12 C
New York
Sunday, May 31, 2026

Buy now

spot_img

Aktivis Andrie Yunus Disiram, Malah Tumbuh “Andrie Baru”

BencoolenTimes.com – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus menuai reaksi keras dari berbagai kalangan gerakan sipil. Alih-alih membungkam, aksi teror tersebut justru dinilai memicu lahirnya lebih banyak suara kritis dari masyarakat, khususnya mahasiswa dan aktivis.

Aktivis senior di Bengkulu, Veri Van Dalis, menyebut peristiwa tersebut sebagai pukulan telak bagi gerakan sipil yang selama ini aktif mengkritisi kebijakan negara. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan gerakan tetap sama, yakni menjadi penyeimbang agar negara tidak salah mengambil langkah.

”Ini pukulan telak, tapi bukan untuk membungkam. Justru ini memperlihatkan bahwa gerakan tetap hidup dan akan terus ada,” sebut Veri saat podcast di Studio BencoolenTimes, Selasa, 17 Maret 2026.

Ia menyoroti bahwa kasus penyiraman air keras bukanlah hal baru. Peristiwa ini dinilai memiliki kemiripan dengan kasus yang pernah menimpa penyidik KPK Novel Baswedan, yang hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan.

Menurutnya, pola serangan yang menyasar wajah dengan air keras bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan bentuk teror yang bertujuan menimbulkan trauma dan ketakutan.

”Ini bukan pembunuhan, tapi efeknya panjang. Korban mengalami kerusakan fisik dan trauma. Ini bentuk pembungkaman dengan cara menakut-nakuti,” jelasnya.

Veri juga menegaskan, meskipun banyak pihak mengaitkan kasus ini dengan sikap kritis Andrie Yunus terhadap revisi Undang-Undang TNI, semua pihak harus tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.

”Kita tidak boleh langsung menuduh. Bisa saja ada pihak ketiga yang ingin mengadu domba,” katanya.

Meski demikian, ia menilai negara harus hadir secara serius dalam mengusut kasus ini. Ia mendesak aparat penegak hukum untuk menjadikan kasus tersebut sebagai perhatian khusus.

”Negara harus ambil alih. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada jaminan keamanan bagi masyarakat sipil,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan BEM SI Bengkulu, Kelvin, menilai kejadian tersebut kuat dugaan telah direncanakan. Ia melihat adanya kejanggalan karena lokasi kejadian justru terekam oleh banyak kamera pengawas.

”Kalau kejahatan biasa, pelaku pasti cari tempat sepi dan tidak terpantau. Tapi ini justru banyak CCTV. Seolah-olah memang ingin viral dan memberi efek takut,” ujarnya.

Kelvin menduga tujuan utama dari aksi tersebut adalah menciptakan teror psikologis bagi aktivis dan mahasiswa agar enggan bersuara.

”Pesannya jelas, jangan bergerak, jangan mengkritik. Tapi justru ini membuat kami semakin waspada dan solid,” tambahnya.

Ia juga menyebut bahwa jaringan mahasiswa, termasuk BEM SI, telah melakukan konsolidasi dan diskusi untuk merespons kejadian ini, baik melalui pernyataan sikap maupun langkah advokasi.

Di sisi lain, Aktivis GMNI Bengkulu, Widesyah Putra, mengingatkan bahwa dampak teror ini tidak hanya menyasar aktivis, tetapi juga masyarakat sipil secara luas.

Menurutnya, fenomena chilling effect mulai terasa, di mana individu menjadi takut untuk menyampaikan pendapat karena khawatir menjadi target berikutnya.

”Ini yang berbahaya. Ketakutan itu bisa menyebar, bukan hanya ke aktivis, tapi ke masyarakat umum,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa rasa takut tidak boleh menghentikan perjuangan. ”Kita tidak boleh diam. Kalau kita diam, justru itu yang mereka inginkan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, kasus ini sendiri masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian. Sejumlah bukti, termasuk rekaman CCTV, telah diamankan oleh berbagai pihak untuk menghindari hilangnya barang bukti.

Di tengah situasi tersebut, satu hal yang menguat di kalangan aktivis adalah semangat solidaritas. Teror yang dimaksudkan untuk membungkam justru memunculkan simbol perlawanan baru.

”Andrie Yunus boleh diserang, tapi hari ini muncul banyak ‘Andrie Yunus’ baru,” tutup Veri. (JUL)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!