8 C
New York
Monday, March 16, 2026

Buy now

spot_img

Gas Elpiji 3 Kg Langka di Empat Lawang, Harga Tembus Rp50 Ribu

BencoolenTimes.com – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg) terjadi di wilayah Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan dalam sebulan terakhir. Tabung gas bersubsidi tersebut sulit ditemukan, kalaupun tersedia di tingkat pengecer, harganya melonjak hingga Rp 45.000 sampai Rp 50.000 per tabung.

Kondisi ini dikeluhkan warga karena harga tersebut jauh di atas harga eceran yang berlaku. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah menjadi pihak yang paling terdampak, mengingat elpiji 3 kg merupakan kebutuhan utama untuk memasak sehari-hari maupun menunjang usaha kecil.

Mahasiswa asal Empat Lawang, Ade Kelpin, menilai pemerintah belum menunjukkan langkah konkret untuk menormalkan pasokan maupun mengendalikan harga.

”Kalaupun ada di pengecer, harganya sudah tidak masuk akal. Masyarakat kecil yang paling terdampak. Sampai sekarang belum ada tindakan nyata yang terlihat untuk menormalkan pasokan atau harga,” kata Ade saat dimintai tanggapannya, Jumat, 21 Februari 2026.

Menurut dia, kelangkaan tidak hanya terjadi di satu atau dua kecamatan, melainkan hampir merata di seluruh wilayah Empat Lawang.

”Kami meminta pemerintah daerah segera turun tangan secara serius. Ini bukan persoalan sepele. Ini kebutuhan dasar masyarakat. Jangan sampai pemerintah terkesan abai,” ujar Ade yang juga tergabung di OKP HMI Bengkulu ini.

Sambung Ade, warga Empat Lawang harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain untuk mendapatkan satu tabung gas. Sebagian lainnya terpaksa membeli dengan harga tinggi karena tidak memiliki alternatif lain.

Kenaikan harga yang hampir dua kali lipat ini dinilai memberatkan, terutama menjelang Ramadan ketika kebutuhan rumah tangga meningkat. Pelaku usaha kecil, seperti penjual gorengan, warung makan, dan pedagang kue tradisional, juga terdampak karena margin keuntungan mereka tergerus akibat lonjakan harga gas.

Ade mempertanyakan mekanisme pengawasan distribusi yang seharusnya dilakukan secara rutin oleh instansi terkait. Ia menduga terdapat persoalan pada rantai distribusi, baik karena keterlambatan suplai, penimbunan, maupun lemahnya pengawasan di tingkat pangkalan dan pengecer.

”Kalau distribusi berjalan normal, tidak mungkin terjadi kelangkaan selama berminggu-minggu. Pemerintah harus transparan menjelaskan di mana letak masalahnya. Jangan sampai masyarakat hanya disuruh bersabar tanpa kepastian,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah maupun instansi terkait atas penyebab kelangkaan maupun langkah antisipasi lonjakan harga. (JUL)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!