Dugaan Penyerobotan Lahan di Benteng Nyaris Bentrok, Ahli Waris Vs Oknum

BencoolenTimes.com, – Lahan milik mendiang Saud Sitorus yang terletak di Desa Padang Betuah Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah sekitar 50 hektar diduga diserobot sekitar 15 hektar oleh sejumlah oknum warga yang mengatasnamakan sebagai pemilik.

Berdasarkan data akurat di lapangan, tiga oknum warga yakni BY, RJ dan IL yang diduga melakukan penyerobotan. Namun disisilain, tanah yang diduga diserobot oleh tiga oknum warga tersebut sudah dibagi-bagikan kepada keluarganya yang lain.

Dugaan penyerobotan tersebut sempat memanas, karena antara ahli waris mendiang Saud Sitorus yakni Asian dengan pihak keluarga ketiga oknum tersebut adu mulut dan nyaris bentrok. Diduga penyerobotan oleh ketiga oknum tersebut sudah berlangsung lama dengan cara presmanisme.

“Jadi mereka itu sudah menjual tanah tapi dikuasai kembali sejak bapak Saud Sitorus meninggal. Mereka mengira itu tanah PT. Memang benar dulunya itu tanah PT dan dulu ditanami coklat. Tapi statusnya saat itu hanya tanam tumbuh dan izin prinsip lalu dikembalikan lagi ke masyarakat, karena tanaman coklatnya gagal. Kemudian masyarakat meminta bapak Sitorus untuk membeli lahan itu secara pribadi dan berkas jual beli saat itu masih tersimpan di kita,” kata Asian, Senin (27/9/2021) sore kepada wartawan.

Pemetakan lahan yang diduga dilakukan oknum.

Namun, lanjut Asian, setelah mendiang Sitorus meninggal, oknum masyarakat tersebut diduga mulai melakukan penyerobotan kembali. Ketika ahli waris Saud Sitorus yakni Asian dan Tiyur ke lokasi lahan pihaknya mendapati lahan yang sudah ditanami sawit itu dipeta-petakan dengan pagar kayu oleh BY, RJ, IL beserta rekan-rekan lainnya yang sudah berlangsung sejak 1 bulan yang lalu.

Dulu, sambung Asian, saat mendiang Saud Sitorus membeli lahan itu secara pribadi disertai kwitansi pembayaran, alas-alas hak surat yang diserahkan kepada mendiang Saud Sitorus.

“Tindakan yang mereka lakukan di lapangan ini berupa menguasai kembali dengan memetak-metakan lahan, memagar beserta tanaman sawit yang sudah tumbuh dan pekerja kami juga tidak bisa memanen sawit,” ungkap Asian.

Kemudian, tambah Asian, pihak ahli waris melakukan pembongkaran pagar kayu yang digunakan untuk pemetakan oleh oknum tersebut. Namun oknum itu diduga tidak terima dengan pembongkaran pagar yang dilakukan ahli waris pada, Minggu (26/9/2021).

Saat membongkar pagar petakan pihak ahli waris melihat RJ sedang berada di lokasi. Lalu pihak ahli waris menanyakan soal pemetakan yang dilakukan RJ dengan cara memagar, namun RJ menyangkal dia tidak menyerobot.

“Aku tu tidak nyerobot saja tidak,” kata RJ saat di lokasi.

Bahkan, saat ahli waris menunjukkan bukti-bukti jual beli lahan itu, RJ tetap menyangkal dan mengaku bahwa dirinya tidak melakukan penyerobotan, melainkan itu memang lahan miliknya dan RJ juga mengaku memiliki bukti.

“Wah tidak ada, aku punya buktinya di Rumah,” kata RJ menyangkal.

Setelah itu, pihak ahli waris mau menuju Polsek Pondok Kelapa, namun ketika itu juga pihak keluarga dari oknum yang diduga menyerobot memprotes pihak ahli waris yang telah membongkar pagar. Mereka juga menghadang mobil ahli waris yang akan ke Polsek. Sempat cek cok antara ahli waris dengan keluarga oknum. Lalu ahli waris mengajak keluarga oknum menyelesaikan permasalah tersebut di Polsek Pondok Kelapa.

Setibanya di Polsek Pondok Kelapa, pihak Polsek menyarankan untuk menyelesaikan perkara tersebut ke Polres Benteng dengan melaporkan ulang perkara tersebut.

Namun, saat ingin menuju ke Polres Benteng RJ dan IL yang menyusul ke Polsek Pondok Kelapa berdalih ada urusan keluarga dan tidak ikut ke Polres Benteng.

“Kami agak keberatan kalau mau ikut ke Polres karena kaluarga kami yaitu nenek kami sedang meninggal,” kata IL.

Perlu diketahui, dugaan penyerobotan tersebut belum menemukan titik terang dan masih berpolemik. (PPJ)