BencoolenTimes.com, – Meningkatnya kepadatan penduduk Kota Bengkulu menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat sangat tinggi. Kegiatan konsumsi menghasilkan limbah yang sangat banyak pula. Kota Bengkulu terdapat salah satu Tempat Pembuangan Sampah yang terletak di Kelurahan Sebakul yang bernama Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Air Sebakul sebagai lokasi pembuangan limbah yang dihasilkan dari konsumsi masyarakat Kota Bengkulu dan daerah sekitarnya.
TPA Air Sebakul selain sebagai lokasi pembuangan akhir sampah, juga terdapat pemukiman penduduk disekitarnya. Pemukiman penduduk tersebut merupakan pemukiman bagi pemulung-pemulung yang bekerja di TPA Air Sebakul.
Hal yang menjadi pemandangan menarik di lokasi TPA tersebut, karena selain para orangtua yang bekerja memulung, ternyata juga terdapat anak-anak yang melakukan pekerjaan serupa. Hal ini sangat di sayangkan karena anak-anak yang seharusnya mendapatkan hak tumbuh dan pengembangan kreatifitas justru harus bekerja keras untuk membantu pendapatan keluarga.
Pemulung anak-anak ini memiliki tanggung jawab ganda dimana mereka sebagai selayaknya seorang anak memiliki hak untuk sekolah mendapatkan ilmu, dan hak untuk bermain dan mengembangkan kreatifitas mereka. Tetapi di sisi lain, anak-anak ini juga memiliki tanggung jawab membantu ekonomi keluarga, yaitu dengan cara ikut bekerja sebagai pemulung.
Berdasarkan wawancara kepada Ketua RT 01 Pemukiman pemulung TPA, terdaftar sebanyak 25 KK, dengan jumlah pemulung sebanyak 18 orang pemulung. Jumlah pemulung tersebut, 6 orang diantaranya merupakan anak-anak yang juga bekerja sebagai pemulung. Pemulung anak-anak ini, sebagian masih menjalankan perannya sebagai murid sekolah. Tapi, bagi sebagian lainnya tidak bersekolah.
Berdasarkan persamalahan tersebut, tim pengabdi yang diketuai Yagie Sagita Putra, S.H., M.H dan anggota Herlita Eryke S.HÂ membuat indikator bahwa perlindungan anak dapat dibedakan dalam 2 bagian.

Yagie Sagita Putra, S.H., M.H mengatakan, perlindungan yang dimaksud yakni perlindungan anak yang bersifat yuridis, meliputi perlindungan dalam bidang hukum publik dan dalam bidang hukum keperdataan. Lalu perlindungan anak yang bersifat non yuridis, meliputi perlindungan dalam bidang sosial, bidang kesehatan, bidang pendidikan dan lingkungan yang reprsesntatif bagi anak.
“Oleh karena itu, berdasarkan survei terhadap permasalahan maka tim pengabdi telah melaksanakan beberapa program penyuluhan dan bantuan sosial yang masuk dalam ruang lingkup perlindungan anak yang bersifat yuridis dan non yuridis,” kata Yagie.
Program penyuluhan itu, sambung Yagie, perlindungan anak yang besifat yuridis
dalam memberikan pemahaman bagi anak tentang pentingnya menjaga diri dari kejahatan tindak pidana, tim pengabdi mengadakan acara penyuluhan hukum perlindungan anak demi mencegah tindak pidana/ kejahatan yang melibatkan korban anak seperti pergaulan bebas, miras, perdagangan anak, narkotika, kejahatan seksual, bullying, dan lain sebagainya. Kegiatan ini selain membentuk karakter pribadi/psikologi anak, namun juga untuk memberikan pemahaman betapa pentingnya menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak masa depan anak.
“Sudah tentu kegiatan penyuluhan ini didampingi orangtua agar juga memberikan pemahaman kepada orangtua untuk dapat mencegah anak sebagai pelaku kejahatan maupun anak menjadi korban kejahatan,” ungkap Yagie.

Kemudian, lanjut Yagie, penyuluhan hukum perlindungan anak yakni perlindungan anak yang bersifat Non yuridis dalam mengimplementasikan perlindungan anak yang bersifat non yuridis, tim pengabdi melakukan kegiatan sebagai medical chek up, yakni kegiatan cek kesehatan gratis yang berlangsung pada 5 Oktober 2021 bekerjasama dengan tenaga kesehatan umum RS. M.Yunus Bengkulu. Hasil menunjukkan bahwa beberapa anak mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal pada kulit, batuk pilek, sakit perut, hal tersebut sebagian besar dialami oleh pemulung anak yang kesehariannya membantu orang tua memungut langsung sampah yang dapat didaur ulang. Faktor utama penyebab anak terdampak sakit karena kurangnya mengkosumsi air minum dan makanan yang sehat berdasarkan nilai gizi seimbang sehingga menyebabkan daya tahan tubuh sangat rentan terhadap penyakit.
“Termasuk didalamnya kurangnya menjaga tubuh dari bakteri yang terdapat di sampah. Sehingga mengakibatkan lambatnya kembang tumbuh anak selama bermukim di lingkungan TPA,” beber Yagie.

Lalu, kata Yagie, sosialisasi tentang akses pendidikan dan beasiswa yang diselenggarakan 6 Oktober 2021 dan difasilitasi langsung oleh mitra kerjasama dibidang pendidikan yakni mahasiswa-mahasiswa yang pernah dan atau sedang menjalani program kampus mengajar. Kegiatan didahului dengan motivasi terhadap anak-anak agar terus belajar agar keinginan dimasa hadapan dapat tercapai. Selanjutnya tim pengabdi memperkenalkan program-program pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan termasuk didalamnya mengenalkan beberapa program beasiswa dalam maupun luar negeri. Hal tersebut berdasarkan pendekatan kondisional/keadaan siswa apakah akan menempuh jalur kurang mampu ataupun jalur prestasi.
“Kegiatan langsung mempraktekkan bagaimana cara mengakses beasiswa tersebut baik dengan menggunakan gawai masing-masing maupun dengan buku panduan yang telah diberikan ke anak-anak,” tutur Yagie.

Kemudian tim pengabdi juga sosialisasi tentang akses pendidikan dan beasiswa dengan pembagian Al-Qur’an gratis yang dilaksanakan 15 Oktober 2021 sebagai wujud pembinaan akhlak bagi anak-anak, tim pengabdi membagikan Al-Qur’an gratis agar dapat mengahafal dan mengamalkannya. Salah satu pondasi awal untuk anak agar terjaga iman dan akhlaknya yaitu mengimplementasikan makna isi kandungan Al-Qur’an ke dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dilatih dan dimotivasi rutin membaca Al-Qur’an setelah magrib.
Sosialisasi penghijauan sebagian di Lingkungan TPA kegiatan dilaksanakan 29 Oktober 2021 kegiatan menanam pohon dengan melibatkan anak agar mengedukasi mereka bahwa pentingnya pohon bagi kehidupan manusia. Selain itu mengedukasi mereka agar paling tidak mengurangi radikal bebas/polusi udara yang berkembang di lingkungan TPA, hal tersebut sebagai bentuk kampanye bersama dalam menjaga lingkungan.

Mengedukasi anak dalam penghijauan lingkungan TPA Air Sebakul dengan mengimplementasikan hak perlindungan khusus bagi anak pemulung sampah di TPA Air Sebakul, karena selayaknya seorang anak, anak-anak memiliki hak untuk tumbuh dan memiliki kehidupan yang baik, segala macam tanggungan kebutuhan merupakan tanggung jawab orang tua. Tetapi banyak yang terjadi bahwa anak-anak juga dilibatkan dalam urusan pemenuhan ekonomi keluarga. Ini sama hal nya yang terjadi pada anak-anak pemulung di TPA Air Sebakul. Anak-anak ini melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Salah satu menjadi penyebab anak-anak pemulung ini melakukan pekerjaan tersebut, yaitu faktor orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan perilaku anak. Sebaiknya orang tua selalu mengawasi dan mengarahkan segala macam tindakan yang dilakukan anak mereka. Walaupun orang tua bukan merupakan penyebab utama anak-anak ini melakukan perkerjaan memulung, tetapi peran orang tua dalam keluarga sangat mempengaruhi pada keputusan anak-anak ini untuk membantu bekerja. Hal ini karena anak-anak terbiasa melihat orang tua yang bekerja kemudian akan mendapatkan uang. Ini yang menjadi daya tarik anak untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya karena adanya iming-iming imbalan atau reward.
Kehidupan anak-anak pemulung di TPA Air Sebakul sebenarnya tidak jauh berbeda dari anak-anak lainnya. Menjadi pembeda adalah bahwa anak-anak pemulung ini dibebankan tanggung jawab dalam membantu memenuhi nafkah keluarga. Hasil wawancara tim pengabdi kepada anak-anak ini, ketika di ampe bagaimana pendapat tentang pekerjaan yang mereka dan orang tua mereka lakukan ini, memiliki jawaban yang amper sama. Jawaban yang seragam dari pemulung anak-anak menunjukkan bahwa mereka tidak menyukai pekerjaan yang mereka dan orang tua mereka lakukan. Mereka menganggap pekerjaan memulung adalah pekerjaan yang kotor karena mereka harus berada di tempat pembuangan sampah.
Berhubungan dengan alasan tersebut tim pengabdi membuat suatu pertemuan dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2021 khusus bagi pemulung anak berjumlah 18 orang. Pertemuan dilakukan dalam rangka memberikan semangat dan motivasi serta perbaikan psikologi anak agar tetap melanjutkan pendidikan yang sedang ditempuh.
“Memotivasi anak agar tetap menjaga kesehatan, selalu membersihkan diri dan seiring dengan hal tersebut tim pengabdi membagikan secara khusus bagi pemulung anak berupa antiseptic seperti handsanitizer dan masker,” tukas Yagie. (**)



