BencoolenTimes.com – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu terus memperkuat komitmennya dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah monitoring dan pendampingan terhadap persiapan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi Balita, Ibu Hamil, dan Ibu Menyusui (3B).
Kegiatan pemantauan ini berlangsung pada Jumat, 22 Agustus 2025 sekitar pukul 13.30 WIB di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ratu Samban Anggut Atas 2, Jalan Suka Jadi, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Zamhari, SH, MH, menyampaikan keberhasilan program MBG 3B tidak hanya bergantung pada distribusi makanan, tetapi juga pada kesiapan teknis, integrasi data, serta peran aktif kader dan tenaga kesehatan di lapangan.
“MBG 3B bertujuan untuk menekan angka stunting dan malnutrisi, terutama bagi balita yang belum terlayani PAUD, serta ibu hamil dan menyusui. Kuota saat ini terdiri dari 90 persen anak sekolah dan 10 persen ibu hamil serta menyusui,” ujar Zamhari.
Dapur umum untuk program ini dikelola langsung oleh SPPG Ratu Samban Anggut Atas 2. Target awal penerima manfaat di wilayah Kelurahan Suka Jadi diperkirakan mencapai 3.500 orang.
Zamhari menambahkan, secara teknis program ini dijalankan oleh Kementerian Pembangunan Kependudukan dan BKKBN, bekerja sama dengan SPPG Badan Gizi Nasional (BGN). Selain distribusi makanan bergizi, program ini juga mengusung misi edukasi gizi kepada masyarakat.
“MBG 3B bukan hanya soal memberi makanan gratis, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya pola makan sehat dan gizi seimbang sebagai pondasi generasi bebas stunting,” tambahnya.
Saat ini, terdapat enam titik SPPG aktif di Kota Bengkulu yang telah mulai mendistribusikan MBG 3B, termasuk SPPG Ratu Samban Anggut Atas 2.
Sementara itu, Ketua Yayasan Siti Fhatma selaku pelaksana program, Lukita, menjelaskan bahwa dapur MBG 3B telah menerapkan standar operasional ketat, mulai dari kebersihan area masak, penggunaan penutup kepala dan sarung tangan, hingga pemilihan menu yang bergizi seimbang.
“Menu terdiri dari karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, buah, serta susu. Seluruh fasilitas sudah siap, kini tinggal menunggu proses launching,” kata Lukita.
Program ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif pada penguatan ekonomi lokal melalui pemanfaatan bahan pangan dari masyarakat sekitar.(JUL)



