Home Info Kota Junda, Lurah Langka Berhati Mulia

Junda, Lurah Langka Berhati Mulia

Oleh

DEDY WAHYUDI

SAYA kagum sama Pak Lurah ini, saya malu, amalnya segunung, saya iri, hatinya sangat ikhlas dan mulia. Dan saya bangga punya Lurah seperti dia.

Di Kota Bengkulu ada program GPY (gerakan peduli yatim). Seluruh pejabat menjadi orang tua asuh. Maka, 1.500 anak yatim kini punya orang tua asuh.

Setiap bulan pejabat menyantuni “anak-anaknya”. Dan memastikan keperluan sekolah. Umumnya, anak asuh tetap tinggal dengan ibunya.

Namun berbeda dengan Lurah Betungan, Juanda. Dia punya 2 anak asuh. Yang satu berumur 5 tahun dan satunya lagi 2 tahun. Si anak sebaya cucunya, tinggal di rumah Pak Lurah.

Kemarin, setelah meninjau rumah warga korban angin puting beliung, Pak Lurah Juanda menawarkan saya mampir ke rumahnya.

“Pak, bisa ke rumah sebentar? Ketemu dengan anak asuh saya dan ibunya,” ajak pak Lurah.

“Baik,” jawab saya.

Begitu sampai di kediamannya, saya langsung diajak ke kamar. “Ini Pak, ibu Yani,” kata Lurah.

Mata saya tertuju pada kaki dan betis  Nopri Yani yang bengkak seukuran paha orang dewasa. Praktis tak bisa apa-apa. Berhari-hari hanya terbaring. 

Bu Yani, cerita Pak Lurah, awalnya tinggal di bedengan. Dia sakit-sakitan. Divonis dokter sakit jantung bocor dan gangguan fungsi ginjal. Efeknya, kakinya bengkak.

Tak lama kemudian, dua bocah perempuan masuk. “Ini anak Yani Pak. Dua anak ini, dua bapak. Suami pertama meninggal. Menikah lagi, suaminya meninggal lagi,” cerita Lurah.

“Saya bilang sama istri. Bagaimana mungkin Yani mengurusi anaknya yang balita. Mengurusi dia sendiri saja susah. Lalu istri menawarkan agar Yani dan anaknya tinggal di rumah kami,” cerita Lurah.

Apakah Pak Lurah dengan Yani masih keluarga? Sama sekali tak ada hubungan darah. Murni, karena keterpanggilan kemanusiaan.

Kini, Pak Lurah dan keluarganya selain mengurusi dua anak yatim, juga mengurusi Yani yang terbaring lemah. 

Saya sedih melihat penderitaan Bu Yani. Kasihan dengan 2 balita perempuan. Sekaligus salut dan bangga dengan Pak Lurah Betungan.

Kisah Yani ini, lebih dramatis dari cerita sinetron. Bahkan mengalahkan Drakor (drama korea). Sebab Yani ini, dari kecil tak bertemu dengan ayahnya. Hingga sekarang.

Menikah pertama suami meninggal. Menikah lagi, suami meninggal lagi. Anak masih Balita. Kini sakit jantung bocor, ginjal dan kaki bengkak seperti sakit kaki gajah.

Walau hidup penuh ujian dan cobaan, namun Yani masih beruntung ada program GPY Pemkot. Berntung Ketemu orang tua asuh Lurah Betungan, Juanda yang berhati mulia. 

Langka kita menemukan Lurah seperti ini. Dan ternyata, Pak Lurah ini memang terkenal hobi membantu masyarakat. Jauh sebelum ada program GPY, dia sudah mengangkat 3 anak yatim. 

Yang satu, sudah kerja di Bandara Takengon, satu jadi pengusaha, satu lagi masih kuliah di Unsri. “Ini foto anak asuh saya Pak,” ujarnya menunjukkan foto.

Pak Lurah Juanda merintis ASN dari nol. Diangkat PNS tahun 1990, ijazah SD golongan Ia. Namun dia seorang pekerja keras hingga punya usaha vulkanisir ban. 

Dia punya hobi. Apa itu? Hobi Membantu orang. Makanya, dia yakin rezeki datang dari Allah. Asbab menolong anak yatim, janda dan fakir miskin, hidupnya kini bahagia. 

Dia bentuk CMB (Cendekiawan Muslim Betungan) semacam ICMI tingkat Kelurahan. Kemudian, ada Perkumpulan sosial Peduli Umat.

Bersama Perkumpulan Peduli Umat, CMB dan LPM aksi sosial rutin dilakukan. Dengan menghimpun dana masyarakat, CSR perusahaan di Betungan, Pak Lurah menyantuni warga miskin, anak yatim dan janda miskin. (*)

Penulis Plt Walikota Bengkulu dan wartawan senior Bengkulu