Bencoolentimes.com – Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPRP) Kabupaten Lebong ingin memastikan pasokan air untuk program Musim Tanam Dua (MT2) aman. Kamis (1/6) siang, Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPRP Kabupaten Lebong melakukan pengecekan Bendungan Ketahun (BK) 1 hingga 20. Kegiatan pengecekan dilakukan Bidang SDA Dinas PUPRP bersama warga dan sejumlah wartawan.
Royen, selaku Pengamat Aliran Irigasi Sungai Ketahun sekaligus Juru Air menyampaikan, pengecekan ini juga lantaran adanya laporan dari warga. Dimana debit air di kawasan BK 15 hingga BK 20 mengalami penurunan alias surut, bahkan adanya yang kering. Sehingga warga khawatir tidak bisa ikut program MT2 nantinya.
Dari hasil pengecekan, Royen menyebutkan, bahwa memang ada kendala di kawasan BK 4 hingga BK 10 yang kurang teratur dalam penggunaan air. Sehingga mengakibatkan debit air di BK 15 hingga BK 20 menjadi terhambat dan debit airnya menyusutt. ‘’Hasil pengecekan kita, ada kendala di BK 4 hingga BK 10,’’ kata Royen.
Selain itu, sambung Royen, mereka juga menemukan di beberapa lokasi BK ternyata juga ada yang mengalami sedimentasi pada lantainya. Lalu adanya kerusakan pada stang drat dan pintu air.
‘’Ada kendala juga di BK 6 yang airnya cukup besar. Namun ternyata stang drat pintu air rusak dan air mengalir bebas ke areal persawahan warga sekitar tanpa bisa dikendalikan. Begitu juga dengan BK 9 stang drat rusak dan lantai bak rusak sehingga air merembes ke bawah bangunan masjid,’’ sambung Royen.
Untuk itulah, tambah Royen, mereka berharap hasil pengecekan mereka tersebut bisa segera ditindaklanjuti pihak terkait. ‘’Diharapkan bisa diatasi segera dan dicarikan solusi, agar sawah masyarakat yang ikut MT2 bisa mendapatkan pembagian air yang optimal. Sehingga nantinya hasil dari program MT2 juga bisa optimal,’’ imbuh Royen.
Terpisah, Kepala Dinas PUPRP Kabupaten Lebong, Joni Prawinata melalui Kabid SDA Arman Yunizar mengatakan, memang persoalan mendasar BK 1-20 selama ini, karena banyaknya titik BK mengalami kerusakan. Mulai dari kerusakan pada stang drat dan pintu air, hingga sedimentasi lantai maupun dinding saluran air BK.
Ditambah, ungkap Arman, masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengoptimalkan penggunaan air sesuai kebutuhan alias tata kelola penggunaan air. ‘’Upaya yang harus dilakukan, dalam rangka menjaga saluran air, dilakukan sosialisasi oleh seluruh pihak kepada masyarakat. Khususnya soal meminimalisir membuang sampah di saluran air BK 1 hingga BK 20,’’ demikian Arman.(OIL)



