-1.7 C
New York
Tuesday, March 3, 2026

Buy now

spot_img

Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi, Masifkan Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim

BencoolenTimes.com – Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi, masifkan Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim. Hal ini menjadi salah satu upaya Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim yang tidak lagi hanya sekadar dianggap relevan, melainkan harus semakin di masifkan.

Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

‘’Justru harus dimasifkan,’’ kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, saat ditemui di ruang kerjanya.

‘’Terutama di daerah-daerah hulu DAS yang bentang alamnya sudah berubah menjadi kebun-kebun kopi. Sehingga meminimalkan risiko bencana longsor dan banjir yang bisa berdampak ke hilir,’’ sambung Fajrin.

Sebagaimana diketahui, gerakan membangun kebun kopi tangguh iklim yang diinisiasi oleh perempuan petani kopi di Kepahiang dan Rejang Lebong yang tergabung dalam Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu.

Kegiatan dilakukan dengan menghidupkan kembali berbagai kearifan atau praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Berbagai kearifan atau praktik lokal tersebut meliputi mengembangkan pola polikultur dengan menanam pepohonan MPTS. Seperti pohon nangka, alpukat, durian, jengkol, petai, kabau dan lainnya, serta tanaman sayuran dan rempah.

Kemudian membuat lubang angin (mini rorak) minimal 150 unit dengan ukuran minimal 30×30 cm dan kedalaman 30 cm. Tidak melakukan pembakaran, tetapi membiarkan hasil pengendalian rerumputan secara manual dan pemangkasan pohon kopi, maupun pohon lainnya menjadi serasah atau mulsa organic.

Tidak hanya itu, memanfaatkan sekam kopi dan serasah menjadi pupuk organik, menggunakan pestisida hayati, serta membuat kolam penampungan air hujan.

Kurangi Risiko Bencana

Bukan Hanya untuk Keberlanjutan Kebun Kopi

Dari berbagai kearifan/praktik lokal tersebut, Fajrin menilai, kearifan/praktik lokal seperti mengembangkan pola polikultur, membuat lubang angin (mini rorak), membiarkan hasil pengendalian rerumputan secara manual dan pemangkasan pohon kopi, serta pohon lainnya menjadi serasah.

Kemudian membuat kolam penampungan air hujan sangat selaras dengan konservasi tanah dan air untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

‘’Justru seperti itulah petani kopi seharusnya mengelola kebun kopinya. Bukan hanya penting untuk keberlanjutan kebun kopinya dari aspek ekonomi, sosial dan ekologi, tetapi juga untuk meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi yang bisa berdampak ke hilir,’’ kata Fajrin yang juga merupakan Ketua Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.

Untuk memasifkan gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim, Fajrin mengatakan, pemerintah daerah bisa memberikan dukungan dengan menguatkan kapasitas dan memberikan bantuan kepada perempuan petani kopi lainnya yang belum membangun kebun kopi tangguh iklim, dan membuat regulasi. ‘’Regulasi penting untuk memasifkannya,’’ ujar Fajrin.

Kurangi Risiko Bencana

Pengajuan Rekomendasi Kebijakan

Sebelumnya, Koppi Sakti Bengkulu telah mengajukan Rekomendasi Kebijakan berjudul Berdayakan Perempuan Petani Kopi untuk Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dan menyerahkan surat permohonan agar difasilitasi untuk membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim yang ditandatangani oleh perwakilan perempuan petani kopi di 20 desa kepada Pemda Kepahiang dan Pemda Rejang Lebong.

Menanggapi pengajuan surat permohonan dan rekomendasi kebijakan tersebut, Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata mengatakan, akan meminta Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang untuk melakukan kajian dan telaah, terutama dari aspek regulasi (peraturan). ‘’Intinya, saya amat sangat mendukung inovasi ini,’’ kata Nata.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi mengatakan, akan menyampaikan rekomendasi kebijakan dan surat permohonan dari perempuan petani kopi yang diterimanya kepada Bupati Rejang Lebong M. Fikri Thobari. ‘’Insya Allah kita akan berkolaborasi,’’ kata Suradi.(OIL)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!