Ketika Kiyai Sepuh Dipanggil Kakak

Hari santri 22 Oktober lalu, saya ke Pondok Pesantren Pancasila. Hadir para kiyai dan santri dengan gaya khasnya. Bersarung.

CATATAN DEWA – Kota Bengkulu

SAYA hadir sebagai Ketua Kwarcab Pramuka Kota Bengkulu. Namun ada rasa kikuk ketika memanggil “kakak” kepada kiyai.

Saya tetap paksakan panggil Kakak Ahmad Suhaimi. Namun giliran Kiyai Ahmad Daroini, berat lidah ini memanggilnya Kakak.

“Nah, kalau beliau ini mohon izin saya tetap menyapanya Kiyai Ahmad Daroini. Nggak sanggup saya memanggil beliau kakak,” ucap saya langsung disambut tawa hadirin.

Pesantren Pancasila ini di bawah Yayasan Semarak Bengkulu. Letaknya strategis. Di pusat jantung kota.

Lahannya 10 hektare disumbangkan era Gubernur Bengkulu Suprapto. Namun kini tinggal 8 hektare lagi. Masih cukup luas.

Di dalam area ini berdiri megah rumah susun (rusun) santri. “Ini berkat lobi dan bantuan Pak Helmi ke pusat. Jalan lingkungan juga dari Pemkot,” ujar Kak Kiyai Suhaimi.

Saat sambutan pembina, saya pun sempat berpantun, “Kamis pagi ke Pensantren Pancasila. Pelantikan Mabigus Pramuka. Para santri teruslah berkarya. Karena kalian santri yang Camkoha”.

Kalian santri hebat. Harus bangga menjadi santri. Kelak kalian lah yang akan meneruskan perjuangan.

Kalian akan menjadi walikota, gubernur, atau pengusaha muslim hebat. Yang alumni pesantren acungkan jari. Kalian orang hebat.(**)

Penulis Dedy Wahyudi (Dewa), wartawan senior dan Plt Walikota Bengkulu