17.2 C
New York
Sunday, October 25, 2026

Buy now

spot_img

Air Mata Walikota di Rumah Menyatu dengan Kandang Ayam

spot_img

BencoolenTimes.com – Rabu siang, 7 Januari 2026, Jalan Penantian di Kelurahan Pematang Gubernur mendadak sunyi. Bukan karena hujan atau kemacetan, melainkan karena haru yang menggantung di udara. Di ujung jalan itu, sebuah rumah kayu tua berdiri tertunduk, seolah ikut menanggung beban hidup penghuninya.

Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, datang dengan niat sederhana: menyerahkan bantuan kursi roda kepada seorang warga bernama Pandi. Namun niat baik itu berubah menjadi peristiwa yang menggores hati siapa pun yang menyaksikannya.

Begitu melangkah masuk, Dedy terdiam. Rumah kayu itu bukan sekadar rapuh dan reyot. Bangunan sempit tersebut menyatu langsung dengan kandang ayam. Bau pengap menusuk hidung, lantai tanah terasa dingin, dan hampir tak ada sirkulasi udara. Di tempat itulah Pandi menjalani hari-harinya, terbaring tak berdaya, berjuang dalam keterbatasan.

Baca Juga  Kain Batik Besurek Pukau Perhatian Pengunjung di Pemeran Kriyanusa 2026

Air mata sang walikota pun tak terbendung.

”Mohon maaf, ini sudah sangat tidak layak. Bagaimana mungkin warga kita tinggal menyatu dengan kandang ayam seperti ini,” ucap Dedy dengan suara bergetar.

Kenyataan pahit tak berhenti di situ. Dari balik dinding kayu yang lapuk, tersimpan kisah pilu lain. Anak bungsu Pandi terpaksa putus sekolah. Bukan karena malas belajar, melainkan karena luka batin yang terus menghantui. Ia kerap menjadi korban perundungan, dikucilkan oleh teman-temannya akibat kondisi rumah dan ekonomi keluarga yang jauh dari kata layak.

Baca Juga  Empat Tahun LEKAD, Walikota Dedy Wahyudi Minta Perluas Peran dalam Pembangunan Daerah

Cerita itu membuat hati Dedy kian teriris.

Tanpa menunggu lama, ia langsung mengambil langkah tegas. Di hadapan camat, lurah, dan jajaran terkait, perintah pun dikeluarkan.

”Kasihan mereka. Anaknya korban bullying, tinggal satu atap dengan ayam. Carikan kontrakan hari ini juga. Pindahkan mereka sekarang, jangan ditunda lagi,” tegasnya.

Meski rumah Pandi berdiri di atas lahan bukan milik pribadi, Pemerintah Kota Bengkulu berkomitmen melakukan rehabilitasi sementara agar bangunan tersebut setidaknya memenuhi standar kelayakan hunian. Namun bagi Dedy, keselamatan dan kesehatan keluarga Pandi menjadi prioritas utama.

Baca Juga  Pemkot Bengkulu Wacanakan Program Beasiswa Kuliah Anak Kurang Mampu dan Berprestasi

Untuk sementara, mereka harus segera dipindahkan ke tempat tinggal yang lebih manusiawi—rumah yang memberi ruang bernapas, bukan sekadar bertahan hidup.

Kisah di Jalan Penantian siang itu menjadi cermin bagi banyak pihak. Di balik angka-angka pembangunan dan laporan di meja kerja, masih ada warga yang menunggu uluran empati. Dan hari itu, empati hadir bukan dalam pidato panjang, melainkan dalam air mata dan tindakan nyata. (JUL/RMC)

spot_img

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!