asd
Saturday, July 20, 2024
spot_img

Diperiksa Polda, Terduga Pemodal Tambang Batu Bara Ilegal Diminta Ini

BencoolenTimes.com, – Kasus tambang batu bara ilegal di Desa Kota Niur Kecamatan Semindang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah masih mentok pada dua tersangka yakni MA dan KS selaku operator alat berat dan koordinator lapangan.

Diduga dalan kasus ini melibatkan pemodal inisal H orang dari Jakarta. Informasi, terduga pemodal sudah diperiksa Polda Bengkulu namun status keterlibatannya belum jelas. Pasalnya, sejauh ini Polda Bengkulu belum ada menyampaikan perkembangannya meskipun media ini sudah berulangkali mengonfirmasi Dirreskrimsus Polda Bengkulu.

Terpisah, orang yang diduga pemodal tambang tersebut inisial H saat dikonfirmasi membenarkan dirinya telah menjalani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polda Bengkulu dan dimintai bukti sewa alat berat yang digunakan kedua tersangka untuk melakukan penambangan.

“Di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan diminta bukti sewa rental alat,” kata H melalui pesan WhatsApp, Selasa (13/16/2023).

Terduga H juga membantah memodali penambangan batu bara ilegal tersebut. Selain itu, H menyatakan bahwa alat berat yang digunakan menambang bukanlah miliknya melainkan merental.

“Saya gak pernah modalin MA dan alat itu di rental,” terang H.

Diketahui, kasus tambang batu bara ilegal di Desa Kota Niur Kecamatan Semindang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) yang ditangani Polda Bengkulu diduga terstruktur.

Baca Juga  Tewaskan Korban, Pelaku Penikaman Dibekuk Tim Gabungan Dalam Hitungan Jam

Berdasarkan informasi lapangan yang berhasil dihimpun media ini, awalnya tambang tersebut ditambang secara manual oleh masyarakat dan ditampung pengepul. Lantaran diduga pengepul ini mempunyai relasi di Jakarta yakni terduga pemodal.

Kemudian, terduga pemodal tersebut memodali dengan membelikan alat berat agar batu bara yang ditambang lebih banyak lagi. Diduga, guna menyamarkan keterlibatan pemodal, pembelian alat berat tersebut tidak menggunakan nama pemodala melainkan menggunakan nama pengepul.

Terkait hal ini, Ketua Front Pembela Rakyat (FPR) Provinsi Bengkulu, Rustam Efendi, SH menyebut, modus yang digunakan dalam melakukan penambangan ilegal cukup rapi.

“Permainannya cukup rapi, artinya sudah terstruktur dan sistematis,” kata Rustam.

Rustam menilai, dalan kasus ini banyak pihak yang terlibat, jadi tidak masuk logika hanya dua tersangka, terduga pemodal tentu ada, lalu jasa angkutan yang digunakan mengankut batu bara. Kemudian perusahaan yang digunakan menjual hasil penambangan ilegal tersebut dan beberapa rangkaian lainnnya.

“Dugaan kerugian negarannya tentu miliaran, kita minta Polda Bengkulu serius menangani ini. Ini bukan hanya siapa dua tersangka, tapi siapa dibalik tambang ilegal, ini bukan kasus biasa, tapi permainan mafia,” jelas Rustam.

Baca Juga  Sidang Pungli KIR : Pengawas Satuan Pelayanan UPPKB Akui Terima Setoran Hasil Pungli

Kasus tambang batu bara ilegal ini menuai sorotan publik, banyak pihak mulai dari organisasi masyarakat, Front Pembela Rakyat (FPR), Pusat Kajian Anti Korupsi (Puskaki), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) hingga DPRD Provinsi Bengkulu, mereka mendorong Polda Bengkulu mengungkap aktor lainnya yang terlibat dalam aktivitas tambang batu bara ilegal tersebut.

Pihak-pihak ini menilai ada aktor intelektual atau pemodal dibalik aktivitas tambang batu bara ilegal di kawasan Hutan Produksi tersebut. Oleh sebab itu, Polda Bengkulu diharapkan dapat mengungkapnya secara tuntas dan terang, lalu disampaikan ke publik.

Terlepas dari aktor intelektual dibalik tambang batu bara ilegal tersebut, mereka juga meminta Polda Bengkulu mengusut legalitas Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) yang digunakan para pelaku tambang batu bara ilegal. Terlebih lagi, khusus pengangkutan dan penjualan batu bara, tersangka menggunakan perusahaan atas nama CV. Laksita Buana.

Kasus tambang batu bara ilegal di Bengkulu Tengah ini info didapat media ini juga dimonitor pemerintah pusat, bahkan RI 1 turut memonitor.

Sekadar mengingatkan, dalam kasus ini, Tim Ditreskrimsus Polda Bengkulu menetapkan 2 tersangka yakni MA dan KS dalam kasus tambang batu bara ilegal. Polda juga mengamankan barang bukti dua unit alat berat jenis excavator di lokasi pertambangan, serta ribuan ton batu bara yang telah dikemas di dalam karung.

Baca Juga  Sidang Pungli KIR : Pengawas Satuan Pelayanan UPPKB Akui Terima Setoran Hasil Pungli

Peran masing-masing tersangka ini, selaku pengelola tambang ilegal dan operator alat berat. Penambangan batu bara diduga ilegal itu dilakukan sejak bulan November 2022 lalu. Modusnya, tersangka melakukan penambangan ilegal dengan menggali batu bara menggunakan alat berat jenis excavator.

Setelah batu bara digali, tersangka kemudian memperkerjakan orang untuk mengemas batu bara menggunakan karung. Selanjutnya, batu bara hasil penambangan ilegal tersebut dijual ke Jakarta menggunakan jasa angkutan darat.

Tersangka menjual batu bara hasil penambangan tanpa izin dengan menggunakan legalitas Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP). Khusus pengangkutan dan penjualan batu bara, tersangka menggunakan perusahaan atas nama CV. Laksita Buana, termasuk jasa angkutannya.

Kedua tersangka dijerat Pasal 158 Undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara. (BAY).

Related Articles

Latest Article

admin2
admin2
Untuk Informasi lebih lanjut tentang berita yang anda baca silahkan menghubungi kami. +6281382248493
error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!