14 C
New York
Saturday, May 23, 2026

Buy now

spot_img

Sidak Dua RS, Komisi lV Temukan Mis Komunikasi dalam Penanganan Korban Lakalantas

BencoolenTimes.com – Sidak dua RS, Komisi lV DPRD Provinsi Bengkulu inspeksi mendadak (Sidak) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus dan RS Tiara Sella, pada Jumat, 27 Desember 2024.

Sidak dua RS ini dilakukan Komisi IV, menindaklanjuti adanya pemberitaan bahwa kedua rumah sakit tersebut, tidak mampu menangani pasien korban lakalantas bernama Edi Wagimin (63) pada Rabu, 25 Desember 2024 lalu.

Sidak dua RS tersebut, dikomandoi Ketua Komisi lV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring bersama anggota anggota dewan lainnya. Yaitu, Barli Halim, Zulasmi Oktarina, Mega Sulastri, Teuku Zulkarnain, Nur Ali, Sri Astuti, Efrya dan Berlian Hutama, yang ingin mengklarifikasi soal ketidakmampuan dua RS tersebut menangani pasien lakalntas.

Pada saat bertemu dengan Direktur RSUD M Yunus, Ari Mukti Wibowo, dia mengatakan bahwa, pada saat korban lakalantas dibawa ke RSUD M Yunus. Doktor spesialis bedah ortopedi sedang cuti libur nataru. Sehingga korban disarankan untuk berobat di RS Gading Medika.

Baca Juga : rsud-m-yunus-bengkulu-survey-akreditasi-direktur-semoga-paripurna

Terkait adanya pemberitaan penolakan korban, Ari menyampaikan, pihak RS tidak melakukan hal demikian.

”Kita tidak pernah menolak ataupun menelantarkan itu (pasien). Jadi, bahasa-bahasa seperti itu kita sering dengar, tapi kita bisa konfirmasi dengan alasan. Kita tidak pernah menolak selama ruangan rawat ada, kalau full kita tidak bisa,” sampai Ari.

Pada saat sidak di RS Tiara Sella, pihak manajemen RS menyampaikan bahwa, korban telah diberikan tindakan awal karena memang luka korban cukup parah. Dan sebelumnya mereka telah menyampaikan bahwa dokter spesialis bedah ortopedi sedang cuti libur.

Baca Juga : ppni-pusat-soroti-perkara-seleksi-dirut-rsud-m-yunus-bengkulu

Usai pendapatkan konfirmasi dan klarifikasi dari dua RS tersebut, Usin menyimpulkan bahwa, ada kekeliruan dalam berkomunikasi antar kedua RS untuk menangani korban lakalantas tersebut.

”Dari keterangan rumah sakit M Yunus dan rumah sakit Tiara Sella, kita mendapatkan satu benang merah, yang pertama sistem komunikasi antar rumah sakit untuk mekanisme rujukan dan tindakan selanjutnya ini harus dibenahi,” kata Usin.

Usin menyebutkan, dari pengakuan pihak kedua RS, sistem aplikasi Sisrute sering kali mengalami kendala pada saat membuat surat rujukan pasien sehingga ini menjadi penghambat pemberian rujukan pasien. Hal yang sama juga apabila melalui grup WhatsApp yang ada, karena perlu melakukan kelengkapan data terhadap pasien yang ingin dirujuk ke RS lainnya.

Baca Juga : dua-rs-tidak-mampu-menangani-korban-lakalantas

”Untuk antisipasi ini, kita minta Dinkes untuk membuat aplikasi sendiri di daerah agar bisa real time dalam proses pembuatan rujukan pasien. Dan kita minta juga Dinkes untuk mengkomunikasikan dan mensinergikan seluruh rumah sakit yang ada, baik di Kota Bengkulu sebagai rujukan maupun rumah sakit di daerah,” sebut Usin.

Ke depan, Usin meminta agar RS membuat SOP yang sesimple mungkin untuk disepakati sehingga dapat membantu mempermudah proses rujukan pasien yang berobat.

“Kita minta standar komunikasi ini sesimpel mungkin, jangan makin ruwet dan bisa ditanggulangi,” minta Usin.(JUL)

Popular Articles

spot_img

Stay Connected

0FansLike
3,671FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles

error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!