asd
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Terduga Pemodal Tambang Batu Bara Ilegal Bantah Modali Penambangan

BencoolenTimes.com, – Teduga pemodal tambang batu bara ilegal di Desa Kota Niur Kecamatan Semindang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) dari Jakarta inisial H membantah memodali penambangan batu bara ilegal tersebut.

H mengaku tidak pernah memodali tersangka tambang ilegal inisial MA untuk melakukan penambangan ilegal. Selain itu, H menyatakan bahwa alat berat yang digunakan menambang bukanlah miliknya melainkan merental.

“Saya gak pernah modalin M dan alat itu di rental,” kata H melalui pesan WhatsApp, Selasa (13/16/2023).

H juga mengaku telah menjalani pemeriksaan di Polda Bengkulu berkaitan dengan kasus tambang batu bara ilegal tersebut. Dia juga menyatakan bahwa dimintai bukti sewa rental alat oleh penyidik Polda Bengkulu.

“Di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan diminta bukti sewa rental alat,” ucap H.

Diketahui, kasus tambang batu bara ilegal di Desa Kota Niur Kecamatan Semindang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) yang ditangani Polda Bengkulu diduga terstruktur. Sejauh ini, Polda Bengkulu baru menetapkan dua orang sebagai tersangka yakni MA dan KS selaku operator alat berat dan koordinator lapangan.

Berdasarkan informasi lapangan yang berhasil dihimpun media ini, awalnya tambang tersebut ditambang secara manual oleh masyarakat dan ditampung pengepul. Lantaran diduga pengepul ini mempunyai relasi di Jakarta yakni terduga pemodal.

Kemudian terduga pemodal tersebut memodali dengan membelikan alat berat agar batu bara yang ditambang lebih banyak lagi. Diduga, guna menyamarkan keterlibatan pemodal, pembelian alat berat tersebut tidak menggunakan nama pemodala melainkan menggunakan nama pengepul.

Terkait hal ini, Ketua Front Pembela Rakyat (FPR) Provinsi Bengkulu, Rustam Efendi, SH menyebut, tambang batu bara ilegal tersebut sangat terstruktur. Rustam menilai, dugaan menyamarkan nama pemilik alat berat oleh terduga pemodal agar terduga pemodal namanya tidak terdeteksi.

“Modus ini terstruktur, karena ada upaya pemodal menghilangkan jejak agar tidak terdeteksi, oleh sebab itu pembelian alat berat atasnama pengepul bukan pemodal,” kata Rustam kepada BencoolenTimes.com, Selasa (13/6/2023).

Rustam berharap, Polda Bengkulu mengusut sampai tuntas permainan terduga pemodal tersebut dengan profesional.

“Ini wajib hukumnya dituntaskan, jangan sampai nanti hanya sebatas dua tersangka, keterlibatan terduga pemodal kita duga sangat besar. Kita berharap Polda Bengkulu komitmen dan profesional menyelesaikan kasus ini,” demikian Rustam.

Kasus tambang batu bara ilegal ini menuai sorotan publik, banyak pihak mulai dari organisasi masyarakat, Front Pembela Rakyat (FPR), Pusat Kajian Anti Korupsi (Puskaki), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) hingga DPRD Provinsi Bengkulu, mereka mendorong Polda Bengkulu mengungkap aktor lainnya yang terlibat dalam aktivitas tambang batu bara ilegal tersebut.

Pihak-pihak ini menilai ada aktor intelektual atau pemodal dibalik aktivitas tambang batu bara ilegal di kawasan Hutan Produksi tersebut. Oleh sebab itu, Polda Bengkulu diharapkan dapat mengungkapnya secara tuntas dan terang, lalu disampaikan ke publik.

Terlepas dari aktor intelektual dibalik tambang batu bara ilegal tersebut, mereka juga meminta Polda Bengkulu mengusut legalitas Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) yang digunakan para pelaku tambang batu bara ilegal. Terlebih lagi, khusus pengangkutan dan penjualan batu bara, tersangka menggunakan perusahaan atas nama CV. Laksita Buana.

Kasus tambang batu bara ilegal di Bengkulu Tengah ini info didapat media ini juga dimonitor pemerintah pusat, bahkan RI 1 turut memonitor.

Sekadar mengingatkan, dalam kasus ini, Tim Ditreskrimsus Polda Bengkulu menetapkan 2 tersangka yakni MA dan KS dalam kasus tambang batu bara ilegal. Polda juga mengamankan barang bukti dua unit alat berat jenis excavator di lokasi pertambangan, serta ribuan ton batu bara yang telah dikemas di dalam karung.

Peran masing-masing tersangka ini, selaku pengelola tambang ilegal dan operator alat berat. Penambangan batu bara diduga ilegal itu dilakukan sejak bulan November 2022 lalu. Modusnya, tersangka melakukan penambangan ilegal dengan menggali batu bara menggunakan alat berat jenis excavator.

Setelah batu bara digali, tersangka kemudian memperkerjakan orang untuk mengemas batu bara menggunakan karung. Selanjutnya, batu bara hasil penambangan ilegal tersebut dijual ke Jakarta menggunakan jasa angkutan darat.

Tersangka menjual batu bara hasil penambangan tanpa izin dengan menggunakan legalitas Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP). Khusus pengangkutan dan penjualan batu bara, tersangka menggunakan perusahaan atas nama CV. Laksita Buana, termasuk jasa angkutannya.

Kedua tersangka dijerat Pasal 158 Undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara. (BAY).

Related Articles

Latest Article

admin2
admin2
Untuk Informasi lebih lanjut tentang berita yang anda baca silahkan menghubungi kami. +6281382248493
error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!