BencoolenTimes.com – Mendaki Gunung Kaba di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, kini tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik. Pendaki juga wajib membawa kembali sampah yang dihasilkan selama berada di kawasan gunung.
Aturan tersebut diterapkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sumber Urip melalui pemeriksaan logistik sebelum pendakian dan pengecekan kembali saat pendaki turun.
Setiap barang yang berpotensi menjadi sampah, seperti botol minuman, bungkus makanan, dan kemasan plastik, didata di pos penjagaan. Barang yang dibawa naik kemudian dicocokkan kembali saat pendaki turun.
Ketua Pokdarwis Gunung Kaba Yulian Adi Pratama mengatakan sistem tersebut diterapkan untuk mengontrol sampah yang masuk ke kawasan pendakian.
”Sebelum naik, barang-barang yang berpotensi menjadi sampah kami data. Saat turun kami cek kembali. Kalau jumlahnya tidak sesuai, kami tanyakan ke pendaki,” kata Adi.
Menurut dia, sampah berukuran kecil masih menjadi persoalan di jalur pendakian.
”Filter rokok, plastik bekas jas hujan, bungkus makanan, itu yang sering luput. Ukurannya kecil, tetapi ketika ditinggalkan banyak pendaki, jumlahnya bisa menjadi masalah,” ujarnya.
Pokdarwis juga memberikan sanksi kepada pendaki yang terbukti meninggalkan sampah. Pendaki dapat diminta kembali ke lokasi untuk mengambil sampah yang ditinggalkan.
Selain itu, terdapat sanksi sosial berupa pembuatan video klarifikasi atau permintaan maaf yang diunggah melalui media sosial.
”Kami sudah membuat aturan. Kalau sampahnya tertinggal, pendaki harus bertanggung jawab. Salah satu sanksinya adalah kembali mengambil sampah tersebut. Untuk pelanggaran tertentu, ada juga sanksi sosial,” jelas Adi.
Penerapan aturan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya aktivitas wisata Gunung Kaba. Kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Rejang Lebong yang melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaannya.
Sekitar 100 warga Desa Sumber Urip terlibat dalam aktivitas wisata, mulai dari petugas penyelamatan, pemandu, ojek gunung, hingga pelayanan wisata lainnya.
Yulian mengatakan keberadaan wisata Gunung Kaba juga memberikan ruang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.
”Sekitar seratus warga terlibat dalam kegiatan wisata di Gunung Kaba. Ada rescue, guide, ojek dan lainnya. Aktivitas mereka juga bergantung pada keberlangsungan wisata di kawasan ini,” pungkasnya. (JUL)





