hama.

Khusus untuk Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu, maka program embung dan percetakan sawah dapat bersinergi dalam rangka penanganan banjir.

‘’Jadi, disekitar Taba Penanjung dibangun embung, untuk mengalihkan air pada saat hujan, sehingga tidak semua air melaju ke Kota Bengkulu, tapi ditahan dalam embung. Kemudian disalurkan secara pelan, setelah masuk dalam embung/kolam/DAM, mudah-mudahan gagasan ini, dapat direalisasikan,’’ demikian Syaiful.(OIL)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!