asd
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Kajari Pastikan Dalami Keterlibatan Ketua Baznas BS Dalam Korupsi Zakat Sesuai Fakta Persidangan

BencoolenTimes.com, – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bengkulu Selatan, Hendri Hanafi, SH, MH memastikan menindaklanjuti dan mendalami fakta persidangan terkait dugaan keterlibatan Ketua Baznas Bengkulu Selatan dalam kasus dugaan korupsi anggaran Zakat Infaq Sedekah (ZIS) di Baznas Bengkulu Selatan (BS).

“Kami akan mendalami lagi, (keterlibatan Ketua Baznas),” kata Kajari saat dikonfirmasi, Kamis (6/7/2023).

Penasehat Hukum (PH) Mantan Bendahara yakni Endah Rahayu Ningsih menyatakan, berdasarkan fakta persidangan dan amar putusan telah tersirat ada keterlibatan Ketua Baznas Bengkulu Selatan dalam dugaan korupsi tersebut.

“Jadi setelah mendengarkan, persidangan, dan berdasarkan saksi-saksi dan putusan yang dijatuhkan Majelis Hakim tadi, memang ada keikutsertaan dari Ketua Baznas Bengkulu Selatan yang harus ikut bertanggungjawab. Jadi artinya disini terdakwa posisinya bendahara, tanpa ada perintah dari ketua Baznas tidak akan menjalankan, tidak akan terjadi dugaan korupsi, dan itu terbukti bahwa ketua Baznas juga menerima aliran dana, meskipun tidak ada bukti secara tertulis maupun yang menyaksikan penyerahan, kita meminta dan berharap ini ditindaklanjuti,” jelas Endah.

Selain itu, pada saat sidang, terdakwa juga membeberkan keterlibatan Ketua Baznas Bengkulu Selatan. Terdakwa mengaku melakukan mark up atau penggelembungan harga dalam pengadaan barang bantuan, namun tindakan itu atas perintah atasannya saat itu.

“Iya ada perintah dari Ketua Baznas untuk melakukan mark up harga, karena posisi saya sebagai bendahara, dan saya yang membayarkan,” ungkap terdakwa saat itu.

Terdakwa menyebutkan, dirinya bersama Ketua Baznas saat itu Mudin A. Gumay bekerja sama mulai dari 2016-2021.

“Ketua Baznas saat itu pak Mudin A. Gumay, saya mulai menjabat dari 2016 sampai 2021, satu periode,” jelas Terdakwa.

Terdakwa menyatakan, perintah mark up harga ia terima dari Ketua Baznas, secara lisan saja. Dia mengaku, jika tidak bersedia, diancam mundur dari jabatan saat itu.

“Perintahnya secara lisan, kalau tidak nurut silakan undurkan diri, sedangkan saat itu saya butuh pekerjaan itu,” terang Terdakwa.

Diketahui, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu telah menjatuhi hukuman 4 tahun penjara kepada terdakwa dan denda Rp 50 juta subsidair 3 bulan.

Terdakwa juga diwajibkan membayar uang pengganti (UP) sebesar Rp 921 juta, dengan catatan, apabila terdakwa tidak sanggup membayar UP, maka harta bendanya disita untuk menutupi UP tersebut. Jika harta benda terdakwa juga tidak mencukupi, maka diganti pidana penjara selama 2 tahun.

Dalam kasus ini, terdakwa dinyatakan bersalah karena telah melakukan korupsi terhadap anggaran ZIS yang didapat dari kewajiban Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Bengkulu Selatan pada 2019 hingga 2020 hingga merugikan keuangan negara Rp 1,1 miliar.

Terdakwa terbukti melakukan korupsi dengan melakukan penggelembungan atau Mark up harga barang, tidak menyalurkan bantuan Baznas BS, tidak membuktikan pertanggungjawaban laporan, ada juga pajak yang tidak dibayarkan, dengan maksud mencari keuntungan lebih, untuk pribadi sehingga melanggar Pasal 3 Undang-undang (UU) Tipikor.

Pada kasus ini, Kejari Bengkulu Selatan telah melakukan penyitaan aset terdakwa berupa satu unit Mobil Toyota Avanza, sebidang lahan kebun durian dan satu unit tank semprot pertanian yang diduga kuat, aset-aset tersebut dibeli dari hasil dugaan korupsi dana zakat, infak dan sedekah di Baznas Bengkulu Selatan.

Keterangan terdakwa kepada jaksa waktu itu, mobil tersebut dibeli secara cash seharga diatas Rp 100 juta. Lahan perkebunan seluas 0,75 Hektar dibeli seharga Rp 25 juta.

Sedangkan, 1 unit tank sempror pertanian merupakan barang pengadaan Baznas Bengkulu Selatan yang dipakai sendiri oleh terdakwa dan tidak dibagikan ke yang berhak.

Penyitaan aset tersebut, merupakan upaya untuk memulihkan keuangan negara. Kejari meyakini bahwa aset tersebut didapatkan dari hasil dugaan korupsi dana Baznas.

Perlu diketahui, pada tahun 2019-2020, Baznas Bengkulu Selatan mengelola dana dana Zakat, Infak dan Sedekah sekitar Rp 4,5 Miliar.

Namun, dalam realisasinya diduga banyak penyimpangan, seperti penerima bantuan fiktif hingga pengelembungan harga barang bantuan sehingga menimbulkan kerugian negara Rp 1,1 miliar. (BAY)

Related Articles

Latest Article

admin2
admin2
Untuk Informasi lebih lanjut tentang berita yang anda baca silahkan menghubungi kami. +6281382248493
error: Opss tulisan ini dilindungi Hak Cipta !!