Tuesday, June 25, 2024
spot_img

Bukan Hanya Lawyer, Tersangka Baru Perintangan Penyidikan Ternyata Mantan Caleg DPR RI & Pemegang Kartu Pers Nomor Satu

BencoolenTimes.com, – UL, tersangka baru dugaan perintangan penyidikan kasus korupsi dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Kabupaten Kaur tahun 2022 tak hanya menyandang profesi sebagai lawyer atau pengacara. Terkuak bahwa, UL juga merupakan wartawan utama dari dewan pers, bahkan pemegang kartu pers nomor satu.

Hal ini terkuak dari data riwayat tersangka yang berhasil didapatkan media ini. Dari riwayatnya, tersangka juga merupakan Panitia Hari Pers Nasional di Kupang. Kemudian kesetiaan bekerja di lingkup Polri 20 tahun.

Tak hanya itu, tersangka juga merupakan mantan calon anggota legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dapil III DKI Jakarta. Selain itu, tersangka pernah mengikuti kursus atau diklat wartawan di Makassar, Penataran Karya Latihan Wartawan PUI, latihan dasar SAR, pelatihan P4 tingkat nasional bahkan pernah mengikuti penataran ilmu kepolisian.

Kabarnya, tersangka ditangkap tim jaksa gabungan Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi Bengkulu seusai bersidang di salah satu Pengadilan Negeri di Jakarta membela kliennya dalam suatu perkara hukum, Selasa (5/9/2023).

Baca Juga  Di Pusat Jampidsus Dikuntit Anggota Densus, di Bengkulu Aspidsus Dicatut untuk Amankan Kasus Korupsi

Usai ditangkap, tersangka langsung dibawa ke Bengkulu, dan setibanya tersangka di Kejati Bengkulu, wartawan sempat bertanya kepada tersangka, kenapa tidak memberikan contoh yang baik sebagai pemegang kartu pers nomor satu ?

Lalu tersangka menjawab, “Siapa yang bilang tidak baik. Emangnya kalau jadi tersangka jadi penjahat,” cetus tersangka sembari digiring ke gedung Pidsus Kejati Bengkulu.

Kemudian, tersangka diperiksa beberapa saat di gedung Pidsus Kejati Bengkulu. Setelah diperiksa, tersangka langsung dibawa ke Lapas Bentiring untuk dititipkan dan ditahan.

Saat digiring menuju mobil tahanan, tersangka mengaku dirinya dilarang membuka. Namun maksud dari pernyataan membuka itu tidak diungkapkan secara gamblang oleh tersangka, meskipun wartawan menanyakan membuka perihal apa.

“Saya diminta untuk tidak membuka, saya sih oke-oke saja. Jadi setelah saya didampingi oleh pengacara saya dari Bengkulu dan pengacara-pengacara lainnya. Karena dalam pasal 16 Undang-undang advokat menyatakan bahwa advokat tidak boleh dituntut pidana maupun perdata dalam melaksanakan tugasnya, saya melaksanakan tugas saya,” ungkap tersangka.

Tersangka menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan tindak pidana korupi. Dirinya juga siap bertanggung jawab secara profesional.  Ia mengaku saat ditangkap bukan usai menjalani perdidangan tetapi saat berada di Rumah.

Baca Juga  Di Pusat Jampidsus Dikuntit Anggota Densus, di Bengkulu Aspidsus Dicatut untuk Amankan Kasus Korupsi

“Oh iya, secara profesional saya pertanggungjawabkan. Tidak habis menjalani persidangan tapi saat saya di rumah (ditangkapnya),” jelas tersangka.

Diberitakan sebelumnya, para tersangka dugaan perintangan penyidikan kasus korupsi dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di 16 Puskesmas Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu tahun 2022 diduga menjadikan kasus dana BOK sebagai bisnis untuk meraup keuntungan pribadi dengan meminta sejumlah uang kepada para saksi dan menjanjikan kasus dapat dihentikan.

Jaksa sebelumnya telah menangkap dan menetapkan tiga orang tersangka yakni BSS (47), RNS (41) dan AH, (58) dalam perintangan penyidikan, ketiga tersangka dikenakan Pasal 21 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Diduga ketiga tersangka tersebut menikmati uang yang diserahkan para saksi Kepala Puskesmas (Kapus) di Kabupaten Kaur mencapai Rp 920 juta. Dengan menjanjikan penyidikan kasus dana BOK di Kabupaten Kaur dapat diberhentikan. Saat ditangkap, barang bukti yang ditemukan yakni handphone, bukti transfer, kwitansi, cek yang berkaitan penyerahan uang.

Baca Juga  Di Pusat Jampidsus Dikuntit Anggota Densus, di Bengkulu Aspidsus Dicatut untuk Amankan Kasus Korupsi

Lalu, dari pengembangan itu, jaksa kembali menangkap RF (57) seorang wanita di Jakarta dengan kasus yang sama yakni perintangan penyidikan, RF mengklaim sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) guna memuluskan aksinya.

“RF diduga dengan sengaja melakukan tindakan untuk menghambat, merintangi atau menggagalkan penyidikan yang sedang berlangsung terhadap saksi maupun tersangka dalam kasus tersebut,” sebut dalam rilis Kejati Bengkulu.

Disebutkan juga bahwa, upaya-upaya yang dilakukan tersangka dalam perintangan penyidikan tujuannya agar penyidikan kasus korupsi tersebut dapat dihentikan.

“Asalkan yang terlibat dalam korupsi dana BOK Kaur memberikan sejumlah uang kepada para tersangka,” ungkap dalam rilis.

Terpisah, dalam kasus dana BOK sendiri, Kejari Kaur telah menetapkan 4 orang tersangka yakni Darmawansyah selaku Kepala Dinas Kesehatan Kaur, Gusdiarjo selaku Sekretaris Dinkes Kaur, Rike selaku Kepala Puskesmas Kaur Utara dan te Puji selaku Kepala Puskesmas Kaur Tengah. (BAY).

Related Articles

Latest Article

admin2
admin2
Untuk Informasi lebih lanjut tentang berita yang anda baca silahkan menghubungi kami. +6281382248493
error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!