-2.3 C
New York
Tuesday, December 9, 2025

Buy now

spot_img

Perjuangan Selama 15 Tahun Berhasil, Ibu-ibu Pasar Seluma Potong Dua Ekor Kambing Sebagai Rasa Syukur

BencoolenTimes.com – Perjuangan selama 15 tahun belakangan akhirnya berakhir dengan keberhasilan para ibu-ibu mengusir Pertambangan Pasir Besi yang masuk wilayah Desa Pasar Seluma, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma.

Puncaknya, Sabtu lalu, 29 November 2025, Puluhan Perempuan Adat Desa Pasar Seluma, terlihat bahagian dan bersykur. Bersama para kaum laki-laki, mereka menggelar pemotongan atau menyembelih dua ekor kambing di Muara atau pertemuan antaran aliran sungai dan laut yang tidak jauh dari kampung mereka.

Pemotingan dua ekor kambing tersebut untuk membayar nazar sekaligus perwujudan rasa syukur mereka atas keberhasilan terusirnya Tambang Pasir Besi dari wilayah desa mereka.

‘’Ini (Pemotongan dua ekor kambing) untuk membayar nazar kami sekaligus perwujudan rasa syukur kami setelah aktvitas pertambangan pasir besi berhenti di kampung kami,’’ ungkap Nevi, salah satu perempuan adat Desa Pasar Seluma yang ikut berjuang selama 15 tahun belakangan atau sejak tahun 2010 lalu, dalam upaya menolak aktivitas Pertambangan Pasir Besi di desa mereka.

Baca Juga  Oknum Pejabat Pemdes Diduga Pinjam Modal Bumdes Untuk Pepentingan Pribadi

Pilihan menyembelih kambing di muara sungai, sebut Nevi, karena lokasi tersebut menjaddi salah satu lokasi tambang yang mereka usir, sekaligus wilayah yang dianggap keramat.

‘’Kalau masih beroperasi (Tambang Pasir Besi), dipastikan Muara Sungai ini hancur. Padahal disinilah tempat kami mengadu nasib, berusaha, mencari remis dan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,’’ sebut Nevi.

Nevi menceritakan, perjuangannya bersama perempuan adat Desa Pasar Seluma, dalam upaya menolak Pertambangan Pasir Besi, dilakukan sejak tahun 2010 silam.

‘’Sejak kami lahir, kami mencari remis untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Remis sempat menghilang saat adanya aktivitas Pertambangan Pasir Besi,’’ cerita Nevi.

Tidak hanya berpotensi menghilangkan Remis, mereka sangat khawatir rusaknya pesisir desa, yang merupakan dampak jangka panjang aktivitas Pertambangan Pasir Besi.

‘’Desa kami ini berada tepat di kawasan pesisir pantai dan dengan adanya aktivitas Pertambangan Pasir Besi tersebut, tentu mengancam kerusakan pesisir, sekaligus desa kami. Makanya kami tidak pernah menyerah untuk melakukan perlawanan dan penolakan aktivitas Pertambangan Pasir Besi tersebut,’’ ungkap Nevi melanjutkan ceritanya.

Baca Juga  Suami Tega Siram Tubuh Istri Pakai Air Panas, Pengakuan Anak, Sering KDRT, Ini Terparah

Dalam proses perjuangan, kata Nevi, bersama perempuan desa lainnya, mereka melakukan berbagai serangkaian aksi, mulai dari protes biasa hingga menggelar unjuk rasa.

‘’Protes dan unjuk rasa tidak hanya kami lakukan terhadap pemerintah, melainkan juga aksi protes dengan menduduki lokasi tambang. Bahkan kami sempat diamankan pihak kepolisian karena melakukan aksi menduduki lokasi tambang berhari-hari,’’ kata Nevi kembali mengenang perjuangannya bersama perempuan adat lainnya di desa mereka.

Aksi mereka yang lebih mengandalkan kaum perempuan adat, sengaja mereka lakukan. Dimana para kaum laki-laki bergantian untuk mengurus rumah dan mengasuh anak.

Karena menurut Nevi, selama ini ketika para lelaki atau bapak-bapak yang beraksi, sangat rawan menjadi korban kekerasan, terlebih para lelaki memiliki tingkat emosi yang lebih tinggi dan mudah terpancing.

Baca Juga  Rencana Penambangan Emas Bukit Sanggul, Ancaman Nyata Kehancuran Ekologis

Terlebih saat awal aksi yang dilakukan para lelaki di desa mereka, malah menimbulkan aksi anarkis dengan membakar tambang, hingga menyebabkan beberapa kaum lelaki di desa mereka masuk penjara.

Hal inilah yang menjadi pembelajaran bagi mereka perempuan adat Desa Pasar Seluma, untuk berganti posisi melancarkan aksi penolakan terhadap aktivitas Pertambangan Pasir Besi.

Ditegaskan Nevi kembali, para kaum perempuan juga merupakan kelompok yang paling rentan kritis bisa pertambangan beraktivitas. Karena perempuan lebih membutuhkan pelindungan kesehatan dan paling sensitive.

Semangat perjuangan para perempuan adat di Desa Pasar Seluma masih sangat terasa dan membara. Mereka memberikan pesan pada semua perempuan yang berhadapan dengan tambang bahwa tambang sangat merugikan warga dan perempuan.

‘’Jangan sampai aktivitas pertambangan merusak desa dan sumber penghidupan perempuan. Lakukan penolakan dengan santun dan berjuanglah bersama,’’ imbuh Nevi.(OIL)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!