asd
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Tolak Revisi Undang-undang, Ratusan Mahasiswa Demo DPRD

BencoolenTimes.com, – Ratusan mahasiswa kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu demo di depan Gedung DPRD Provinsi Bengkulu, menolak revisi Undang-undang, nulai revisi Undang-undang TNI/POLRI, UU Penyiaran, Selasa (25/6/2024).

HMI juga mendesak pemerintah untuk mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat dan PP Nomor 21 Tahun 2024 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2020 tentang penyelenggaraan tabungan perumahan rakyat.

Ketum HMI Cabang Bengkulu, Anjar Wahyu Wijaya mengatakan, revisi UU tersebut akan mencederai hak demokrasi dimuka publik.

“Kami mendesak DPR RI melalui DPRD Provinsi Bengkulu untuk menolak RUU tersebut. Termasuk menghentikan RUU Penyiaran,” terang Anjar dalam orasinya.

Tidak hanya itu, kader HMI juga mendesak pemerintah untuk menghentikan tindakan kriminalisasi terhadap aktivis. Termasuk menuntut aparat penegak hukum untuk menghentikan segala tindakan represifitas terhadap aktivis.

“HMI juga mendesak pemerintah untuk merevisi Undang-undang ITE yang dinilai menjadi alat kriminalisasi oleh oknum penegak hukum terhadap aktivis,” ungkapnya.

Anjar menegaskan, pihaknya juga mendesak Kemendikbud Ristek untuk mencabut Permendikbud nomor 2 tahun 2024. Sebab, Permendikbud tersebut dinilai memberi ruang Perguruan Tinggi (PT) dalam melakukan praktek komersialisasi pendidikan.

“UKT yang tinggi, akan mengurangi generasi penerus bangsa untuk kuliah. Kami dengan tegas, agar  Permendikbud tersebut bisa dicabut,” tutur Anjar.

Dalam aksi tersebut, para kader HMI mencoba untuk memaksa masuk ke Gedung DPRD Provinsi Bengkulu. Meski sempat terjadi dorong-dorongan antara kader HMI dengan aparat kepolisian. Namun masih bisa ditahan oleh aparat kepolisian yang menjaga demonstrasi.

Dari perwakilan DPRD Provinsi Bengkulu, mencoba menemui pendemo. Ada Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu Edwar Samsi dan anggotanya Zainal, serta Zulasmi Octarina, termasuk Sekwan DPRD Provinsi Bengkulu Erlangga.

Hanya saja, upaya menemui pendemo itu, gagal untuk menerima aspirasi. Sebab, para anggota dewan yang telah menunggu lama, tidak juga diberikan kesempatan berbicara. Maka para anggota dewan itu, memutuskan untuk meninggalkan para pendemo.
Para pendemo, akhirnya memutuskan untuk kembali menggelar orasi. Tidak hanya itu, pendemo juga melakukan pembakaran ban bekas di tengah jalan. Sebagai tanda, telah terbakarnya demokrasi di Indonesia.

Anjar menegaskan, meski tuntutannya tidak jadi disampaikan ke DPRD Provinsi Bengkulu. Namun pihaknya telah membacakan tuntutan tersebut di depan Gedung DPRD Provinsi Bengkulu.

“Maka nanti, kami akan membuat aksi kembali, untuk menyampaikan aspirasi kami. Agar bisa diterima dan ditindaklanjuti,” tandasnya. (OIL)

Related Articles

Latest Article

admin2
admin2
Untuk Informasi lebih lanjut tentang berita yang anda baca silahkan menghubungi kami. +6281382248493
error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!