BencoolenTimes.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu kembali melanjutkan kegiatan skrining atau tes HIV/AIDS pada Minggu, 15 Februari 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dan upaya menekan lonjakan kasus HIV di Kota Bengkulu.
Sebelumnya, skrining dilakukan terhadap terapis wanita di sejumlah tempat usaha pijat. Kali ini, tim menyasar kos-kosan di wilayah Kelurahan Kebun Beler yang penghuninya diduga melakukan praktik prostitusi daring melalui aplikasi kencan.
Dalam kegiatan tersebut, Camat Ratu Agung Subhan Gusti Hendri turut mendampingi petugas. Untuk memastikan informasi, camat terlebih dahulu melakukan pemesanan melalui aplikasi dan mendapati lokasi terduga Pekerja Seks Komersial (PSK) berada di salah satu kos di Kebun Beler.
Setelah camat berada di dalam kamar kos dan bertemu dengan perempuan yang dipesan, tim yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes, Nelli Hartati bersama Kasat Pol PP, Sahat Marulitua Situmorang langsung menyusul ke lokasi. Turut hadir Staf Ahli Wali Kota Eddy Apriyanto, perwakilan DPMPTSP, Dinas Pariwisata, serta Lurah Kebun Beler.
Petugas kemudian menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk melakukan tes HIV terhadap penghuni kos yang diduga membuka praktik prostitusi.
Di lokasi, petugas mendapati lima perempuan di kamar berbeda. Tiga di antaranya diduga melakukan praktik Open Booking Online (BO) melalui aplikasi kencan. Dua perempuan lainnya berada di kamar bersama pasangan masing-masing.
Salah satu perempuan yang dipesan melalui aplikasi diketahui masih berusia 17 tahun, sementara temannya berusia 19 tahun. Seorang perempuan lain sempat menolak mengikuti tes HIV dengan alasan bukan PSK.
Saat proses skrining berlangsung, Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, tiba di lokasi. Ia berbincang langsung dengan para penghuni kos dan menanyakan latar belakang mereka.
Salah satu perempuan mengaku berasal dari Bengkulu Tengah, sementara lainnya berdomisili di wilayah Hibrida sesuai KTP.
Dedy Wahyudi menyampaikan, skrining ini dilakukan karena terjadi peningkatan kasus HIV di Kota Bengkulu. Ia menyebutkan, jika sebelumnya penularan banyak terjadi akibat penggunaan jarum suntik bersama, kini kasus lebih banyak disebabkan hubungan seksual berisiko.
Menurutnya, yang memprihatinkan adalah banyak penderita berasal dari usia produktif. Ia juga menyoroti masih adanya anak di bawah umur yang terlibat dalam praktik prostitusi daring.
Walikota turut menegur Ketua RT setempat yang dinilai kurang peduli terhadap aktivitas di lingkungan kos-kosan. Ia meminta seluruh Ketua RT, lurah, dan camat untuk memastikan rumah kos disewakan sesuai peruntukannya dan tidak dijadikan tempat praktik prostitusi terselubung.
”Kalau itu dibiarkan dan tidak cepat kita atasi, maka bisa terjadi lonjakan besar ke depan. Kita ingin kota ini dijauhkan dari berbagai persoalan sosial dan kesehatan. Jangan sampai kita abai,” tegas Dedy.
Pemerintah Kota Bengkulu memastikan kegiatan pengawasan dan skrining akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di wilayah tersebut. (JUL/RMC)



