15.6 C
New York
Saturday, April 25, 2026

Buy now

spot_img

Ditemukan Tulang Gajah Sumatera Berserakan di Bentang Alam Seblat Bengkulu

BencoolenTimes.com, – Tim patroli temukan tulang belulang Gajah Sumatera di wilayah HP Air Rami dengan koordinat 47 M X 808892 Y 9671611, Selasa (13/9/2022).

Kondisi Gajah tinggal tulang belulang dengan GPS Collar yang berada ditumpukkan tulang tengkorak.

Di sekitar lokasi kematian gajah, wilayah hutan bentang alam seblat yang masuk dalam kawasan Hutan produksi Air rami ditemukan beberapa titik telah terbuka, ada beberapa wilayah yang baru dibuka sementara wilayah lainnya sudah mulai digarap menjadi perkebunan.

Penanggungjawab Konsorsium Bentang Alam Seblat, Ali Akbar menyatakan, bahwa situasi habitat masih seperti sekarang maka pelestarian gajah Sumatera di Bentang alam Seblat tidak akan terwujud. Setahun lebih kami berjibaku mencoba menyelamatkan habitat dan populasi tersisa gajah di Bentang alam seblat, patroli setiap bulan, meningkatkan kesadaran komunitas atas pentingnya fungsi satwa serta membangun kerjasama dengan para pihak juga telah dilaksanakan,

Menurutnya, kejadian ini merupakan pukulan balik yang menyakitkan bagi kami.

Ia menambahkan, pembukaan lahan di kawasan bentang alam Seblat akan berdampak dengan populasi gajah yang jumlahnya sedikit.

“Jika gajah di kawasan ini punah, maka kita akan menerima ancaman yang lebih besar yakni bencana alam,” kata Ali.

Ali menambahkan, berdasarkan hasil analisis tutupan hutan di kawasan bentang alam seblat yang dilakukan oleh Konsorsium Bentang Alam seblat yang terdiri dari Kanopi Hijau Indonesia, Genesis Bengkulu dan Lingkar Inisiatif Indonesia dalam kurun 2020-2022, seluas 6.350 hektar hutan alami kawasan bentang alam seblat porak poranda dirambah.

“Upaya pelestarian gajah Sumatera dengan populasi tidak lebih dari 50 ekor semakin sulit untuk dilakukan. Ancaman keselamatan habitat gajah terus terjadi,” tegasnya.

Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Dony Gunaryadi mengatakan temuan ini menandakan upaya yang dilakukan dalam pelestarian gajah Sumatera kurang maksimal.

“Gajah yang dipasang GPS Collar untuk membantu mendeteksi konflik antara manusia dan gajah. Namun, gajah mati diwilayahnya sendiri,” lanjutnya.

Ia menambahkan pihak FKGI akan meminta keseriusan dari aparat yang berwenang untuk mengusut penyebab kematian gajah tersebut. (JRS)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!