Modus Lakukan Hipnoterapis, Oknum Guru Atlit Cabuli 2 Murid

Ilustrasi

BencoolenTimes.com, – Oknum Guru Atlit Kota Bengkulu inisial mendekam di balik jeruji besi usai ditangkap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Bengkulu lantaran diduga melakukan tindak pidana pencabulan terhadap dua orang murid perempuan yang masih dibawah umur warga Rejang Lebong.

Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Sudarno, S.Sos., MH, saat dikonfirmasi, Sabtu (12/12/2020) menjelaskan, setelah mendapatkan laporan dari korban Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Bengkulu Langsung menindaklajutinya dan saat ini terduga pelaku sudah ditangkap di kediamannya, Selasa (8/12/20) pukul 23.50 WIB.

“Terduga pelaku sudah ditangkap Unit PPA Diredkrimum Polda Bengkulu,” kata Sudarno.

Sudarno menerangkan, dugaan pencabulan yang dilakukan terduga pelaku tersebut berawal saat satu rombongan atlit dan pelatih dari Bengkulu akan mengadakan try out di Curup.

Saat berada di salah satu Hotel di Curup, terduga pelaku yang merupakan salah satu pelatih atlit ini menawarkan untuk dilakukan hipnoterapis kepada anak didiknya di kamar.

Lalu terduga pelaku memanggil salah satu korban untuk masuk kamar, namun setelah masuk kedalam kamar, korban diduga mendapatksn perlakuan tak senonoh dari pelaku kejahatan hingga korban linglung setelah keluar dari kamar tersebut.

Tak samapai disitu saja, terduga pelaku memanggil korban kedua untuk masuk ke kamar pelaku terduga dan sama seperti korban sebelumnya, korban kedua juga diduga dicabuli oleh terduga pelaku.

Sudarno menuturkan, saat ini kepolisian masih melakukan penyidikan terhadap pelaku guna mengungkap apakah masih ada korban lainnya atau tidak.

“Kita akan periksa lebih jauh, apakah masih ada korban lainnya,” jelas Sudarno.

Sudarno menambahkan, pelaku terduga merupakan guru kedua korban sehingga pasal yang diterapkan berbeda ada pengaturan lagi di dalam pasal yang disangkakan yaitu di pasal 82 ayat 2 Undang Undang nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undanng Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

“Terduga terancam hukuman 5 sampai 15 tahun ditambah sepertiga karena terduga pelaku merupakan guru dari korban,” tutup Sudarno. (Teluk)