Home Hukum Kasus Mafia Tanah di Bengkulu Dilimpahkan ke Kejati

Kasus Mafia Tanah di Bengkulu Dilimpahkan ke Kejati

Pelimpahan dari penyidik ke JPU Kejati

BencoolenTimes.com, – Tim Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bengkulu melimpahkan kasus mafia tanah di Bengkulu ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu dengan satu orang tersangka yakni SU.

Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Pol Teddy Suhendyawan Syarif mengatakan, berkas perkara tersangka sudah dilimpahkan tahap II setelah JPU menyatakan berkas perkaranya sudah lengkap.

“Iya sore ini kita limpahkan tahap II ke Kejati Bengkulu,” Kata Teddy saat dikonfirmasi melalu pesan WA pada, Senin (29/3/2021).

Setelah dilimpahkan ke Kejati status tersangka naik satu tingkat menjadi terdakwa.

Sementara itu Kasi Penkum Kejati Bengkulu, Marthin Luther mengatakan bahwa sebelumnya pihak Kejati sudah berkomunikasi secara intens kepada penyidik Polda Bengkulu untuk kelengkapan dan penyidik sudah memenuhi. Namun masih satu tersangka yang dilimpahkan yakni SU. Sedangkan satu tersangka lagi yakni SN belum dilimpahkan karena masih ada alat bukti yang harus dipenuhi.

Sementara untuk uji Lab surat tanah tidak dilakukan  karena surat itu dibuat sendiri oleh keempat terdakwa sehingga pembandingnya tidak ada, kemungkinan nanti cukup mengecek stempel yang tertera dalam surat tanah yang diduga palsu itu.

“Jadi berkas perkara satu tersangka sudah dinyatakan lengkap dan pelimpahan tahap II nya sudah kita terima, untuk satu tersangka lagi masih ada berkas perkaranya yang harus dipenuhi oleh penyidik,” kata Mathin.

Diketahui, dalam kasus ini ada empat orang tersangka yakni SU, SN, UP, dan SH, namun yang ditangani Polda Bengkulu hanya dua orang tersangka, karena dua orang tersangka lainnya yakni UP dan SH dalam penanganan Polres Bengkulu atas kasus dugaan penganiayaan.

Diketahui, terungkapnya kasus mafia tanah ini berawal dari laporan korban Imas Belly nomor: LP-B/75/I/2021 / Bengkulu, tanggal 21 Januari 2021.

Modus tersangka yakni berawal pada 6 Desember 2020 lalu tersangka SU dan UP serta tersangka SN datang ke Lokasi lahan kebun milik korban yang di klaim telah di beli senilai Rp 50 juta.

Setelah sampai di lokasi kebun ketiganya langsung melakukan pengerusakan dengan cara merobohkan tanaman kelapa sawit milik korban yang berjumlah 120 batang menggunakan alat berat.

Setelah selesai memotong tanaman lahan kebun milik korban, ketiganya langsung melakukan pengaplingan tanah menjadi 42 kapling dan kemudian di jual oleh tersangka SN.

Mengetahui hal tersebut, korban langsung mendatangi ketiga tersangka untuk menanyakan maksud pengaplingan yang dilakukan, oleh ketiga tersangka korban di perlihatkan dokumen kepemilikan tanah yang di klaim milik tersangka, namun melihat dokumen yang di perlihatkan korban menemukan beberapa kejanggalan sehingga korban memutuskan untuk membuat laporan.

Dalam perkara ini, korban mengalami kerugian Rp 300 juta. Untuk diketahui, akibat perbuatannya tersangka dijerat pasal 170 KUHP dan pasal 385 KUHP JO pasal 54, 56 KUHP. (PPJ)