Home Hukum Ungkap Aktor Utama Kasus Dana Hibah KONI Rp 15 Miliar

Ungkap Aktor Utama Kasus Dana Hibah KONI Rp 15 Miliar

Foto Dokumentasi: Penyidik Polda Bengkulu saat melakukan penggeledahan di kediaman Mufran Imron, Mantan Ketua KONI Bengkulu yang kini jadi tersangka

BencoolenTimes.com, – Tak bisa dipungkiri, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bengkulu tengah dirundung masalah, pasca Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bengkulu menetapkan Mantan Ketua KONI Bengkulu Mufran Imfon sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah KONI tahun 2020 sebesar Rp 15 miliar.

Dukungan terhadap Polda Bengkulu dalam pengusutan kasus tersebut terus mengalir, salah satunya dari Yusliadi, Aktivis Bengkulu sekaligus Sekretaris Keluarga Alumni KAMMI Bengkulu.

Yusliadi, Aktivis Bengkulu sekaligus Sekretaris Keluarga Alumni KAMMI Bengkulu.

Yusliadi menduga, tentu bukan hanya Mufran Imron yang terlibat dalam perkara tersebut, pasti ada pihak lain. Bahkan Yusliadi menyebutkan, jika dilihat dari Rp 11 miliar lebih kerugian yang dialami negara, dapat diduga ada aktor utama dibalik uang yang nilainya cukup fantastis itu.

“Uang Rp 11 miliar itu bukanlah jumlah yang sedikit, jadi tidak mungkin hanya Mufran Imron saja yang terlibat. Pasti ada pihak-pihak lain yang terlibat, dan kita menduga juga pasti orang yang lebih tinggi dari Mufran Imron, kalo istilahnya kita sebut dalang atau aktor utamanya,” kata Yusliadi, dalam sambungan teleponnya, Minggu (2/5/2021).

Oleh sebab itu, Yusliadi menyatakan, mendukung penuh Polda Bengkulu untuk mengungkap siapa dibalik Mufran Imron dan kemana aliran dana Rp 11 miliar lebih yang tidak bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Bengkulu.

“Kita dukung penuh Polda Bengkulu mengungkap itu (aktor utama). Kemana uang sebanyak itu kok sampai tidak bisa dipertanggungjawabkan, mengalir kemana dan untuk apa? Karena uang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu adalah hak atlet Bengkulu untuk memajukan keolahragaan di daerah yang kita cintai ini,” jelas Yusliadi.

Mengenai keberadaan Mufran Imron yang belum diketahui hingga kini, Yusliadi mengungkapkan, bahwa Mufran Imron harus dicari sampai dapat. Namun apabila Mufran Imron sulit didapat pemerintah dalam hal ini selaku stakeholder yang menangani hajat organisasi di Provinsi Bengkulu mestinya ikut berperan mencari.

“Dia (Mufran Imron) harus dicari dan harus dapat. Kalau kemudian sulit didapat, ya pemerintah dalam hal ini selaku bidang stakeholder menangani hajat dan pembinaan organisasi-organisasi di Provinsi Bengkulu mustinya harus ikut berperan dimana ini orang. Jadi bukan hanya peran Polda Bengkulu saja yang mencari, karena pemerintah Provinsi Bengkulu adalah pembina dalam proses organisasi KONI,” ungkap Yusliadi.

Yusliadi juga menyayangkan sikap Mufran Imron yang 2 kali mangkir dari panggilan penyidik hingga penetapan tersangka. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Mufran Imron gentelman dan tidak ada tanggungjawab sedikitpun terhadap KONI baik dalam proses keorganisasian KONI maupun pertanggungjawaban hukum.

“Kalau dia (Mufran Imron) memang jagoan dan tanggungjawab dengan uang Rp 11 miliar itu dia datang sendiri ke Polda itu, kalau dia tidak merasa jago tapi dijagokan oleh orang lain itu juga punya potensi, siapa saja yang kemudian berpotensi terlibat di lingkungan dia (Mufran Imron) patut diduga ikut andil dalam ketidakhadiran dia (Mufran Imron) itu dan wajib dipanggil,” jelas Yusliadi.

Yusliadi menegaskan, adanya dugaan korupsi di KONI tersebut sangatlah menciderai semangat dan spirit dalam membenahi prestasi olahraga di Provinsi Bengkulu, karena KONI itu diminta untuk memperbaiki kualitas keolahragaan dan prestasi olahraga Provinsi Bengkulu bukan ladang korupsi.

“Ini sangat menciderai semangat dan spirit kita untuk membenahi prestasi olahraga kita. Ini menjadi preseden buruk, bahwa KONI ini hanya dagelan untuk mencari duit kalau kemudian proses berfikir kita tentang KONI ini tidak mengedepankan spirit profesionalisme penyelegara organisasi,” tukas Yusliadi.

* Mufran Imron masih dicari

Pasca menetapkan Mufran Imron sebagai tersangka dalam dugaan korupsi dana hibah KONI Rp 15 miliar, Direktur Reskrimsus Polda Bengkulu Kombes Pol Dolifar Manurung mengatakan bahwa, saat ini pihaknya masih mencari Mufran Imron.

“Masih kita cari,” kata Dolifar Manurung, Selasa (27/4/2021).

Dolifar Manurung juga menuturkan pihaknya tidak bisa mengungkapkan secara gamblang apakah Mufran Imron masih berada di Bengkulu atau di luar Bengkulu.

“Ya rahasia lah itu,” ucap Dolifar Manurung.

Saat disindir apakan akan menetapkan Mufran Imron masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Dolifar Manurung mengungkapkan, pihaknya masih akan memeriksa saksi-saksi dan akan mengirimkan surat panggilan kepada Mufran Imron untuk dimintai keterangan sebagai tersangka.

“Setelah pemeriksaan saksi-saksi, akan kita lanjutkan dengan mengirimkan surat panggilan kepada yang bersangkutan sebagai tersangka,” tutup Dolifar Manurung. (Bay)