BencoolenTimes.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu menegaskan komitmennya membangun sinergi dengan Asosiasi Media dan Jurnalis (AMJ) Bengkulu dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik serta meningkatkan transparansi pelayanan kepada masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto, saat menggelar pertemuan bersama insan pers di Bengkulu, Jumat, 17 Juli 2026.
Dalam pertemuan itu, Julianto menegaskan Lapas Bengkulu membuka ruang komunikasi seluas-luasnya kepada masyarakat dan media sebagai bagian dari upaya menciptakan penyelenggaraan pemasyarakatan yang akuntabel, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
”Kami terbuka terhadap kritik dan masukan. Jika ada informasi dari masyarakat atau pengguna layanan, silakan disampaikan kepada kami. Seluruh informasi akan kami verifikasi dan tindaklanjuti sesuai ketentuan,” ujar Julianto.
Menurutnya, setiap informasi yang diterima akan diverifikasi secara objektif sebelum ditindaklanjuti. Langkah tersebut dilakukan agar setiap persoalan diselesaikan berdasarkan fakta, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap pelayanan pemasyarakatan.
Selain memperkuat keterbukaan informasi, Lapas Bengkulu juga terus menjalankan berbagai program prioritas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Program tersebut meliputi pemberantasan peredaran narkotika, pencegahan penggunaan alat komunikasi ilegal di dalam lapas, penanganan overkapasitas, hingga penguatan program ketahanan pangan sebagai bagian dari 15 program aksi kementerian.
Julianto mengatakan program ketahanan pangan menjadi salah satu fokus yang terus dikembangkan dengan mengoptimalkan lahan dan sumber daya yang tersedia serta melibatkan warga binaan dalam berbagai kegiatan produktif.
”Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama. Kami berupaya mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, termasuk melibatkan warga binaan dalam kegiatan yang produktif,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak mulai bertugas di Bengkulu pada Oktober 2025, prioritas pertama yang dilakukan adalah memperkuat sistem keamanan. Setelah kondisi lapas dinilai kondusif, pihaknya mulai mengembangkan berbagai program pembinaan yang bertujuan meningkatkan keterampilan dan kemandirian warga binaan.
Meski demikian, Lapas Bengkulu masih menghadapi persoalan kelebihan kapasitas. Saat ini jumlah penghuni mencapai sekitar 714 warga binaan, sedangkan kapasitas ideal hanya sekitar 218 orang.
Kendati mengalami overkapasitas, Julianto memastikan pelayanan dan pembinaan tetap berjalan sesuai ketentuan. Program integrasi seperti pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, dan cuti menjelang bebas tetap diberikan secara selektif sesuai peraturan yang berlaku.
Ia juga menegaskan izin keluar lapas hanya dapat diberikan dalam kondisi tertentu, seperti ketika ada anggota keluarga inti yang meninggal dunia. Setiap permohonan akan melalui proses verifikasi dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kelayakan warga binaan.
”Kami tetap mengedepankan sisi kemanusiaan, tetapi seluruh proses harus mengikuti aturan dan mempertimbangkan faktor keamanan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Media dan Jurnalis (AMJ) Bengkulu, Wibowo Susilo, menyambut baik komitmen Lapas Bengkulu dalam membangun komunikasi yang terbuka dengan media. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional.
Ia mengingatkan insan pers agar tetap menjunjung tinggi prinsip verifikasi dan Kode Etik Jurnalistik, terutama di tengah maraknya informasi dari akun anonim di media sosial yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui sinergi yang semakin erat dengan media, Lapas Bengkulu berharap informasi mengenai pelayanan, pembinaan warga binaan, serta berbagai program pemasyarakatan dapat tersampaikan kepada masyarakat secara utuh, berimbang, dan transparan. (JUL)



